H. Akmal; Seperti Yang Kita Kenal! | Utustoria H. Akmal; Seperti Yang Kita Kenal! – Utustoria

H. Akmal; Seperti Yang Kita Kenal!

915
Spread the love

Photo: H. Akmal

Oleh: Supriadi Lawani*

Utustoria.com– Dalam politik lokal, kita sering kali lebih cepat mengenal label daripada mengenal manusia di baliknya. Namun bagi saya, H. Akmal — yang akrab kami panggil Aji atau Haji Mamang — adalah sosok yang lebih dulu saya kenal sebagai teman diskusi sebelum sebagai politisi.
Ia adalah anggota DPRD Kabupaten Banggai dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan saat ini memimpin PAN Kabupaten Banggai. Tetapi identitas formal itu bukanlah hal pertama yang melekat dalam ingatan saya tentang dirinya.

Mamang lahir dari keluarga yang secara ekonomi berkecukupan di Singkoyo, Toili. Namun latar itu tidak membuatnya berjarak. Sejak muda, pergaulannya luas. Ia tidak memilih teman berdasarkan status sosial atau perbedaan pandangan. Dalam istilah era 1990-an, ia termasuk “anak deker”: mudah bergaul, cair dalam berbagai lingkaran, dan mampu menempatkan diri.

Yang paling saya catat dari dirinya adalah kemampuannya menerima perbedaan. Dalam beberapa momentum politik, kami berada di pilihan yang berseberangan. Perdebatan tidak jarang berlangsung hangat, bahkan dengan nada yang meninggi. Namun setelah itu, semua kembali normal. Kami tetap duduk bersama, makan bersama, dan tertawa bersama.

Bagi H. Akmal, perbedaan bukan ancaman. Perbedaan adalah prasyarat demokrasi. Demokrasi justru lahir dari ruang-ruang yang memberi tempat bagi keberagaman pikiran.

Dalam konteks politik lokal yang sering kali mudah terseret sentimen, sikap semacam ini menjadi penting. Politik bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang merawat ruang bersama agar tetap sehat.

Ketika ia dipercaya menjadi Ketua PAN Kabupaten Banggai, saya melihat ada energi baru yang dihadirkan, terutama dengan komposisi kepengurusan yang banyak diisi anak-anak muda. Langkah itu terasa progresif. Kita teringat pesan Soekarno bahwa bersama pemuda, kita sedang berbicara tentang masa depan.

Tentu perjalanan politik tidak pernah mudah. Namun jika politik dijalankan dengan keterbukaan, kesediaan mendengar, dan penerimaan atas perbedaan, maka setidaknya fondasi demokrasi lokal tidak sedang rapuh.

Pada akhirnya, publiklah yang akan menilai. Tetapi sebagai seseorang yang mengenalnya secara personal, saya percaya satu hal: politik akan selalu membutuhkan lebih banyak orang yang mampu berbeda tanpa bermusuhani.

Luwuk 28/2/2026

*Penulis adalah petani pisang