Puisi sebagai Agitasi: Melawan Netralitas yang Palsu | Utustoria Puisi sebagai Agitasi: Melawan Netralitas yang Palsu – Utustoria

Puisi sebagai Agitasi: Melawan Netralitas yang Palsu

23
Spread the love

Photo: Ilustrasi

Oleh : Supriadi Lawani*

Utustoria.com – Puisi tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu berdiri di suatu sisi entah disadari atau tidak. Di tengah dunia yang timpang, ketika sebagian orang hidup dengan kepastian dan sebagian lain bertahan dari hari ke hari tanpa jaminan apapun, sikap netral dalam puisi bukanlah kebijaksanaan. Ia adalah kemewahan. Bahkan, dalam banyak hal, ia adalah bentuk lain dari kepatuhan.

Kita terlalu lama diajarkan bahwa puisi harus indah, halus, dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Puisi ditempatkan di ruang yang bersih, steril dari konflik, seolah-olah penderitaan tidak layak menjadi bahasa. Seolah-olah kemiskinan terlalu kasar untuk dituliskan. Padahal, di luar sana, kehidupan tidak pernah steril. Ia penuh retakan utang yang menumpuk, pekerjaan yang tak pasti, keluarga yang retak karena tekanan ekonomi, dan masa depan yang kabur.

Saya menyaksikan itu setiap hari.
Saya melihat orang-orang yang harus bercerai bukan karena mereka tidak saling mencintai, tetapi karena utang yang tak tertanggungkan.

Saya melihat keluarga yang terpisah karena tekanan ekonomi yang terus menghimpit. Saya melihat orang-orang yang sejak muda hingga tua hidup dalam keadaan luntang-lantung, bukan karena mereka malas, tetapi karena sistem yang tidak memberi mereka ruang untuk berdiri tegak.

Namun, anehnya, cerita-cerita ini jarang menjadi puisi.

Banyak dari mereka merasa tidak pantas berbicara. Mereka menganggap hidup mereka terlalu biasa, terlalu pahit, terlalu “tidak puitis”. Mereka diam. Dan dalam diam itu, penderitaan menjadi tak terlihat.

Di sinilah puisi harus mengambil posisi sebagaimana telah diajarkan, dengan cara yang berbeda, oleh Vladimir Mayakovsky dan Wiji Thukul, puisi bukan sekadar kata-kata, melainkan agitasi yang memihak.

Puisi bukan hanya soal keindahan bahasa. Ia adalah alat untuk menyatakan apa yang selama ini dipendam. Ia adalah cara untuk memecah keheningan yang menindas.

Puisi, dalam pengertian ini, adalah agitasi, bukan sekadar teriakan kosong, tetapi dorongan untuk berbicara, untuk mengakui, untuk memperlihatkan.

Agitasi bukan berarti marah tanpa arah. Ia adalah keberanian untuk mengatakan, ini hidupku, ini lukaku, ini kenyataanku.

Ketika seseorang menulis
tentang utang yang membuatnya kehilangan rumah,tentang malam-malam tanpa tidur karena dikejar tagihan,tentang perpisahan yang dipaksa oleh keadaan,itu bukan sekadar curhat. Itu adalah tindakan politik. Itu adalah bentuk perlawanan terhadap dunia yang sering memaksa orang miskin untuk diam dan merasa bersalah atas nasibnya sendiri.

Selama ini, kemiskinan sering dibungkus dengan rasa malu. Orang-orang diajarkan untuk menyembunyikannya, seolah-olah itu adalah kegagalan pribadi. Padahal, dalam banyak kasus, kemiskinan adalah hasil dari struktur yang tidak adil, upah yang tidak layak, harga yang terus naik, akses yang terbatas, dan hukum yang sering tidak berpihak.

Ketika puisi memilih untuk diam dari semua itu, ia ikut melanggengkan ilusi bahwa semuanya baik-baik saja.

Karena itu, kita butuh lebih banyak puisi yang “tidak sopan” puisi yang berani menyebut utang, menyebut lapar, menyebut ketakutan, menyebut kegagalan yang bukan kesalahan individu. Kita butuh puisi yang tidak takut terdengar kasar, tidak takut dianggap terlalu langsung, tidak takut kehilangan keindahan yang semu.
Kita butuh puisi yang jujur.

Dan puisi seperti itu tidak harus ditulis oleh penyair besar. Justru, ia harus datang dari mereka yang mengalami langsung kehidupan itu. Dari buruh, dari pengemudi ojek, dari ibu rumah tangga yang memutar uang belanja, dari anak muda yang kehilangan arah karena tidak ada pekerjaan.

Mereka tidak perlu menunggu menjadi “ahli bahasa” untuk menulis.

Cukup tuliskan:
apa yang mereka rasakan,
apa yang mereka alami,
apa yang mereka takutkan,
apa yang mereka harapkan.

Karena pada akhirnya, puisi bukan tentang sempurna atau tidaknya kata-kata. Puisi adalah tentang keberanian untuk bersuara.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.
Ketika satu orang mulai berbicara, yang lain akan merasa tidak sendirian. Ketika banyak orang mulai menulis, penderitaan tidak lagi tersembunyi. Ia menjadi nyata, terlihat, dan yang paling penting tidak bisa lagi diabaikan.

Puisi, dalam bentuk ini, bukan lagi sekadar karya sastra. Ia menjadi ruang bersama. Tempat orang-orang yang selama ini dibungkam bisa saling menemukan.
Maka, melawan netralitas yang palsu bukan hanya tugas penyair. Itu adalah tugas siapa pun yang pernah merasa hidupnya tidak adil.

Tulislah puisi di Facebook mu, Instagram mu atau tiktok mu;

Tentang utangmu.
Tentang lelahmu.
Tentang perpisahan yang kau tanggung.
Tentang hari-hari tanpa kepastian.

Karena dalam dunia yang sudah terlalu lama berpihak kepada yang kuat,
suara sekecil apa pun yang jujur
adalah bentuk perlawanan.

Luwuk 25/4/2026

*Penulis adalah petani pisang




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *