
Photo: Supriadi Lawani
Oleh: Supriadi Lawani *
Utustoria.com – Penjilat secara harfiah adalah tindakan seseorang menjulurkan lidah dan menjilati sesuatu.
Namun dalam tulisan singkat kali ini yang saya maksud sebagai penjilat adalah sebuah istilah yang merujuk pada perilaku seseorang yang cenderung mencari keuntungan pribadi dengan cara memuji, mengikuti, atau mendukung seseorang yang memiliki kekuasaan, pengaruh, atau otoritas tertentu, tanpa dasar yang tulus. Dalam konteks sejarah, perilaku semacam ini sering terlihat dalam berbagai masyarakat dan sistem politik, di mana individu menggunakan pendekatan ini untuk mendapatkan keuntungan ekonomi,kedudukan, keamanan, atau keuntungan pribadi yang lain.
Penjilat memiliki sejarah panjang dalam sejarah kehidupan sosial kemasyarakatan. Di zaman Yunani Kuno, ada orang-orang yang disebut “sycophants” yang dianggap sebagai penjilat yang selalu mengakui atau memuja orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Di China, ada istilah “xiehouyu” yang merujuk pada orang-orang yang selalu mengakui atau memuja orang lain dengan tujuan yang sama.
Filsuf Yunani kuno Plato dalam karyanya Republik menggambarkan bahwa penjilat, terutama yang berada di sekitar penguasa tiran, sering menyebabkan kehancuran negara karena memberikan informasi palsu atau hanya menyenangkan penguasa demi keuntungan pribadi.
Aristoteles dalam Etika Nikomachean mengatakan penjilatan sebagai bentuk hubungan sosial yang tidak tulus. Ia menyebut penjilat sebagai kolax (bahasa Yunani untuk penjilat) yang memuji orang lain untuk keuntungan pribadi, dan menganggap mereka sebagai contoh hubungan yang tidak bermoral.
Penjilat Sebagai Fenomena Sosial
Fenomena penjilat jika ditinjau dari teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh pemikir seperti George Herbert Mead dan Erving Goffman dapat dianalisis sebagai proses interaksi sosial yang menekankan makna simbolik, peran sosial, dan manajemen impresi.
Interaksionisme simbolik memandang bahwa individu berperilaku berdasarkan makna simbolik yang mereka berikan pada situasi, tindakan, dan interaksi.
Perilaku menjilat muncul ketika individu memberikan makna tertentu terhadap kekuasaan, jabatan, atau status seseorang. Misalnya, mereka melihat atasan sebagai simbol akses ke keuntungan material atau sosial, sehingga perilaku “menyenangkan” atasan dianggap strategis. Sebagai contoh misalnya seseorang penjilat akan memberikan pujian berlebihan atau tindakan tunduk lainnya sering dianggap sebagai cara untuk memperkuat relasi yang menguntungkan.
Erving Goffman dalam teori dramaturgi menjelaskan bahwa kehidupan sosial ibarat sebuah panggung drama, di mana individu memainkan peran sesuai dengan situasi dan audiens yang dihadapi.
Jika teori ini kita hubungkan dengan penjilat maka dapat dipahami sebagai upaya individu dalam melakukan manajemen impresi (impression management). Fenomena ini akan melahirkan dua sikap, yang pertama apa yang diistilahkan dengan Front stage, yaitu Individu menampilkan perilaku yang sesuai dengan harapan pihak berkuasa, seperti memberikan sanjungan, bersikap loyal berlebihan, atau menyembunyikan pendapat sebenarnya. Yang kedua apa yang diistilahkan sebagai Back stage, yaitu seseorang penjilat ketika berada di luar pengawasan pihak berkuasa, individu mungkin memiliki sikap atau pendapat yang berbeda.
Selanjutnya ilmuan sosial seperti George Herbert Mead berpendapat bahwa individu mengembangkan “self” (diri) melalui proses interaksi sosial dan “role-taking” (memahami peran orang lain).
Dengan teori ini seorang penjilat akan berusaha memahami harapan, keinginan, atau persepsi pihak yang memiliki kekuasaan (role-taking) dan menyesuaikan perilakunya agar sesuai dengan ekspektasi tersebut.
Sebagai contoh misalnya seorang bawahan mempelajari apa yang disukai atasannya dan berusaha memerankan peran “bawahan ideal” sesuai ekspektasi atasan.
Berikutnya apa yang disebut sebagai simbol dan bahasa dalam perilaku penjilat. Interaksi dalam teori ini bergantung pada simbol dan bahasa untuk menciptakan makna.
Pujian, sikap tunduk, atau ekspresi berlebihan adalah simbol yang digunakan penjilat untuk menyampaikan niatnya.
Penjilat menggunakan simbol-simbol tertentu (seperti bahasa tubuh tunduk, kata-kata pujian, atau perilaku patuh) sebagai bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk membangun citra positif di hadapan pihak berkuasa.
Dalam keseharian sebagai contoh misalnya seorang penjilat akan menyapa atasan dengan gelar kehormatan tertentu seperti panggilan Haji misalnya atau memberikan penghargaan kecil sebagai simbol penghormatan.
Dari perspektif teori interaksionisme simbolik, fenomena penjilat adalah proses sosial yang melibatkan makna simbolik, peran sosial, dan manajemen impresi. Penjilat berusaha menampilkan citra tertentu di hadapan pihak berkuasa dengan harapan memperoleh keuntungan atau pengakuan. Proses ini terjadi melalui pemaknaan simbol, peran yang dimainkan dalam interaksi, serta upaya menjaga impresi yang menguntungkan.
Penutup
Fenomena penjilat dalam kehidupan sosial memiliki berbagai dampak negatif yang dapat memengaruhi individu, kelompok, maupun struktur masyarakat secara luas.
Perilaku penjilat menciptakan lingkungan yang penuh dengan ketidakjujuran dan kepura-puraan. Orang lebih fokus membangun citra baik di hadapan pihak berkuasa daripada menunjukkan kejujuran atau kritik yang membangun.
Akibat yang ditimbulkannya adalah kepercayaan antarindividu dan kelompok rusak, karena motif di balik tindakan seseorang tidak lagi murni atau tulus.
Dalam masyarakat atau organisasi, perilaku penjilat dapat menghambat suara kritis yang sebenarnya penting untuk perbaikan. Penjilat cenderung menutupi kesalahan pihak yang berkuasa dan memojokkan individu yang berani memberikan masukan atau kritik.
Akibatnya kehidupan sosial kita atau lingkungan kita menjadi stagnan dan tidak ada perkembangan karena perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman.
Penjilat juga sering mendapat keuntungan seperti jabatan, perlakuan khusus, atau akses ke sumber daya tertentu, bukan karena kompetensi atau kualitas, tetapi karena kepatuhan atau sanjungan berlebihan.
Fakta ini juga akan berakibat Meritokrasi (sistem yang menilai individu berdasarkan prestasi) tergantikan oleh favoritisme dan nepotisme, sehingga muncul ketidakadilan dikarenakan hilangnya profesionalitas.
Demikian juga lingkungan yang dipenuhi penjilat cenderung bersifat tertutup dan anti-perubahan. Penjilat hanya mempromosikan ide-ide yang disukai pihak yang berkuasa, meskipun ide tersebut kurang efektif atau tidak inovatif.
Tindakan ini mengakibatkan kreativitas dan inovasi terhambat karena orang lebih takut “tidak disukai” daripada memberikan ide-ide segar yang berisiko.
Pemimpin yang dikelilingi oleh penjilat akan sulit mendapatkan masukan yang jujur dan objektif. Mereka hanya mendengar pujian dan informasi yang menyenangkan.
Situasi seperti ini akan menyebabkan pemimpin cenderung merasa “selalu benar” dan menjadi “otoriter”. Kebijakan yang dihasilkan pun cenderung tidak efektif atau bahkan merugikan masyarakat luas.
Di lingkungan sosial atau masyarakat, perilaku penjilat membuat individu yang bekerja keras dan berintegritas akan merasa tidak dihargai.
Sehingga motivasi kerja menurun karena keberhasilan seseorang lebih ditentukan oleh sikap menjilat daripada usaha atau kompetensi yang sebenarnya.
Penjilat berperilaku berdasarkan kepentingan pribadi dengan cara memanipulasi situasi demi keuntungan tertentu. Keadaan seperti ini membuat lingkungan sosial dipenuhi kemunafikan, di mana tindakan dan ucapan seseorang tidak lagi tulus.
Akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa Fenomena penjilat membawa dampak serius dalam kehidupan sosial karena merusak kepercayaan, menciptakan ketidakadilan, menekan kebebasan berpendapat, dan menghambat perkembangan individu maupun kelompok. Saat ini perilaku penjilat sepertinya telah menjadi pola umum dan mengakar serta membentuk budaya sosial yang tidak sehat, dan bagi saya ini merugikan kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk membangun sistem yang lebih transparan, meritokratis, dan menghargai integritas dalam setiap aspek kehidupan sosial.
Luwuk 17 Desember 2024
*Penulis adalah petani pisang



