Burung Hantu Melawan Mitos: JOB Tomori Lakukan Inovasi Pertanian Berkelanjutan di Banggai | Utustoria Burung Hantu Melawan Mitos: JOB Tomori Lakukan Inovasi Pertanian Berkelanjutan di Banggai – Utustoria

Burung Hantu Melawan Mitos: JOB Tomori Lakukan Inovasi Pertanian Berkelanjutan di Banggai

365
Spread the love

Photo: Istimewa

Utustoria.com, Banggai – Menjadikan burung hantu (Serak Sulawesi) sebagai bagian dari ekosistem pengendali hama tikus di sawah warga bukanlah tugas yang mudah.

Tantangan terbesar datang dari keyakinan masyarakat yang masih dipengaruhi oleh mitos. Di Desa Sumber Harjo, burung hantu awalnya dianggap sebagai burung pembawa malapetaka atau bahkan disebut sebagai “burung kematian.”

Hal ini disampaikan oleh Baron, Kepala Desa Sumber Harjo, yang mengenang awal mula kehadiran JOB Tomori di desanya pada tahun 2018.

“Banyak warga yang takut dan menolak. Burung hantu itu dianggap pertanda buruk. Jadi ketika mereka datang dengan ide ini, kami butuh waktu untuk memahami,” ujarnya.

JOB Tomori memulai langkahnya dengan pendekatan persuasif, memberikan pendampingan dan edukasi yang intensif kepada warga. Mereka menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dengan menggunakan metode alami untuk mengendalikan hama.

Burung hantu, dengan kemampuannya memangsa tikus, dianggap sebagai solusi yang ramah lingkungan dan aman.Langkah ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya angka kematian warga yang menggunakan jebakan listrik untuk mengusir tikus. Dalam satu tahun, tercatat 7-8 warga meninggal akibat tersengat listrik.

Melihat bahaya tersebut, JOB Tomori memperkenalkan program budidaya burung hantu untuk menggantikan cara-cara berbahaya itu.Perlahan tapi pasti, masyarakat mulai menerima kehadiran burung hantu di sawah mereka. Selain mampu mengendalikan populasi tikus secara efektif, burung hantu juga membawa perubahan positif dalam kehidupan warga.

Salah satu warga, Anggoro, mengungkapkan rasa syukurnya atas program ini. “Awalnya saya takut karena percaya mitos. Tapi setelah melihat hasilnya, saya jadi yakin. Sekarang sawah menjadi bebas tikus, dan saya tidak perlu khawatir dengan penggunaan strum listrik lagi,” tuturnya. (10/12)

Anggoro menambahkan bahwa keberadaan burung hantu tidak hanya membantu mengurangi ancaman hama, tetapi juga mengurangi biaya yang harus dikeluarkan petani. Sebelumnya, mereka mengandalkan pestisida atau perangkap mahal untuk mengusir tikus.

Dengan adanya burung hantu, hasil panen mereka lebih terjaga tanpa tambahan biaya besar.Program ini juga memberikan dampak positif pada lingkungan sekitar. Dengan tidak adanya penggunaan pestisida dan jebakan listrik, ekosistem di desa tetap terjaga. Bahkan, masyarakat mulai melihat burung hantu sebagai “penjaga sawah” alih-alih pembawa kematian.“

Burung hantu bukan lagi sesuatu yang ditakuti, tetapi menjadi bagian dari hidup kami. Sekarang, mereka adalah teman petani,” ungkap Baron.

Keberhasilan ini mendorong JOB Tomori untuk memperluas programnya ke desa-desa lain di wilayah Banggai. Langkah ini membuktikan bahwa inovasi sosial yang sederhana, jika dilakukan dengan pendekatan yang baik, dapat membawa perubahan besar.

Kini, burung hantu bukan tidak lagi menjadi burung yang menakutkan seperti mitos yang berkembang, tetapi menjadi simbol keberlanjutan dan harmoni antara manusia dan alam.

Desa Sumber Harjo telah menunjukkan bagaimana sebuah komunitas dapat berubah ketika mereka diberi kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama.

Tidak sekedar areal pertanian, lokasi persawahan Desa Sumber Harjo kini turut menjadi salah satu pilihan warga Banggai untuk melakukan destinasi wisata berbasis Agroekowisata. (Red)