Perang Dan Perubahan Iklim - Utustoria Perang Dan Perubahan Iklim - Utustoria

Perang Dan Perubahan Iklim

169
Spread the love

Photo: Eko Sulistyo

Penulis: Eko Sulistyo

Perang Rusia di Ukraina, telah memasuki bulan kedua, dan menimbulkan banyak korban manusia, seperti luput dari perhatian internasional terhadap dampak lingkungan yang diakibatkannya. Lazimnya sebuah perang, perang Rusia di Ukraina tidak pernah peduli pada manusia dan bumi ini. Mesin-mesin perang sebagai produk sains dan kecerdasan manusia modern, seolah berlomba menjadi alat pemusnah satu sama lain.

Sebenarnya perang telah menciptakan kerusakan yang lebih dasyat dari jatuhnya korban dan materi. Seperti perang di Ukraina, peran yang dimainkan perdagangan bahan bakar fosil Rusia telah mendorong perubahan iklim meningkat. Seperti ditulis The New York Times, 16 Maret 2022, perang di Ukraina adalah “perang bahan bakar fosil” yang bisa menghancurkan peradaban.

Perang itu telah membentuk politik ketergantungan bahan bakar fosil dan melumpuhkan upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Rusia adalah salah satu produsen bahan bakar fosil terbesar di dunia, bersama China dan Amerika Serikat (AS). Pendapatannya bergantung pada perdagangan energinya, yang menyumbang hampir setengah ekspornya dan 28 persen dari anggaran federalnya pada 2020.

Bukan rahasia lagi, Eropa, tetangga dalam konflik Rusia-Ukraina, bergantung pada Rusia untuk sekitar sepertiga minyaknya dan 40 persen gas alamnya. Tidak heran, untuk menjaga pasokan energinya, Eropa mengecualikan sanksi embargo minyak dan gas Rusia, seperti yang diserukan sekutunya AS. Perang telah meningkatkan ekstraksi dan pembakaran bahan bakar fosil, pemanasan global, dan dampak yang perlu diadaptasi.

Jejak Karbon Perang

Beberapa hari pasca invasi Rusia, dunia dikejutkan laporan ilmiah badan panel antar pemerintah (IPCC) yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang pemanasan global yang meningkat melampaui adaptasi. Laporan juga menunjukkan kegagalan peran para pemimpin global beradaptasi dengan perubahan iklim. Pernyataan “Delay means death” dari Sekretaris Jendaeral PBB Antonio Guterres, saat menanggapi laporan itu, menjadi judul berita yang kemudian banyak dikutip media internasional (Reuters, 1 Maret 2022).

Laporan PBB itu untuk mengingatkan dunia agar juga fokus pada dampak perang bagi masa depan umat manusia dan kelangsungan bumi. Aktifitas yang terkait dengan militer dan perang berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim. Para ilmuwan yang tergabung dalam Scientists for Global Responsibility (SGR), memperkirakan ada sekitar 6 persen GRK global dihasilkan dari aktifitas yang berhubungan dengan militer.

Parkinson (2020), dalam studinya, The Environmental Impacts of the UK Military Sector, memperkirakan angka itu mencakup seluruh siklus berupa ekstraksi bahan mentah dan pembuatan persenjataan, uji coba dan pelatihan, pemeliharaan sejumlah pangkalan dan bangunan di seluruh dunia. Termasuk penggunaan bahan bakar dan peledak, serta kebakaran yang diakibatkannya. Kemudian yang sering diabaikan adalah pembangunan kembali infrastruktur yang hancur dengan ketergantungan pada semen dan baja yang intensif karbon.

Herannya, dalam agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang iklim, mulai Protokol Kyoto (1997), COP-25 (2015) dan COP-26 (2021), emisi terkait dengan militer tidak pernah menjadi kewajiban negara untuk memasukkannya dalam target pengurangan. Sepertinya, banyak negara berlindung dalam angka parsial. Misalnya angka untuk pesawat militer bersembunyi dibawah “aviasi”, industri teknologi militer dibawah “industri” dan pangkalan militer dibawah “gedung publik.”

Bukan hanya publik yang tidak sadar, tetapi banyak pembuat kebijakan dan peneliti juga tidak menyadarinya. Sebuah laporan yang dikutip The Guardian, 11 November 2021, memperkirakan jejak karbon militer Uni Eropa pada 2019 mencapai 24,8 juta ton CO2e. Sedangkan AS mengatakan militernya mengeluarkan 56 juta ton CO2e, meski angka ini diragukan para peneliti di SGR yang harusnya lebih dari 205 juta ton CO2e.

Sementara Kemeterian Pertahanan Inggris mencatatkan total jejak karbon tahunan militernya sebesar 3 juta ton CO2e, tetapi para peneliti memperkirakan angka sebenarnya adalah 11 juta ton CO2e. Dalam laporan ini masih banyak negara yang tidak secara khusus melaporkan data karbon militernya. Namun dari angka-angka yang dilaporkan, jejak karbon militer AS adalah sumber terbesar emisi GRK di dunia.

Jejak karbon militer ini belum termasuk dampak lingkungan dari perang yang jauh lebih cepat daripada GRK yang menghangatkan atmosfer. Seperti polusi sebagai dampak pengeboman, langsung dirasakan oleh orang-orang yang terjebak dalam zona konflik. Orang-orang seperti di Vietnam, Afganistan dan Irak, banyak terkena kanker akibat polusi oleh bom dan lubang pembakaran terbuka yang digunakan tentara saat perang untuk membuang limbah.

Risiko Konflik

Krisis iklim telah dicap sebagai ancaman terhadap keamanan global, seperti ditulis Daniel Yergin (2020) dalam buku terbarunya, The New Map: Energy, Climate, and The Clash of Nations. Namun mengakhiri perang dan mengamankan perdamaian adalah cara paling pasti untuk melindungi diri kita dan bumi ini. Sementara perubahan iklim adalah pengganda ancaman yang dapat memperbesar risiko biofisika dan geopolitik terhadap masalah yang sudah dihadapi dunia saat ini.

Perubahan iklim, degradasi lingkungan dan ekologi, dapat memicu persaingan untuk sumber daya, kesulitan ekonomi, dan ketidakpuasan sosial. Bahaya iklim seperti cuaca ekstrem, suhu yang lebih tinggi, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, badai, kenaikan permukaan laut, degradasi tanah, dan pengasaman lahan hutan, mengancam infrastruktur, kesehatan, dan ketahanan air dan pangan. Keadaan ini dapat meningkatkan risiko konflik.

Perang saudara di Sudan dianggap contoh pertama konflik modern yang disebabkan perubahan iklim. Kelaparan akibat penggurunan dan berkurangnya curah hujan oleh kenaikan suhu dengan kerawanan pangan dan air, mengakibatkan pemberontakan yang ditanggapi pemerintah Sudan dengan kekerasan. Sementara para peneliti di Universitas California, Berkely, dalam Proceeding of the National Academy of Sciences (2009), memperkirakan efek kenaikan suhu akibat pemanasan global akan meningkatkan perang saudara di Afrika meningkat 55 persen pada 2030.

Perubahan iklim telah menyebabkan suhu global meningkat, yang bisa menyebabkan peningkatan ancaman jumlah konflik di seluruh dunia. Namun iklim saja belum terbukti meningkatkan kemungkinan perselisihan. Tetapi perubahan iklim yang diperparah dengan kondisi ekonomi, politik, dan sosial, dapat meningkatkan risiko konflik dan geopolitik.

Kini perang Rusia di Ukraina, yang dibarengi dengan krisis energi global, memiliki dampak ganda bagi kelangsungan manusia dan masa depan bumi. Peningkatan jumlah konsumsi bahan bakar fosil untuk aktifitas militer dalam perang berkonstribusi terhadap pemanasan global, dan dampak kerusakan ekologi dari perang itu sendiri. Saatnya, para pemimpin dunia dan masyarakat internasional mengupayakan penyelesaian damai perang ini demi mencegah lebih banyak korban dan kerusakan planet ini.


Penulis adalah Komisaris PT PLN (Persero).
Sumber : KONTAN, 26/4/2022.