Marxisme Eksistensial menurut Sartre adalah melanjutkan totalisasi melalui subjektivitas individu termasuk kebebasan dan kesenangan individu di dalamnya.
Ketika anak-anak dan remaja membunyikan petasan, yang ada dalam hasrat mereka adalah kesenangan subjektif tanpa dihantui oleh rasa takut bilamana petasan itu mengenai atau melukai tubuh mereka, ataupun ketika petasan itu mengenai orang lain atau meledak di depan rumah orang lain walaupun daya ledaknya rendah atau ketika ada razia polisi yang hendak menyita petasan itu.
Sebenarnya, selain menumbuhkan kesenangan subjektif, hampir sebagian besar anak-anak dan remaja memiliki pilihan rasional dalam memilih jenis-jenis petasan yang daya ledaknya tidak terlalu tinggi dan tidak sampai menimbulkan dampak yang besar, yang bertujuan untuk mendukung praktik Marxisme Eksistensial : kesenangan subjektif di mana ketika mereka berhasil mengaktualisasikannya, mereka menang melawan rasa takut yang diproduksi oleh norma-norma sosial yang menegasikan budaya membunyikan petasan.
Ketika ada produsen petasan yang menjadi korban ledakan petasan, ada anak-anak dan remaja yang terkena ledakan petasan dan menimbulkan luka, dan orang lain yang terkena dampak ledakan dari petasan, seharusnya yang kemudian menjadi pertanyaan dan wacana berkelanjutan : apakah perlu sertifikasi profesionalitas dalam memproduksi petasan yang memenuhi standar keamanan? Adakah batasan usia dalam memainkan petasan? Pada momen seperti apa petasan boleh dibunyikan? Di tempat yang seperti apa petasan boleh dibunyikan? Berapa komposisi bahan-bahan kimiawi yang diperbolehkan dalam memproduksi petasan?
Pertanyaan kritis seperti itu harus menjadi perhatian bersama mengingat narasi sejarah petasan tidak bisa dihapus secara total oleh norma hukum. Dan, narasi sejarah itu akan terus diinterpretasikan oleh generasi-generasi mendatang dengan aktualisasi perilaku yang berbeda-beda, khususnya praktik Marxisme Eksistensial.



