Covid - 19 "Mengamuk" Standar Hidup Menurun - Utustoria Covid - 19 "Mengamuk" Standar Hidup Menurun - Utustoria

Covid – 19 “Mengamuk” Standar Hidup Menurun

591
Spread the love

Photo: Ilustrasi, Virus Covid – 19

Utustoria.com, Banggai . Kasus terkonfirmasi covid 19 di Banggai terus melonjak. Sebagaimana dilansir dalam laporan Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Banggai per tanggal 08 Agustus 2021 kasus konfirmasi sebanyak 4.413 orang terdiri dari 137 kasus baru yang mana 12 orang di rawat di rumah sakit umum daerah luwuk, 2 orang dirawat di rumah sakit darurat covid, 2 meninggal,121 isolasi mandiri dan 1358 kasus Lama dengan rincian 64 orang dirawat di rumah sakit umum daerah luwuk, 47 orang dirawat di rumah sakit darurat covid dan 1.247 orang isolasi mandiri, sebanyak 2.750 orang Sembuh dan 168 orang meninggal.

Dengan kasus yang terus bertambah meskipun ada penolakan dari beberapa elemen masyarakat bukan tidak mungkin Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masayarakat (PPKM) akan terus dilanjutkan dan dapat dipastikan akan berdampak kesektor informal. Pukulan telak akan menimpa sektor informal non-daring, mulai dari kafe, restoran, warung makan, tempat karauke hingga tempat pijit. Sama kita ketahui bahwa usaha kecil tersebut bertumpu pada interaksi fisik yang bertentangan dengan aturan PPKM.

Usaha – usaha kecil tersebut juga mempekerjakan buruh-buruh informal seperti pelayan dan juru masak yang dapat dipastikan dengan menurunya omset akibat PPKM terpaksa harus dirumahkan tanpa jaminan apapun, namun bukan hanya itu pekerja seni di kafe-kafe juga dipaksa “libur” karena larangan interaksi fisik yang berlebihan.

Seperti yang diceritakan salasatu pengelola kafe dibilangan Toili yang mengatakan bahwa selama PPKM omsetnya turun sampai 75% bahkan untuk membayar tagihan listrik saja kewalahan.
“Susah mas, waktu Pandemi begini dengan PPKM omset turun sekali sampai 75%, hanya klop ini bayar listrik dan kasih karyawan” terangnya.

Demikian juga dikatakan Ira yang bekerja di salasatu Kafe di kota Luwuk, bagaimana dia harus kehilangan pendapatan saat PPKM dan harus menumpang hidup kepada keluarga.
“saya satu bulan ini belum ada penghasilan, bos kaffe kurang omset, torang istirahat dulu, saya juga mengerti situasi lagi susah begini, untuk hari – hari ini numpang dulu sama keluarga” ungkapnya.

Situasi Pandemi memang serbah salah, pelaku usaha mau tidak mau harus memotong biaya agar bisa bertahan yang salasatunya adalah dengan merumahkan pekerja agar dapat menutupi tagihan listrik,air dan kredit bank demikian dikatakan Kipli salasatu pemerhati usaha kecil di kabupaten Banggai.

“Tidak ada cara lain selain mengistirahatkan pekerja untuk dapat mensiasati usaha agar bisa survive, bayar tagihan air, Listrik dan Kredit Bank itu tidak bisa ditawar tawar’’, jelasnya.
Lebih jauh Kipli menjelaskan bahwa dengan situasi seperti ini maka standar hidup di kabupaten Banggai akan menurun dan ini sangat memprihatinkan. Red