
Photo: Kartini Akbar
Oleh: Supriadi Lawani
Utustoria.com – Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap dipenuhi janji kosong dan manuver elite, muncul sosok Kartini Akbar sebagai penanda harapan: politisi perempuan yang tidak canggung berjalan di lorong-lorong sempit kampung, tidak ragu duduk di tikar rumah warga, dan tidak risih mendengarkan langsung keluhan rakyat kecil.
Ia bukan tipe pemimpin yang hanya muncul saat pemilu, melainkan hadir secara nyata dan konsisten—menyatu dengan kehidupan wong cilik, mendengarkan denyut kebatinannya, dan ikut merasakan kerasnya perjuangan hidup sehari-hari.
Kartini Akbar menghayati secara mendalam pesan Ibu Megawati Soekarnoputri tentang arti penting turun ke bawah. Baginya, politik bukan ruang elitis, tetapi ladang pengabdian. Dengan menyentuh langsung kehidupan rakyat, ia memahami bahwa kebijakan yang benar tidak lahir dari ruangan ber-AC di gedung tinggi, tetapi dari obrolan di beranda rumah, dari suara-suara lirih perempuan yang mengatur dapur dengan keterbatasan, dari keresahan anak muda yang ingin berbuat tapi tak diberi ruang.
Kartini hadir bukan sekadar membawa nama besar atau panggung, tapi membawa empati. Ia memahami betul bahwa perempuan—terutama di lapisan bawah masyarakat—adalah kelompok yang paling terdampak oleh ketimpangan ekonomi dan sosial. Ia menyaksikan sendiri bagaimana perempuan sering kali bekerja paling keras, namun mendapat pengakuan paling sedikit.
Maka, perjuangannya tidak hanya menyentuh aspek formal kesetaraan gender, tapi juga menghadirkan akses konkret: pendampingan usaha kecil perempuan, penguatan kelompok ibu, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan anak, hingga pelatihan kepemimpinan politik perempuan di akar rumput.
Tak kalah penting, Kartini menaruh perhatian besar pada anak muda. Ia menolak pandangan bahwa pemuda adalah generasi yang apatis atau “belum waktunya”. Justru sebaliknya, ia membuka ruang partisipasi, mendorong pendidikan politik yang membebaskan, serta merangkul komunitas kreatif, pegiat lingkungan, dan penggerak desa. Ia percaya, anak muda harus ditempatkan bukan sekadar sebagai objek sosialisasi program, tapi sebagai pelaku perubahan yang punya suara dan kuasa.
Dalam diri Kartini Akbar, kita melihat wajah politik yang segar dan membumi. Ia menunjukkan bahwa keberpihakan pada wong cilik bukan hanya retorika, tapi sikap hidup. Bahwa memperjuangkan perempuan bukan soal simbolisme, tapi kerja nyata. Dan bahwa memberi tempat bagi anak muda bukan sekadar kampanye digital, tapi komitmen membangun masa depan bersama.
Di saat banyak politisi sibuk membangun citra, Kartini justru membangun jembatan antara rakyat dan harapan. Ia membuktikan bahwa menjadi Srikandi Demokrasi bukan berarti tampil anggun di podium, tetapi berani berjalan di jalan rakyat yang sering kali terjal dan penuh tantangan.
Jika demokrasi hendak diselamatkan dari kekeringan makna, maka kita butuh lebih banyak Kartini-Kartini seperti dia—yang tidak takut kotor, tidak takut jujur, dan tidak pernah lupa bahwa kekuasaan sejatinya adalah mandat rakyat yang harus dijaga dengan hati dan keberanian.
Luwuk, 27 Mei 2025
Penulis adalah petani pisang



