JOB Tomori dan Ikhtiar Merawat Jurnalisme di Tengah Arus Disrupsi | Utustoria JOB Tomori dan Ikhtiar Merawat Jurnalisme di Tengah Arus Disrupsi – Utustoria

JOB Tomori dan Ikhtiar Merawat Jurnalisme di Tengah Arus Disrupsi

35
Spread the love

photo: Istimewa

Utustoria.com, Semarang – Di sebuah ruang pertemuan di Semarang, percakapan tentang jurnalisme tidak lagi sekadar soal berita—melainkan tentang bagaimana menjaga makna di tengah derasnya arus informasi.

Melalui kegiatan Edukasi Eksternal dan Media Gathering yang digelar pada 1–2 April 2026, SKK Migas bersama Joint Operating Body Pertamina–Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan jurnalis daerah dengan para pemangku kepentingan nasional.

Di forum itu, sejumlah tokoh penting hadir berbagi perspektif. Dari Dewan Pers, Rosarita Niken W menegaskan pentingnya kolaborasi antara industri dan media dalam menjaga keberlangsungan informasi yang berkualitas. Sementara Direktur Utama LKBN Antara, Benny Siga Butarbutar, mengingatkan ancaman disrupsi media yang kian nyata, terutama dengan maraknya platform digital tanpa standar jurnalistik yang jelas.

Kegiatan ini juga menghadirkan Audrey Progastama P dari PERHUMAS yang menyoroti pentingnya sinergi antara media dan komunikasi publik dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Dari internal SKK Migas, hadir Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Kalimantan–Sulawesi, Wisnu Wardhana, bersama jajaran yang menegaskan komitmen menjaga hubungan strategis dengan media sebagai mitra informasi publik.

Sementara dari JOB Tomori, Business Support Senior Manager Agus Sudaryanto menekankan bahwa forum ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi bagian dari upaya membangun komunikasi terbuka dan berkelanjutan dengan insan pers.

Di sisi lain, Relations, Security & Comdev Manager JOB Tomori, Visnu Cekti Bhawono, melihat media sebagai jembatan penting antara industri energi, pemerintah, dan masyarakat—peran yang kian strategis di tengah kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.

Tak hanya diskusi, para jurnalis juga diajak belajar langsung dari dapur media nasional melalui kunjungan ke Suara Merdeka di Semarang. Di sana, mereka berdialog dengan jajaran redaksi, termasuk Pemimpin Redaksi Agus Toto Widyatmoko, tentang bagaimana media bertahan, beradaptasi, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Bagi para jurnalis daerah, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan luar kota. Ia menjadi ruang refleksi—bahwa di tengah cepatnya informasi bergerak, jurnalisme tetap membutuhkan ketelitian, integritas, dan keberanian untuk menjaga kebenaran.

Dan dari Semarang, satu hal terasa jelas: di balik agenda gathering, ada ikhtiar bersama—merawat jurnalisme agar tetap hidup dan dipercaya. (Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *