
Photo: Ilustrasi
Oleh: Supriadi Lawani*
Utustoria.com – Hari gini, semua berlomba-lomba bikin hidup jadi nyaman. Mau makan tinggal klik, mau ngopi tinggal duduk, mau jodoh tinggal geser. Dunia terasa makin empuk, seperti kasur lateks premium yang dijanjikan bisa bikin tidur kita kayak bayi. Tapi, eh, tunggu dulu. Jangan-jangan kenyamanan yang kita nikmati ini bukan kenyamanan betulan, tapi cuma kenyamanan bohongan. Palsu. Tipuan visual. Kayak mantan yang pura-pura bahagia di Instagram.
Jean Baudrillard, seorang pemikir Prancis yang suka mikir aneh-aneh tapi betul juga, bilang bahwa kita hidup dalam simulasi. Artinya, kita ini lebih sering menikmati tiruan dari kenyamanan, ketimbang kenyamanan itu sendiri. Bukan nyaman betulan, tapi seolah-olah nyaman. Nah bagaimana itu!?
Nyaman yang Asli vs Nyaman yang Disetting
Kita sering dikasih “rasa nyaman” oleh dunia digital—padahal ya itu ya Allah kasian adalah setingan. Contohnya ini, scrolling TikTok sambil ngopi di kafe keren, pakai colokan dan WiFi gratis, merasa hidup ini santai sekali. Tapi, aslinya tagihan menumpuk, deadline kerjaan kayak setan, utang di rentenir nauzubillah dan jiwa sedang sekarat. Tapi karena pencahayaan di kafe hangat dan ada lagu indie yang mendayu, kita merasa… tenang. Padahal ya itu: tenang palsu.
Baudrillard bilang: ini namanya hiperrealitas. Di mana kenyataan jadi nggak jelas lagi mana yang betul, mana yang bohongan. Bahkan sering kali, yang bohongan terasa lebih “nyata” ketimbang yang betulan.
Simulasi Kenyamanan: Dari Kontrakan Sampai Tempat Kerja
Lihat saja kontrakan atau kos-kosan zaman sekarang. Namanya “smart living”, lengkap sama internet Wifi, AC, dapur estetik, dan tanaman plastik yang sengaja ditaruh biar estetik. Tapi begitu hujan, air merembes masuk lewat plafon, wifi ngadat, dan tetangga kos suka karaokean pake lagu jadul dengan speaker 12 inci. Nyaman? Tidak. Tapi fotogenik buat Instagram? Jelas.
Begitu juga di kantor. Bos kasih bean bag, ruang santai, bahkan ruang menyusui. Tapi sistem kerja tetap eksploitatif, cuti susah, dan WhatsApp grup kantor aktif 24 jam. Kita merasa “diperhatikan”, padahal ya sistem tetap rakus. Baudrillard pasti akan senyum getir sambil bilang, “Itu bukan kenyamanan. Itu simulasi kenyamanan.”
Maaf saya tidak tuliskan yang pengangguran karena hidupnya pasti lebih rame ribetnya, lebih nauzubillah pusingnya.
Bahaya Kenyamanan Bohongan
Masalahnya, kenyamanan palsu ini membius. Kita jadi malas gelisah, malas mikir, malas protes. Kita lebih milih baring – baring atau rebahan pakai selimut tebal sambil delivery boba dan kopi gula aren dingin ketimbang mikir kenapa harga rumah makin nggak masuk akal dan lapangan pekerjaan susah sekali.
Dan saat negara menjanjikan “pelayanan publik yang nyaman” sambil tetap bikin antrean BPJS kayak ular naga panjangnya, kita pun tetap maklum—asal ada kipas angin dan bangku empuk.
Inilah bahayanya: kenyamanan palsu bikin kita berdamai dengan ketidakadilan, karena rasa nyaman itu bikin kita nggak pengin repot.
Lawan Kenyamanan Palsu, Walau Sedikit Nggak Nyaman
Baudrillard, si filsuf yang kayaknya tidak pernah baring – baring ini, mengajak kita buat tidak percaya begitu saja pada rasa nyaman. Kita harus curiga: ini nyaman betulan atau cuma efek cahaya, desain interior, dan algoritma?
Mungkin kita harus belajar hidup sedikit tidak nyaman. Tidak masalah kalau rumah kita sederhana, asal bisa ngobrol sama tetangga dan bicara sama kawan. Tidak masalah makan nasi tempe dan daun kelor rebus asal kita tahu sumber pangannya jelas. Yang penting, hidup betulan, bukan sekadar kelihatan hidup.
Karena kadang, kenyamanan palsu itu kayak pelukan dari orang yang tidak sayang: hangat, tapi hampa. Begitu hampa dan kering.
Luwuk 23/6/2025 *Penulis adalah petani pisang

Photo: Supriadi Lawani


