Seni yang Membebaskan: Membaca Adorno di Tengah Dunia yang Bising | Utustoria Seni yang Membebaskan: Membaca Adorno di Tengah Dunia yang Bising – Utustoria

Seni yang Membebaskan: Membaca Adorno di Tengah Dunia yang Bising

987
Spread the love

Photo: Ilustrasi


Oleh: Supriadi Lawani*


Utustoria.com – Di zaman yang serba cepat, serba instan, dan penuh notifikasi, seni sering kali dianggap remeh. Ia dilihat hanya sebagai hiburan, pelipur lara, atau sekadar dekorasi. Kita menonton film sambil mengerjakan pekerjaan kantor, mendengarkan musik sambil scroll media sosial, dan menulis puisi hanya kalau sedang patah hati. Tapi, benarkah seni hanya soal hiburan dan pelarian?

Theodor W. Adorno, seorang filsuf dari Jerman yang hidup di abad ke-20, punya pandangan yang sangat berbeda. Baginya, seni bukan cuma hiburan—seni yang sungguh-sungguh justru bisa menjadi ruang pembebasan. Bukan karena seni menawarkan solusi, tetapi karena seni bisa membuat kita sadar bahwa dunia ini belum seperti seharusnya.

Dunia yang Sibuk, Kesadaran yang Tumpul

Adorno hidup di masa ketika dunia sedang kacau: dua perang dunia, kebangkitan fasisme, dan berkembangnya kapitalisme modern. Ia melihat bahwa masyarakat semakin terjebak dalam cara berpikir yang sempit: segala sesuatu diukur dari seberapa berguna, seberapa efisien, seberapa cepat menghasilkan uang. Adorno menyebut cara pikir ini sebagai “rasionalitas instrumental”—rasional, tapi tanpa jiwa.

Cara pikir seperti itu merembes ke semua aspek kehidupan, termasuk dunia budaya dan seni. Musik, film, dan acara TV diproduksi massal, seragam, dan ditujukan untuk dikonsumsi cepat. Adorno menyebutnya sebagai industri budaya—yakni ketika budaya diperlakukan seperti barang dagangan. Hasilnya? Kita menikmati hiburan, tapi kesadaran kita ditumpulkan. Kita merasa senang, tapi lupa berpikir.

Seni yang Asing, Justru Membuka Mata

Tapi Adorno tidak lantas pesimis. Ia justru percaya bahwa masih ada jenis seni yang bisa melawan arus—yakni seni yang tidak tunduk pada pasar, seni yang tidak dibuat untuk “menyenangkan”, melainkan untuk menggugah. Seni seperti ini sering kali tampil aneh, asing, bahkan tidak nyaman. Musiknya mungkin tidak enak di telinga, lukisannya sulit dimengerti, puisinya gelap dan penuh simbol, vulgar, telanjang bahkan menghina.

Namun justru karena itulah seni semacam ini penting. Ketika seni tidak menyesuaikan diri dengan harapan penonton, ia membuka celah untuk berpikir ulang. Adorno menyebut ini sebagai seni otonom—seni yang bebas dari tuntutan pasar dan fungsi praktis. Dan melalui keasingannya, seni otonom bisa menyampaikan satu pesan penting: dunia ini tidak beres.

Bukan Solusi, Tapi Cermin Retak

Adorno tidak percaya bahwa seni harus “memberi pesan moral” atau solusi instan. Menurutnya, seni yang terlalu jelas justru bisa jatuh ke dalam propaganda. Sebaliknya, seni yang baik adalah seni yang seperti cermin retak—ia menunjukkan kerusakan dunia, tapi tidak memberi jawaban cepat. Ia membuat kita bertanya, merenung, bahkan merasa tidak nyaman.

Ketidaknyamanan itu penting. Di tengah dunia yang terus memanjakan kita dengan kenyamanan, seni yang tidak nyaman mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang salah. Seni membuat kita sadar bahwa dunia tidak harus seperti ini. Ia tidak memberi jawaban, tapi memberi ruang untuk mempertanyakan.

Imajinasi: Gerakan yang Diam tapi Dalam

Lalu, di mana letak pembebasannya? Bagi Adorno, seni membebaskan bukan karena ia mengubah dunia secara langsung, tapi karena ia menjaga imajinasi tetap hidup. Imajinasi adalah kemampuan kita untuk membayangkan bahwa hidup bisa lain, bahwa masyarakat bisa lebih adil, bahwa relasi antar manusia bisa lebih setara. Ketika seni membuat kita merasakan sesuatu yang berbeda, ia membuka pintu bagi kemungkinan baru.

Imajinasi semacam ini tidak selalu heroik atau revolusioner. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sangat halus: dalam bunyi piano yang tidak harmonis, dalam puisi yang tidak puitis, dalam tarian yang tidak teratur, atau dalam film yang membuat kita diam lebih lama setelah menontonnya. Itu semua adalah bentuk-bentuk perlawanan diam, perlawanan terhadap dunia yang serba tergesa dan dangkal.

Seni Hari Ini: Masih Mungkin Membebaskan?

Lalu, bagaimana dengan seni hari ini? Bukankah semua sudah terjebak algoritma? Film dinilai dari rating, musik dari jumlah stream, dan puisi serta karya seni lainnya dari jumlah likes?

Ya, sebagian besar memang begitu. Tapi bukan berarti semua sudah hilang. Masih ada seniman yang berkarya melawan arus. Masih ada galeri kecil, panggung alternatif, komunitas independen, zine eksperimental, ngamen puisi dan ruang-ruang kolektif yang tidak tunduk pada logika pasar. Mereka mungkin tidak viral, tapi mereka menjaga sesuatu yang sangat penting: kebebasan untuk merasa dan berpikir secara berbeda. Masih ada seni atau puisi yang keluar dari mainstream.

Sebagai penikmat seni, kita juga punya peran. Kita bisa memilih untuk melambat, mendengarkan dengan saksama, membaca dengan perasaan, dan memberi ruang bagi pengalaman estetik yang tidak mudah. Itu semua adalah bagian dari latihan menjadi manusia yang lebih utuh—manusia yang tidak hanya bekerja dan membeli, tapi juga merasakan dan membayangkan.

Penutup: Merawat Ruang Sunyi

Dalam dunia yang bising, seni adalah ruang sunyi. Tapi sunyi bukan berarti kosong. Di dalamnya, ada gema dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak selesai. Ada ketegangan, keretakan, dan kemungkinan.

Adorno mengingatkan kita bahwa seni bukan tentang pelarian, tapi tentang menangguhkan dunia sejenak, agar kita bisa melihatnya dengan mata yang lebih jernih. Seni tidak menjanjikan surga, tapi mengingatkan kita bahwa neraka pun seharusnya bisa diubah.

Maka, lain kali kamu merasa aneh saat menonton film yang tidak kamu mengerti, atau mendengarkan musik yang terasa “salah” atau puisi yang keluar dari pakem—jangan buru-buru menolaknya. Mungkin di situlah seni sedang bekerja. Bukan untuk menyenangkanmu, tapi untuk membebaskanmu.

Luwuk, 8/6/2025

*Penulis adalah petani pisang



TAG