Dengan demikian, fenomena penggunaan Bahasa Jaksel ini memang perlahan namun pasti akan menguatkan beberapa aspek sosial, ekonomi bahkan kedudukan jika seseorang terlihat selalu mengucapkan beberapa Bahasa Indonesia yang dicampur dengan Bahasa Inggris, karena seperti yang sudah dijelaskan oleh paragaf di atas bahwa Bahasa merupakan instrument simbolik untuk melegitimasi sebuah kekuasaan dan memberntuk suatu representasi yang juga mengalami perubahan terus-menerus terutama bagaimana Bahasa Jaksel digunakan sebagai identitas seseorang yang berupaya membangun sebuah branding diri supaya terlihat mempunyai kredibilitas dan selalu update ketika bergaul.
Merujuk lebih mendalam, sebenarnya tidak ada yang salah dengan berkembangnya sebuah paradigma baru untuk mempergunakan Bahasa Jaksel sebagai modal simbolis seseorang agar terlihat berpendidikan atau menarik perhatian namun akan menjadi masalah ketika Bahasa tersebut dikonsumsi dan diimplementasikan yang justru menimbulkan misrepresentasi dan mengeksklusi individu atau pun kelompok tertentu.
Hendaknya, sebagai masyarakat yang hidup di era internet inilah kita mampu memilih dan memilah bagaimana kita mengucapkan sebuah kata dan kalimat yang tanpa memarjinalkan kelompok tertentu dan tetap mengedepankan azaz fundamental sesuai dengan norma Bahasa Indonesia dan mengacu pada kebenaran yang absolut terhadap Bahasa itu sendiri tanpa mendeskreditkan makna dibalik Bahasa.



