JOB Tomori Ciptakan Agroekowisata Burung Hantu Sebagai Solusi Inovatif untuk Pertanian Berkelanjutan di Banggai | Utustoria JOB Tomori Ciptakan Agroekowisata Burung Hantu Sebagai Solusi Inovatif untuk Pertanian Berkelanjutan di Banggai – Utustoria

JOB Tomori Ciptakan Agroekowisata Burung Hantu Sebagai Solusi Inovatif untuk Pertanian Berkelanjutan di Banggai

427
Spread the love

Photo: Kepala Desa Sumber Harjo (Istimewa)

Utustoria.com, Banggai – SKK Migas wilayah kerja Kalimantan-Sulawesi bersama JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) menghadirkan sebuah terobosan baru dalam sektor pertanian melalui program Agroekowisata Burung Hantu Panutan Banggai. Program ini, diluncurkan di Desa Sumber Harjo, Kecamatan Moilong, Kabupaten Banggai, bertujuan untuk mendukung pertanian berkelanjutan dengan pendekatan ramah lingkungan.

Inisiatif ini memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami untuk mengatasi hama tikus, masalah yang sering merugikan petani padi. Selain menjadi solusi ekologis, program ini juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan edukasi media yang berlangsung pada Minggu (1/12).

Menurut perwakilan SKK Migas, Ari Pratomo, kehadiran burung hantu mampu memberikan dampak besar dalam meningkatkan produktivitas pertanian. “Burung hantu adalah solusi alami untuk mengendalikan populasi tikus, sehingga petani tidak lagi bergantung pada bahan kimia. Ini tidak hanya lebih hemat, tetapi juga ramah lingkungan,” ungkapnya.

Sementara itu, Agus Sudaryanto, Business Support Senior Manager JOB Tomori, menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam mengimplementasikan program ini. “Mayoritas masyarakat Moilong adalah petani. Kami bekerja sama dengan mereka dan pemerintah desa untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Efisiensi dan Dampak Positif

Program ini berhasil memberikan efisiensi biaya hingga 95,7% dibandingkan metode tradisional berbasis bahan kimia dan kabel listrik yang sebelumnya digunakan untuk mengatasi tikus. Tidak hanya itu, program ini juga mengurangi risiko kecelakaan di area persawahan yang sering terjadi akibat penggunaan listrik untuk membasmi tikus. Sejak metode burung hantu diterapkan, tidak ada lagi laporan kecelakaan listrik di sawah.

Untuk mendukung keberlanjutan, fasilitas rumah karantina dibangun untuk merawat burung hantu yang sakit, memastikan ekosistem predator alami ini tetap terjaga.

Perubahan di Berbagai Aspek Kehidupan Masyarakat

Program ini memberikan dampak signifikan terhadap berbagai jenis modal atau capital yang dimiliki masyarakat, meliputi:

  1. Modal Budaya (Cultural Capital):

Mengubah cara pandang masyarakat terhadap burung hantu, dari sebelumnya dianggap hama menjadi simbol pelindung pertanian.

Serak Sulawesi dijadikan ikon Desa Sumber Harjo, sekaligus memperkuat budaya pelayanan wisata.

  1. Modal Alam (Natural Capital):

Pengelolaan 85 hektar lahan pertanian dengan pemanfaatan sumber daya alam seperti energi angin.

  1. Modal Sosial (Social Capital):

Pembentukan empat kelompok tani organik baru dan satu kelompok pengelola ekowisata.

  1. Modal Individu (Individual Capital):

Sebanyak 122 petani kini memanfaatkan burung hantu, dan 43 petani lainnya telah menguasai teknik pertanian organik.

  1. Modal Infrastruktur (Infrastructure Capital):

Pembangunan 23 rumah silaban (rumah untuk burung hantu), satu pompa air bertenaga angin, dan fasilitas edukasi wisata berbasis lingkungan.

  1. Modal Intelektual (Intellectual Capital):

Sertifikasi pupuk organik dan desain hak cipta, yang memperkuat legalitas produk lokal.

Transformasi Pertanian Menuju Keberlanjutan

Sebelum program ini dijalankan, petani di wilayah ini bergantung pada metode konvensional yang berisiko tinggi, seperti penggunaan bahan kimia dan listrik untuk mengendalikan hama. Metode ini tidak hanya mahal, dengan biaya hingga Rp11.120.000 per hektar per tahun, tetapi juga sering menimbulkan kecelakaan fatal.

Dengan hadirnya burung hantu sebagai solusi alami, sistem ini tidak hanya lebih efisien, tetapi juga membuka peluang baru. Jerami hasil panen yang sebelumnya cenderung dibakar kini dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos, menciptakan tambahan nilai ekonomi. Desa Sumber Harjo juga mulai mengembangkan potensi wisata berbasis ekowisata, memberikan peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat.

Membangun Masa Depan Pertanian yang Berkelanjutan

Agroekowisata Burung Hantu Panutan Banggai bukan sekadar program pengendalian hama, tetapi juga upaya holistik untuk menciptakan keberlanjutan di sektor pertanian. Dengan mengintegrasikan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal, program ini menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain.

Melalui kerja sama yang solid antara SKK Migas, JOB Tomori, dan komunitas lokal, Desa Sumber Harjo kini menjadi contoh sukses bagaimana inovasi sederhana dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat dan lingkungan. (Red)