Pak Guru Sudah Berapa Novel Dibaca? | Utustoria Pak Guru Sudah Berapa Novel Dibaca? – Utustoria

Pak Guru Sudah Berapa Novel Dibaca?

80
Spread the love

Photo: Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani*

Utustoria.com – Isu literasi di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir menjadi tema yang kerap diperbincangkan. Seminar, lomba baca puisi, festival literasi, hingga berbagai program peningkatan minat baca digelar di banyak daerah. Anak-anak usia sekolah menjadi sasaran utama. Poster-poster tentang pentingnya membaca terpampang di dinding sekolah.

Namun suatu hari anak saya bertanya dengan polos, mungkin karena ia segan bertanya langsung kepada gurunya:

“papa, pak guru pernah baca novel tidak?”

Pertanyaan itu terdengar ringan, bahkan sederhana. Tetapi bagi saya, itu pertanyaan yang penting.

Guru adalah garda terdepan literasi. Dari merekalah kebiasaan membaca ditumbuhkan, imajinasi dirawat, dan daya pikir dibentuk. Membaca bukan sekadar aktivitas kognitif—ia juga proses afektif.

Melalui sastra, anak belajar empati, memahami penderitaan, mengenal konflik batin, dan melihat dunia dari sudut pandang orang lain.

Namun bagaimana jika guru sendiri jarang, atau bahkan tidak pernah, membaca karya sastra? Novel, cerpen, puisi—yang justru menjadi ruang latihan empati dan imajinasi itu.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan,
“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian hanya robot berilmu.”

Kalimat ini keras, tetapi mengandung peringatan. Tanpa sastra, kecerdasan bisa menjadi kering. Orang mungkin cakap berhitung, hafal teori, lulus ujian—namun miskin kepekaan.

Filsuf Indonesia Karlina Supelli juga berulang kali menekankan pentingnya membaca karya sastra sebagai bagian dari pembentukan manusia yang utuh. Sains melatih logika, tetapi sastra melatih rasa.

Kembali pada pertanyaan anak saya: apakah pak guru pernah membaca novel?
Saya sendiri tidak berani menanyakan langsung kepada guru tersebut. Karena itu saya memilih menuliskan catatan ini. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk bercermin.

Dalam pengamatan saya, (kebetulan dua kakak saya adalah guru) minat baca, khususnya terhadap karya sastra, memang belum menjadi kebiasaan yang kuat di kalangan guru sekolah dasar maupun menengah. Tentu tidak semua demikian, tetapi fenomena ini cukup terasa. Buku yang dibaca seringkali terbatas pada buku pelajaran atau materi ajar. Sastra jarang disentuh.

Di sinilah ironi itu muncul. Guru disebut sebagai garda terdepan literasi, tetapi sebagian dari mereka sendiri tidak hidup dalam tradisi membaca yang kuat. Kita sibuk mendorong anak-anak membaca, tetapi lupa memastikan bahwa orang dewasa di depan kelas juga menjadi teladan pembaca.

Literasi bukan hanya soal program. Ia soal kultur. Dan kultur membaca tidak bisa ditumbuhkan melalui seremoni semata. Ia lahir dari kebiasaan, dari contoh, dari keteladanan.

Mungkin kita perlu mulai dari pertanyaan sederhana itu:
Pak Guru, sudah berapa novel yang Anda baca tahun ini?

Bukan untuk menghakimi.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa mendidik pembaca, hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang juga pembaca.

Pinggiran Luwuk 11/2/2026

*Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat.