
Photo: Supriadi Lawani
Oleh: Supriadi Lawani*
Utustoria.com – Setiap kali Idul adha datang, umat Islam di seluruh dunia kembali diingatkan pada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ibadah kurban menjadi simbol ketundukan, keikhlasan, dan kepedulian kepada sesama. Namun di balik makna agung itu, realitas hari ini justru menunjukkan gejala pergeseran. Kurban tak jarang berubah menjadi ajang pamer, simbol status sosial, atau bahkan alat politik.
Di tengah fenomena itu, kita perlu menghidupkan kembali semangat kurban yang sejati: berbagi dengan keikhlasan dan kesederhanaan. Salah satu sosok yang dapat menjadi teladan dalam hal ini adalah Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia bukan hanya seorang ulama dan pembaharu, tetapi juga pelaku nyata dari nilai-nilai Islam yang membumi dan membebaskan.
Kesederhanaan yang Menyentuh Akar
Kiai Dahlan dikenal sebagai pribadi yang hidup sangat sederhana. Ia lebih banyak memberikan daripada menerima. Rumahnya terbuka bagi siapa saja, dari santri miskin hingga tamu yang membutuhkan bantuan. Uang dan harta yang ia miliki digunakan untuk membiayai sekolah rakyat, menolong fakir miskin, dan menopang lembaga-lembaga sosial.
Dalam konteks Idul adha, Kiai Dahlan memandang kurban sebagai sarana untuk mendidik jiwa dan memperkuat solidaritas sosial. Kurban bukan soal besar kecilnya hewan, tetapi tentang kemauan untuk memberi dan berbagi. Dalam berbagai kesempatan, beliau menyembelih hewan kurban dan memastikan dagingnya sampai ke tangan mereka yang jarang sekali menikmati daging: para buruh kasar, janda tua, anak-anak yatim, dan masyarakat miskin kota dan desa.
Kurban, bagi Kiai Dahlan, adalah simbol cinta sosial. Bukan ritual kosong, bukan ajang pamer, tetapi bentuk ketundukan kepada Allah yang dibuktikan dengan pelayanan kepada sesama manusia.
Meneladani Rasulullah SAW
Kiai Dahlan sangat tekun meneladani Rasulullah SAW, termasuk dalam hal kurban. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Bahkan ketika beliau memiliki hewan kurban, dagingnya lebih banyak diberikan kepada yang membutuhkan ketimbang dinikmati sendiri.
Salah satu hadits Rasulullah menyatakan: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari raya kurban yang lebih Allah cintai selain dari menyembelih hewan kurban…” (HR. Tirmidzi). Namun, kurban ini bukan sekadar ritual fisik—darah dan daging hewan bukanlah yang sampai kepada Allah—melainkan keikhlasan dan takwa di baliknya (QS. Al-Hajj: 37).
Semangat ini yang dipegang erat oleh Kiai Dahlan. Ia tidak tertarik pada simbolisme luar. Ia lebih peduli pada dampak sosial dari ibadah. Karena itu, dalam sejarah Muhammadiyah, kurban kemudian dikembangkan sebagai gerakan sosial: membagikan daging ke wilayah pelosok, menjangkau komunitas marjinal, dan menjadikan Iduladha sebagai momentum konsolidasi solidaritas umat.
Konteks Sosial Hari Ini
Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial saat ini, makna kurban yang hakiki sering kali tertutupi oleh formalitas. Kita mendapati banyak hewan kurban disembelih di tempat-tempat elite, sementara kaum miskin bahkan tidak tahu bagaimana cara mendapat bagian. Ada yang berkurban sapi jutaan rupiah, tapi tetangganya tidak makan daging setahun sekali pun.
Fenomena ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Kurban bukan soal gengsi, bukan juga transaksi popularitas. Kurban adalah komitmen sosial. Ia adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap sesama, terutama terhadap mereka yang terpinggirkan.
Kiai Dahlan mengajarkan bahwa kesalehan bukan hanya vertikal, tetapi harus horizontal. Ibadah kepada Tuhan harus dibarengi dengan kepedulian kepada manusia. Maka, berkurban adalah ibadah yang paling nyata dalam mengikat hubungan sosial di tengah masyarakat yang terbelah oleh kesenjangan.
Saatnya Menjadi Pelayan Umat
Meneladani Kiai Ahmad Dahlan berarti menjadikan kurban sebagai jalan untuk melayani, bukan untuk dilayani. Menjadi pribadi yang peka terhadap penderitaan sekitar. Bukan soal mampu atau tidak, tetapi soal mau atau tidak. Kiai Dahlan sendiri tidak memiliki kekayaan berlimpah, namun semangat berbagi dan keyakinan sosialnya jauh melampaui banyak orang yang lebih kaya darinya.
Idul adha seharusnya menjadi saat kita merefleksikan: sudahkah kurban kita membawa manfaat bagi yang benar-benar membutuhkan? Sudahkah kita meneladani semangat Ibrahim dan Ismail? Ataukah kita justru terjebak dalam rutinitas tanpa makna?
Kurban adalah ibadah penuh cinta. Dan cinta sejati, sebagaimana ditunjukkan Kiai Ahmad Dahlan, adalah yang memberi tanpa berharap kembali, yang berkorban tanpa mengungkit, yang hadir dalam kesederhanaan, tapi berdampak luar biasa bagi kemanusiaan.
Penulis adalah petani pisang, anggota biasa Persyarikatan Muhammadiyah, sering aktif mendampingi warga dalam kasus-kasus struktural.
Luwuk, 5/6/2025



