Perlindungan Hutan dan Pelestarian Bahasa Daerah | Utustoria Perlindungan Hutan dan Pelestarian Bahasa Daerah – Utustoria

Perlindungan Hutan dan Pelestarian Bahasa Daerah

736
Spread the love

Photo: Supriadi Lawani


Oleh: Supriadi Lawani*

"Jika bahasa daerah hilang, bersama itu juga hilang cara pandang masyarakat lokal terhadap alam dan cara hidup mereka yang selaras dengan lingkungan."

Utustoria.com – Tulisan singkat dan sederhana ini saya susun karena membaca sebuah berita tentang beberapa masyarakat Kecamatan Manto, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, melakukan aksi penutupan jalan karena memprotes masuknya perusahaan batu gamping di kampung kelahirannya.

Kita ketahui bersama bahwa penambangan tentu saja akan membutuhkan wilayah penambangan dan dalam banyak kasus, perusahaan-perusahaan tambang akan masuk ke wilayah hutan.

Kerusakan hutan berdampak besar pada hilangnya kosakata dalam bahasa daerah, terutama di komunitas yang secara historis kehidupannya bergantung pada hutan untuk kehidupan sehari-hari. Dan Kecamatan Manto adalah salah satu dari enam kecamatan yang masyarakatnya menggunakan atau menuturkan bahasa Balantak dalam kehidupannya sehari-hari dan dalam sejarah lisan kehidupannya ditopang oleh hutan.

Tentang Hutan secara Singkat

“Hutan.” Kenapa hutan saya tuliskan dengan tanda kutip? Karena begitu banyak definisi hutan yang digunakan di seluruh dunia, menggabungkan faktor-faktor seperti kerapatan pohon, tinggi pohon, penggunaan lahan, kedudukan hukum, dan fungsi ekologis.

Di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan terdiri dalam beberapa jenis hutan berdasarkan statusnya. Namun, tulisan singkat ini tidak bermaksud membahas itu, biarlah pembaca mencari undang-undangnya dan membacanya sendiri.

Hutan yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah hutan dalam pengertian umumnya, lepas dari pengertian normatif dalam undang-undang kehutanan dengan segala macam jenisnya.

Hutan dalam tulisan ini adalah suatu kawasan yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan, seperti pohon, semak, paku-pakuan, rumput, dan jamur. Dan merupakan tempat hidup berbagai jenis hewan. Hutan merupakan ekosistem yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Saya tegaskan lagi, secara singkat, hutan dalam pengertian inilah yang saya maksud dalam tulisan singkat ini.

Sedikit Tentang Bahasa Daerah

Bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan oleh suatu kelompok masyarakat di wilayah tertentu sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahasa ini berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya daerah tersebut.

Bahasa daerah memiliki peran penting dalam menjaga kebudayaan lokal, tetapi juga menghadapi tantangan seperti berkurangnya jumlah penutur akibat pengaruh banyak hal, seperti pengaruh bahasa nasional dan kehilangan kosakata akibat kerusakan hutan yang menjadi tempat tinggal penutur bahasa daerah tersebut.

Hilangnya Hutan, Hilangnya Bahasa, dan Kearifan Lokal

Hilangnya hutan tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem, tetapi juga mengancam keberlangsungan bahasa dan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat adat atau masyarakat lokal dan komunitas yang bergantung pada alam.

Adapun keterancaman yang akan dihadapi komunitas lokal atau adat adalah sebagai berikut:

  1. Hilangnya Kosakata Bahasa Daerah
    Hutan menyediakan sumber daya yang kaya, dan masyarakat adat atau masyarakat lokal memiliki ribuan kata khusus untuk menggambarkan tanaman, hewan, dan fenomena alam. Ketika hutan dihancurkan, banyak spesies punah atau jarang ditemukan, sehingga istilah-istilah yang menggambarkannya pun ikut menghilang.
  2. Punahnya Pengetahuan Tradisional
    Kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam bahasa daerah sering mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Pengetahuan tentang cara bercocok tanam, berburu, meramu obat, dan menjaga keseimbangan ekosistem akan hilang seiring rusaknya hutan.
  3. Perubahan Sosial dan Budaya
    Deforestasi memaksa banyak komunitas adat meninggalkan tanah leluhur mereka untuk pindah ke kota atau daerah lain. Perpindahan ini membuat generasi muda lebih sering menggunakan bahasa nasional atau bahasa asing, sementara bahasa daerah mereka semakin jarang digunakan. Akibatnya, bahasa yang dahulu kaya dengan istilah lingkungan menjadi semakin sederhana dan akhirnya punah.
  4. Kehilangan Identitas dan Nilai-Nilai Leluhur
    Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan budaya dan identitas suatu masyarakat. Hutan bukan hanya paru-paru dunia, tetapi juga rumah bagi bahasa dan kearifan yang telah diwariskan selama ribuan tahun. Jika hutan hilang, kita kehilangan lebih dari sekadar pepohonan—kita kehilangan sejarah, identitas, dan kebijaksanaan leluhur.

Penutup

Menjaga hutan dan bahasa daerah merupakan upaya yang saling berkaitan karena keduanya adalah bagian penting dari identitas budaya dan ekologi suatu masyarakat.

Menjaga hutan berarti juga menjaga bahasa daerah dan kearifan lokal yang ada di dalamnya. Jika kedua aspek ini dilestarikan, tidak hanya lingkungan yang tetap sehat, tetapi juga identitas budaya yang kaya tetap hidup dan berkembang.

Luwuk, 17 Februari 2025

**Penulis adalah petani pisang