Ketika Talenta pun Dikorupsi - Utustoria Ketika Talenta pun Dikorupsi - Utustoria

Ketika Talenta pun Dikorupsi

125
Spread the love

Photo: Ilustrasi

Ketika Talenta pun Dikorupsi
Diciptakan oleh: Abdy Gunawan

Air mata Danrio sejak sejam yang lalu tidak pernah berhenti menetes. Habis sudah berpuluh-puluh helai tisu menjadi tumbal atas kesedihannya yang tidak kunjung usai. Rumah sakit ini menjadi persinggahan Danrio ketika berangkat dari rumah maupun kembali ke kediamannya. 

Walaupun begitu sukar baginya untuk berhenti bahkan masuk ke tempat itu, tapi bagi Danrio, ia lebih memilih sakit saat ini daripada kembali ke rumah tetapi tidak bisa tidur lelap.

“Apa kisahmu nak?” tanya seorang tua yang akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Danrio. Pria paruh baya itu menghabiskan seminggu waktu rawat inapnya di rumah sakit, dengan menatap Danrio dari kejauhan. Dalam hatinya, ia bingung duka macam apa yang membuat Danrio selalu menyendiri diiringi isak tangis yang pelan tapi membuat siapapun yang mendengarnya ibah.

“Ini bukan kisahku.”

“Lalu?”

“Kurasa rumah sakit ini menyediakan surat kabar yang bisa kau baca.”

* * *

“Kau tahu apa artinya jika aku menjadi ketua Forum Pemuda?” Lato bangkit dari tempat duduk kedai kopi kecil yang terletak di salah satu rumah sakit milik pemerintah.

“Kesempatanmu berkontribusi bagi Kabupaten kita,” jawab Danrio, mengira hal itu yang dimaksudkan sahabatnya.

“Ah jawabanmu terlalu normatif, kawan.”

“Yah, soalnya hanya itu yang bisa kupikirkan, Lat! Pria sepertimu telah bertahun-tahun membantu warga yang kesusahan, tapi posisimu kurang strategis, jadi yah, sulit ngapa-ngapain.”

“Itu salah satunya, dan untuk aku yang bukan siapa-siapa, bisa jadi nilai tawar strategis.”

“Satunya lagi?”

“Ini yang terpenting, seperti ketua sebelumnya, Pemda kita akan memberikan bantuan kuliah, dan kau tahu lah, bagi orang sepertiku, kuliah tidak lebih dari mimpi di siang bolong,” Lato mengungkapkan perkataannya barusan dengan senyuman tipis dan mata yang berkaca-kaca.

Danrio menepuk pundak sahabatnya itu, kemudian meminta izin untuk pamit sebentar. Sementara Lato kembali mengenakan celemek coklat, dan bertolak menuju kasir. Ia menyeduh satu cup kopi americano lalu menyerahkannya kepada Danrio.

“Supaya kamu tidak mengantuk, bahaya jika nanti malpraktek karena kamu tidak fokus.”

“Hahaha makanya cepatlah menyusul, bantu aku di ruang bedah.”

Lato hanya bisa tertawa atas candaan sahabatnya barusan. Apakah itu doa yang harus ia amini dalam hatinya. Walaupun kadang kata-kata seperti itu terdengar bak penghinaan. Jelas-jelas Danrio paham seorang anak tukang cuci keliling yang telah ditinggal sang ayah, haram untuk bermimpi mengenakan jas putih dengan stetoskop melingkar di leher.

* * *

Di sekretariat Forum Pemuda, silih berganti bakal calon ketua mendaftarkan diri dengan membawa sejumlah berkas yang diletakan dalam map berwarna biru. Usai berkas itu diserahkan, panitia pemilihan ketua langsung melakukan verifikasi dan menyerahkan tanda terima serta keterangan lulus berkas kepada para kandidat yang akan bertarung memperebutkan posisi paling bergengsi di mata para pemuda daerah ini.

“Sudah dirilis?” tanya Lato pada Rafli, kawan wartawan yang menjadi penanggung jawab pemilihan ketua Forum Pemuda.

“Apanya?” 

“Pengumuman daftar kebutuhan Pemda yang akan diberikan beasiswa.” 

“Tenang! Haha perhitunganmu tepat, kawan. 4 posisi dokter dibutuhkan daerah ini.”

“Baiklah, semakin mantap niatku kalau begini,” ujarnya dalam hati. Usai mengisi formulir pendaftaran, Lato menyerahkan berkasnya kepada panitia, lalu menutup keberadaannya di tempat tersebut dengan ucapan bismillah.

* * *

Sudah lima hari sejak waktu pendaftaran Forum Pemuda dibuka, tetapi tidak satupun perwakilan dari organisasi-organisasi mahasiswa dan kepemudaan yang mendaftarkan diri mereka untuk verifikasi tahap kedua. Bahkan petahana pun, yang baru satu periode menjabat, tidak lagi maju untuk kedua kali.

Perlahan tapi pasti, keinginan Lato untuk menjadi dokter bukan hanya mimpi belaka. Prediksi dan riset yang ia lakukan terhadap rencana pemda menggelontorkan beasiswa, ternyata tepat. 4 kuota dokter, dan tentu saja satu diperuntukan bagi Ketua Forum Pemuda. 

“Kamu kerja disini?” sapa pria paruh baya dengan seragam coklat khas Aparatur Sipil Negara. Dari gerak-geriknya, rupanya ia berniat memesan kopi.

“Eh iya, Pak Bupati!” respon cepat Lato, segera sadar dari mimpinya sejak ia kanak-kanak itu.

“Wah saya kagum ada pemuda yang buka usaha sendiri.”

“Eh bukan punya saya, kedai kopi ini milik Danrio, saya hanya barista.”

“Betul juga, kalau kamu sibuk, siapa yang mengadvokasi permasalahan rakyat,” pimpinan daerah itu tertawa, lalu melihat ke arah Lato dengan tatapan curiga, “Tumben kamu sudah jarang demo? Karena mau jadi ketua Forum Pemuda yah? hahaha.”

“Bapak mau apa?” Lato mengalihkan pembicaraan, ia tidak nyaman dengan sindiran demikian, apalagi yang mempertanyakan prinsipnya sebagai aktivis. Di masa kepemimpinan Bupati saat ini, telah beberapa kali Lato dan masyarakat yang dikawalnya melakukan demonstrasi di depan Kantor Bupati. Bulan lalu, Lato bahkan memboikot pintu masuk kantor bupati karena menganggap pemerintah lalai menyelesaikan konflik agraria di daerahnya.

“Kopi Hitam saja.”

“Forum Pemuda bukan organisasi milik pemda, toh kalau selama ini terkesan dekat, karena pemda memiliki danah hibah yang membiayai kerja-kerja Forum Pemuda,” matanya tidak menatap Bupati, ia fokus menyiapkan kopi yang diminta orang nomor satu di daerah itu.

“Oh jadi walaupun Forum Pemuda, tapi tetap bisa seenaknya menyerang dan menghina pemda?”

“Bukan menyerang pak, cuma masa kita biarkan Pemda keluar jalur, nantinya ujung-ujung bapak yang disalahkan,” canda Lato sembari menyodorkan kopi hitam yang dibubuhi tulisan “Bupaticu” di dinding gelas.

“Hmm berdasarkan kebiasaan, tidak ada satupun kepengurusan forum pemuda yang mengkritik pem–”

“Kebiasaan bukan berarti kebenaran, Pak Bupati!” Sesaat kedua pria itu saling menatap. Diam, hanya tarikan nafas panjang Bupati mencoba menahan emosi karena kalimatnya dipotong laki-laki yang jauh lebih muda darinya.

“Selamat siang, Pimpinan! Ada info apa hari ini soal Pemda?” Rafli mendekat entah dari mana. Ia tampaknya baru saja melakukan liputan di rumah sakit.

“Oh Rafli, kau kan penanggung jawab pemilihan Ketua Forum Pemuda, menurut kau kalau nanti ketuanya orang yang selama ini menyerang Pemda, baik tidak buat organisasi?”

“Hahaha aku tahu arahnya ini kemana, terang-terangan saja pak, maksudnya Lato kan? Kita tidak perlu kategori pemimpin seperti apa, anak mudah di daerah ini maunya Lato yang jadi ketua.”

“Tapi kan Forum Pemuda programnya banyak, bukan hanya sekedar mengkaji kesalahan Pemda.” 

“Makannya, saya bilang tadi, teman-teman maunya Lato, diluar demo-demo yang dia inisiasi, sudah puluhan kegiatan pemberdayaan dan pendidikan ia lakukan di pelosok desa tanpa sepeserpun biaya dari Pemda.”

“Iya tapi,--”

“Aku rasa sudah cukup pembahasan mengenai Ketua Forum Pemuda, bapak tidak mau kan ada berita Bupati hanya sibuk urusi masalah lain, dibandingkan mensejahterakan rakyat.”

“Siap! Memang tidak boleh macam-macam dengan wartawan. Semangat Lato! Semoga bisa cepat-cepat jadi dokter!”

Lato terdiam. Setahu dia, alasan sampingannya selain untuk mengabdi, hanya diketahui sahabatnya, Danrio. Muncul berbagai spekulasi dalam benaknya, apakah kuota beasiswa Pemda yang dirilis sengaja disesuaikan dengan mimpinya untuk membungkamnya saat menjadi ketua nanti.

“Ini lihat!” Rafli memperlihatkan tampilan di smartphone miliknya, “Semuanya di sosmed mendukungmu, dan sampai saat ini, belum ada yang mendaftar kembali, rata-rata pendaftar awal mengundurkan diri karena tahu kamu juga ikut."

* * *

Sebagai pembina Forum Pemuda, Joni, ayah Danrio mengundang anggota Forum Pemuda makan siang dirumahnya usai mengikuti upacara sumpah pemuda di alun-alun kota.

Puluhan mahasiswa dan pemuda yang hadir saat itu, bertepuk tangan saat Lato masuk ke dalam rumah Joni. “Hidup Ketua!” “Hidup Ketua! Frase itu terus berkumandang di seluruh penjuru rumah, memastikan kemenangan Lato bahkan sebelum perang dimulai.

“Terlalu dini untuk memberi selamat padamu, kita lihat saja usai pemilihan,” Lato tidak mengerti dengan perkataan Joni barusan. Apa itu tanda bahwa ayah sahabatnya tidak berada dipihaknya?.

“Mungkin ayah tidak ingin terlihat memihak,” bisik Danrio pelan.

“Minta perhatiannya sebentar!” Joni berdiri di saat yang lain sedang duduk menyantap makan siang mereka, “sebagai pendiri sekaligus pembina organisasi ini, saya harap prinsip dan tradisi yang saya dan teman-teman bangun dari awal, bisa terus dipertahankan,” pidato singkatnya barusan disambut  tepuk tangan yang meriah dari para hadirin.

“Oleh karena itu, eh Oh iya! Rafli!”

“Siap, Kanda!”

“Apa pendaftarannya masih buka?”

“Masih Kanda.”

“Kalau begitu segera daftarkan anak saya, Danrio Napidan, dokter spesialis termuda di kabupaten kita, dan adik dari ketua sebelumnya, berdiri nak!”

Danrio tidak tampak heran sama sekali, ia seperti telah menduga apa yang akan dikatakan ayahnya. Hal itulah yang mengukir raut kecewa di wajah Lato, karena setahu dia, sahabatnya itu sama sekali tidak tertarik dengan hal demikian.

“Ku kira kau tidak akan mencalonkan diri, sebagai sahabat, bukankah kau akan menjadi orang yang akan mendukungku sepenuhnya,” tanya Lato heran.

“Memang dan akan selalu begitu, tadi itu hanya cara ayahku supaya pemilihan ketua nanti tidak terkesan settingan belaka, kau harus benar-benar menang karena pertarungan,” kata Danrio menenangkan.

Setelah acara makan siang, ditambah sedikit diskusi, para anggota yang akan pamit pulang diminta untuk tinggal sejenak oleh Joni, “Ada sedikit bantuan buat proker teman-teman, nanti ketua-ketua organisasi pemuda di bawah naungan forum, bisa ke ruangan kerja saya, jangan dulu pulang!”

* * *

Seperti biasa, jam 10 pagi, Lato membuka kedai kopi sederhana tempat ia bekerja. Kedai kopi itu hanya terdiri dari gerai kecil dan beberapa buah kursi dan meja. Kebanyakan pelanggannya adalah dokter dan keluarga pasien rawat inap yang begadang di rumah sakit.

“Seperti biasa, Kapucino!” Rafli mampir menjadi pelanggan pertamanya pagi itu.

“Apa berita hangat hari ini?” 

“Nih baca sendiri!” Rafli menyodorkan koran edisi hari ini yang dibawanya.

“Ha? Kok bisa? Kuota nya berubah?”

“Yah bisalah, pemimpin kita kan plin-plan.”

“Tapi harusnya kan disesuaikan dengan kebutuhan juga, pelayanan kesehatan di daerah ini tidak optimal karena kekurangan dokter, hal itu kan sudah berulang kali dikeluhkan rakyat dan disinggung oleh Dewan, jadi yah, kita memang butuh dokter," Lato berusaha menahan emosi. Suaranya dari balik meja kasir terdengar oleh beberapa pengunjung rumah sakit yang lewat.

"Kenapa kau yang marah sih? Jangan-jangan kau butuh yah beasiswa kedokteran itu? Oh aku paham, jadi kau ikut–"

"Bukan begitu, tapi penggunaan anggaran daerah untuk beasiswa kan harus disesuaikan dengan kebutuhan," Lato dilema. Ia berulang kali membaca halaman koran yang memberitakan tentang perubahan kuota beasiswa. Lato berharap siapa tahu dari tadi ia hanya salah baca, atau mungkin tiba-tiba dia memiliki kemampuan untuk merubah isi berita itu.

* * *

"Pagi, Kanda!" Sapa Lato ketika memasuki ruang kerja Ketua DPRD, yang tidak lain, ditempati oleh ayah teman semasa kecilnya sendiri, Joni Napidan.

"Ah, panggil saja Om, kita bukan di Forum Pemuda, dan kau sudah ku kenal sejak SD," Joni tersenyum dan mempersilahkan Lato duduk.

"Ada yang bisa aku bantu, Om?"

"Saya dengar dari Rio, kau ingin jadi dokter?"

"Iya, Om!"

"Kau tahu kan biaya kedokteran itu mahal," Joni memperhatikan Lato dari ujung kaki hingga kepala, "Dan tidak mungkin diakomodir oleh seorang anak yatim? Hahaha maaf maaf maksudku dalam hidup, kita perlu realistis kan, jadi apa rencanamu?"

Belum sempat dijawab oleh Lato, Joni segera melanjutkan kalimatnya, "Begini, kau tahu kan, Om punya klinik, dan klinik itu sekarang butuh penambahan dokter, jika berkenan, kau akan om sekolahkan."

Lato dengan hati-hati akhirnya mulai membuka suara,"Lalu sebagai gantinya?"

"Apa maksud pertanyaanmu haha, apa salahnya jika seorang ayah membantu sahabat anaknya."

"Tidak ada yang salah, cuma yah, setahuku om tidak dikenal sebagai sosok yang filantropis, dan sebagai seorang politisi, pasti ada harga yang harus dibayar dalam setiap kesepakatan."

"Hahaha, kau sesuai dengan reputasimu, nak! Brilliant! Really Brilliant!" Joni berpindah tempat duduk tepat di sebelah Lato, "Begini, Om ingin kamu mundur dari pencalonan Ketua Forum Pemuda!"

Lato sama sekali tidak kaget dengan apa yang disampaikan Joni barusan. Semua telah direncanakan dengan rapi oleh gerbong politik paling kaya di daerahnya, keluarga Napidan. Ia pun dihadapkan dengan dua pilihan yang begitu sulit diputuskan, apakah Lato akan tetap pada ambisinya menjadi seorang dokter, atau sebisa mungkin mencegah Forum Pemuda dimanfaatkan untuk kepentingan elektoral Dinasti Napidan.

"Saya paham Om butuh menggaet suara pemuda dengan menempatkan Danrio di pucuk pimpinan Forum Pemuda, tapi biarkan kami bertarung secara adil, saya tidak bisa mengkhianati kehendak teman-teman yang ingin saya maju."

"Sungguh Naif kamu! Lalu apa untungnya? Tidak ada lagi beasiswa pemda untukmu, kau selamanya hanya akan jadi barista di kedai kopi kami."

"Apa Om tidak percaya dengan kemampuan Danrio? Sampai harus mengusahakan agar aklamasi haha, izin pamit Om!"

* * *

Hampir 3 jam menunggu, tapi tidak satupun ketua-ketua organisasi pemuda dan mahasiswa menemuinya di taman kota sore itu, padahal dengan keuangan yang cukup terbatas, Lato telah membeli gorengan dan 1 lusin air mineral dalam kemasan gelas untuk dikonsumsi pada saat rapat konsolidasi yang telah mereka jadwalkan hari ini.

Pesan Lato di grup Whatsapp yang diberi nama "Lato For Forum Pemuda" itu, sama sekali tidak mendapatkan balasan dari teman-teman yang telah berjanji mendukungnya.

"Boleh minta airnya, Bung?" Sapaan Rafli membuyarkan Lato dari lamunan. Lamunan yang dipenuhi kebingungan kenapa para pendukungnya meninggalkan Lato sehari sebelum hari pemilihan tiba.

"Ambil-ambil, Silahkan Bung! Ini ada gorengan juga."

"Wah, makasih yah, lagi nungguin siapa, Lat?"

"Oh rencananya sore ini mau konsolidasi sama anak-ana, cuma dari tadi belum ada yang datang."

"Oh ketua-ketua organisasi? Mereka lagi ngumpul di rumah Danrio sekarang, konsolidasi katanya, saya juga diajak, cuma sebagai panitia saya kan harus independen."

Lato kaget mendengar informasi yang disampaikan Rafli. Ia tetap tegar meski pengkhianatan mereka telah memukul-mukul dadanya dengan cukup keras. 

"Rekomendasi semua ke Danrio, kan?"

"Sampai sekarang begitu, bung. Kata mereka Forum Pemuda butuh sosok yang berduit dan punya relasi orang-orang hebat, sehingga kalau mau buat kegiatan jadi mudah."

"Oh gitu, ayo makan gorengannya! Sisanya bisa kau bawa pulang!" mata Lato berkaca-kaca.

* * *

Tidak disangka oleh mereka yang berada di rumah Danrio saat itu, Lato yang baru saja masuk, langsung memanggil Danrio dengan suara yang meninggi.

"Ada apa, kawan? Tenang dulu! Ayo kita bicarakan ini berdua saja," Danrio mengajak Lato ke halaman belakang.

"Aku tahu kamu ingin jadi ketua forum, tapi bukan begini caranya."

"Hey, jangan lupa! Ini bukan keinginanku, ayah yang mengatur semuanya."

"Mengatur semua kecurangan ini? Aku akan ikhlas kalah darimu, jika pertarungannya adil."

"Jaga omonganmu, Lat! Kecurangan apa yang kau maksud?"

"Sudahlah, kau tahu kan ayahmu seperti apa, apa kau akan senang, menikmati kemenangan yang bukan dari jerih payahmu sendiri."

"Jadi menurutmu apa yang harus aku lakukan?"

"Bilang kalau kau tidak mau, kita berdua tahu kau tidak tertarik dengan organisasi."

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah ayahku," Danrio merangkul bahu Lato dari arah samping, "Jangan memaksakan dirimu, masih banyak ruang-ruang bersih tempatmu bertarung, jangan Forum Pemuda! organisasi ini politis, kawan!"

Lato membebaskan dirinya dari rangkulan lengan Danrio, "Apa tawaran beasiswa ayahmu masih berlaku?"

"Nah begini baru asyik, aku menunggu sahabatku di bilik rumah sakit, bukan di kedai kopi mini."

"Simpan saja buat orang lain yang lebih butuh, dan besok nikmati jabatan barumu sebagai ketua."

"Terserah! Setidaknya kau paham, tanpa rekomendasi kamu tidak bisa dicalonkan."

"Iya tapi aku akan ke PTUN, akan kulaporkan intervensi Ketua DPRD dan Bupati terhadap pemilihan ketua forum, sehingga hasil besok akan dianulir karena banyak kecurangan."

Lato pamit. Ia melewati teman-teman yang berbalik melawannya. Tidak ada satupun mereka yang berani menatap wajah Lato, selain diam dan menunduk malu.

"Sudah kenyang kalian sekarang?" ujar Lato sesaat sebelum mengucap salam.

* * *

Hujan lebat membasahi jaket kulit Lato ketika ia berhenti di lampu merah. Menunggu warna lampu lalu lintas berganti, sehingga ia dapat segera kembali ke rumah dan merenungi nasib sialnya.

Ia terus mengulang niatnya dalam hati, niat untuk tidak membiarkan Danrio menjadi ketua. Cara demi cara dipikirkannya. Ini bukan lagi soal gengsi dan mimpi, "ini soal keadilan".

Kalimat itu, walaupun diucapkan dalam hati, tetapi menjadi kalimat terakhir yang diucapkan Lato. Mobil avanza hitam yang menerobos lampu merah menabraknya dari arah kanan.

* * *

Dua bulan kemudian.

"Apa perlu ayah carikan kamu rumah sakit lain?" tanya Joni saat mendapat laporan anaknya kerap kali duduk menyendiri di kedai kopi rumah sakit sambil menangis tersedu-sedu.

"Aku baik-baik saja, lagipula kematian Lato sudah beberapa bulan berlalu."

"Kamu menyesal, Nak?"

"Aku sedih karena kehilangan sahabat, tapi itulah harga yang dibayar demi sebuah kekuasaan."

"Seorang ayah tetap akan menyanggupi permintaan anaknya."

Luwuk, Selasa 1 November