Tentang Pidato Presiden Jelang 17 Agustus 2021 | Utustoria Tentang Pidato Presiden Jelang 17 Agustus 2021 – Utustoria

Tentang Pidato Presiden Jelang 17 Agustus 2021

2217
Spread the love

Photo: Presiden RI, Joko Widodo (FB, Made Supriatma)

Penulis: Made Supriatma

Saya menelisik pidato Presiden di depan sidang MPR hari ini. Pidato ini adalah tradisi sebelum perayaan 17 Agustus.

Dalam pidato ini, kata nyebut pandemi paling banyak disebut oleh presiden. Ia disebut 31 kali. Sementara itu, kata ekonomi 20 kali; dan kesehatan 19 kali.

Ada hubungan kental antara pandemi, ekonomi, dan kesehatan. Pandemi adalah masalah kesehatan yang mengancam inti dari fokus kepresidenan periode Jokowi ini yakni ekonomi. Begitu kira-kira logikanya.

Tidak heran jika ekonomi diucapkan hampir dalam satu tarikan nafas dengan pandemi. Presiden juga emmberi penekanan pada kata Covid-19. Dia ucapkan ini 9 kali.

Selain itu, kita mendengar hal-hal yang biasa disampaikan presiden ini. Kata investasi dia sampaikan 6 kali. Sedangkan kata lain yang juga menjadi favoritnya yakni inovasi dia sampaikan 5 kali. Yang menarik, presiden juga menyampaikan kata industri sebanyak 5 kali termasuk salah satu kegemarannya yakni Revolusi Industri 4.0.

Masih berkaitan dengan itu, presiden menyampaikan kata pembangunan sebanyak 4 kali. Dia juga menyebut ‘reformasi struktural’ dalam bidang ekonomi sebanyak 3 kali. Tentu tidak lupa menyebutkan satu hal yang menjadi ‘signature’ kepresidennya, yaitu infrastruktur.

Dari kata-kata kunci tersebut, saya kira kita dapat menarik garis tegas bahwa ekonomi adalah panglima. Presiden mengharap kita berani berubah. Kata berani dia ucapkan 3 kali secara beriringan.

“Di tengah dunia yang penuh disrupsi sekarang ini, karakter berani untuk berubah, berani untuk mengubah, dan berani untuk mengkreasi hal-hal baru, merupakan fondasi untuk membangun Indonesia Maju,” demikian pidato Presiden.

Oh ya, kata “Indonesia Maju” mendapat penekanan cukup besar dalam pidato ini. Ia diucapkan sebanyak lima kali.

Presiden melanjutkan pidatornya, “Kita telah berusaha bermigrasi ke cara-cara baru di era Revolusi Industri 4.0 ini, agar bisa bekerja lebih efektif, lebih efisien, dan lebih produktif. Adanya Pandemi Covid-19 sekarang ini, akselerasi inovasi semakin menyatu dalam keseharian kehidupan kita.” Saya tertarik pada “akselerasi inovasi” walaupun saya tidak terlalu tahu maknanya. Enak saja didengar.

Tentu, pidato ini adalah sebuah pidato politik. Seperti biasa, dalam pidato politik, saya selalu mencari apa yang tidak dikatakan.

Apa yang tidak ada atau sangat sedikit ada dalam pidato ini?

Pertama kata korupsi. Saya catat hanya satu kata ‘korupsi’ diucapkan oleh presiden. Itupun berupa ucapan salam kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Selain itu, tidak ada kata korupsi. Seakan tidak ada korupsi di negeri ini.

Selain itu, tidak ada kata “hak-hak asasi manusia” (HAM). Ini bisa dimaklumi. Administrasi pemerintahan ini tidak terlalu mengurusi HAM. Membangun ekonomi dan infrastruktur lebih penting dari HAM bukan?

Sekalipun presiden berpakaian adat, tidak ada sama sekali kata “adat,” apalagi “masyarakat adat” dalam pidato ini. Pemerintahan ini bukan antropolog, bukan? (Maaf saya sedikit sini).

Yang juga absen adalah kata kemiskinan. Untuk sementara ini, kita anggap bahwa itu bukan masalah besar negara ini. Yang juga tidak ada adalah kata “ketimpangan.” Baik kemiskinan dan ketimpangan adalah saudara kandung. Keduanya adalah haram jadah yang tidak layak untuk diucapkan.

Selamat menikmati kemerdekaan dengan Revolusi Industri 4.0. dengan akselerasi inovasi itu!

Teks pidato lengkap bisa dibaca disini:

https://tirto.id/teks-lengkap-pidato-presiden-jokowi-di-sidang-tahunan-mpr-2021-giEn