
Photo: Supriadi Lawani
Oleh: Supriadi Lawani
Utustoria.com – Ahmad Dahlan adalah seorang ulama, pendidik, dan reformis Islam asal Indonesia yang dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah pada tahun 1912. Nama aslinya adalah Muhammad Darwis, dan ia lahir di Yogyakarta pada tahun 1868.
Beliau berperan besar dalam pembaruan pendidikan Islam di Indonesia dengan menggabungkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Muhammadiyah, organisasi yang ia dirikan, berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan fokus pada pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Ahmad Dahlan juga dikenal karena pemikirannya yang progresif dalam memurnikan ajaran Islam dari praktik-praktik yang dianggap bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis, serta mengajak umat Islam untuk lebih peduli terhadap kesejahteraan sosial.
Isi dan Makna Surat Al-Ma’un
Surat Al-Ma’un adalah surat ke-107 dalam Al-Qur’an. Surat ini terdiri dari 7 ayat dan termasuk dalam golongan surat Makkiyah. Al-Ma’un berarti “barang-barang yang berguna” atau “bantuan kecil”.Surat ini menekankan pentingnya kepedulian sosial dan kecaman terhadap orang-orang yang lalai dalam ibadahnya serta tidak peduli terhadap kaum miskin dan yatim.
Berikut adalah Teks Surat Al-Ma’un dan Terjemahannya:
1. أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ(Ara’aitalladzi yukadzdzibu biddiin)Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ(Fadzaalikalladzi yadu”ul-yatiim)Artinya: Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ(Wa laa yahuddu ‘alaa tha’aamil miskiin)Artinya: Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ(Fa wailul lil mushalliin)Artinya: Maka celakalah orang yang shalat,
5. ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ(Alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun)Artinya: (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,
6. ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ(Alladziina hum yuraaa’uun)Artinya: Orang-orang yang berbuat riya’,
Pesan dalam Surat Al-Ma’un
Mengingatkan umat Islam agar tidak hanya beribadah secara formal, tetapi juga memiliki kepedulian sosial terhadap anak yatim dan kaum miskin.
Surat ini juga mengutuk orang yang mendustakan agama, yaitu mereka yang tidak peduli terhadap sesama.Mengajarkan bahwa ibadah, terutama shalat, harus dilakukan dengan ikhlas dan bukan untuk pamer (riya’).
Ayat ini menjadi inspirasi bagi gerakan pembaruan yang dilakukan Ahmad Dahlan dalam Muhammadiyah.
Ahmad Dahlan dan Pengamalan terhadap Surat Al-Ma’un
Suatu ketika, Ahmad Dahlan mengulang-ulang tafsir Surat Al-Ma’un kepada murid-muridnya. Ketika mereka bertanya kenapa, beliau menjawab bahwa mereka belum benar-benar memahami surat ini. Kemudian, ia membawa mereka ke jalanan, ke pemukiman miskin, melihat langsung kondisi anak yatim dan orang miskin yang terlantar. Ini membuat murid-muridnya sadar bahwa mengamalkan Surat Al-Ma’un berarti membantu mereka yang membutuhkan.Ahmad Dahlan sangat terinspirasi oleh Surat Al-Ma’un, yang menekankan pentingnya kepedulian sosial terhadap anak yatim dan kaum miskin. Beliau tidak hanya memahami ayat-ayatnya secara teori tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan nyata melalui berbagai gerakan sosial dan pendidikan. Baginya, membantu orang miskin dan anak terlantar bukan hanya sekadar sedekah, tetapi harus menjadi gerakan sosial berskala besar.
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Organisasi ini bertujuan untuk menghapus kebodohan dan kemiskinan, sesuai dengan ajaran Surat Al-Ma’un.Bagi Ahmad Dahlan, Islam bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga amal perbuatan. Ia mengajak umat Islam untuk tidak hanya shalat, tetapi juga berbuat baik kepada sesama, terutama membantu anak yatim dan fakir miskin, sebagaimana ditekankan dalam Surat Al-Ma’un.
Ahmad Dahlan mengamalkan Surat Al-Ma’un dengan tindakan nyata, bukan sekadar pengajaran. Melalui Muhammadiyah, ia mengubah cara berpikir umat Islam agar lebih peduli terhadap sosial, pendidikan, dan kesehatan. Warisannya terus hidup hingga kini dalam berbagai lembaga pendidikan, rumah sakit, dan amal sosial Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia.Luwuk, 10 Maret 2025 | 10 Ramadhan 1446 H. ***
Penulis adalah petani pisang dan anggota Perserikatan Muhammadiyah.
