
Photo: Ilustrasi
Oleh: Supriadi Lawani
Utustoria.com – Seperti dilansir dari https://www.danamustadhafin.com/, ada kisah yang sangat menyentuh pikiran dan hati kita, kisah yang penuh kesederhanaan dan keteladanan. Kisah ini dimulai pada suatu hari di bulan Ramadan. Setelah bekerja keras seharian, seorang lelaki tua duduk di bawah pohon kurma di dekat Masjid Kufah. Lelaki tua itu tampak membuka perbekalannya, menu berbuka puasa yang sangat sederhana. Sepotong roti kering dan sebotol air putih.
Seorang pengemis datang mendekat. “Bolehkah aku berbuka puasa denganmu, wahai lelaki tua?” tanya pengemis.
“Silakan pak, berbukalah denganku dengan senang hati,” ujar lelaki tua itu.
Tidak lama kemudian, sang pengemis berkata, “Maaf, rotimu terlalu keras untukku. Aku tidak kuat mengunyahnya.”
“Oh, kalau engkau ingin berbuka puasa dengan roti yang lembut dan enak serta makanan hangat yang berkualitas, pergilah ke sana. Rumah Hasan bin Ali.”
Lelaki tua itu menunjuk ke arah rumah Sayyidina Hasan ra.
Pengemis itu berjalan ke arah rumah Sayyidina Hasan ra. Dari kejauhan tampak cucu Rasul itu sedang menyiapkan makanan berbuka untuk kaum dhuafa. Makanan dan minuman yang berkualitas baik.
Sayyidina Hasan melambaikan tangan, mengundang sang pengemis itu untuk berbuka puasa bersamanya dan kaum dhuafa lainnya.
Sang pengemis pun menikmati makanan berbuka dengan sangat lahap bersama Sayyidina Hasan dan kaum dhuafa lainnya dalam satu jamuan. Sang pengemis menyisakan makanannya dan membungkus sisa makanan tersebut.
Melihat hal tersebut, Sayyidina Hasan mendekat dan bertanya, “Untuk siapa sisa makanan itu? Tidak perlu membungkusnya. Habiskan saja makananmu. Kalau masih kurang, aku akan membungkuskan makanan lagi untukmu.”
“Aku membungkus makanan ini bukan untukku, tapi untuk pengemis tua yang duduk di pohon kurma di pinggir Masjid Kufah. Kasihan dia memakan makanan berbuka hanya dengan sepotong roti yang berkualitas buruk,” jawab sang pengemis.
Sayyidina Hasan berkata, “Dia bukan pengemis. Dia adalah Ali bin Abi Thalib, ayahku. Dia adalah seorang kepala negara, panglima tentara, dan pemimpin umat.”
“Tapi mengapa dia berbuka puasa dengan roti keras yang sulit dikunyah? Roti yang berkualitas buruk?” tanya sang pengemis.
Sayyidina Hasan menangis sambil berkata dengan air mata yang berlinang, “Memang seperti itu kebiasaannya. Beliau selalu memakan makanan yang biasa dimakan orang-orang miskin.
Karena menurutnya, ketika kondisi umat dalam kemiskinan dan kelaparan, tidak layak bagi seorang pemimpin seperti dirinya memakan makanan yang lebih baik dari apa yang dimakan oleh rakyatnya. Seorang pemimpin harus memakan makanan yang sama seperti yang dimakan oleh rakyatnya.”
Karakter Pemimpin yang Sederhana dan Merakyat
Karakter pemimpin yang sederhana dan merakyat sangat penting dalam membangun kepercayaan serta kedekatan dengan rakyatnya. Dengan kisah monumental Sayyidina Ali bin Abi Thalib di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa karakter pemimpin paling tidak adalah sosok yang sederhana, tidak sombong dengan jabatan atau kekuasaannya. Mereka terbuka terhadap kritik dan saran serta mengakui kesalahan jika memang melakukan kekeliruan, dan tentu saja tidak suka berbohong, apalagi membohongi rakyat.
Kemudian mereka akan sering turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat. Tidak hanya mendengar laporan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan rakyatnya. Pemimpin yang sederhana tidak menunjukkan gaya hidup mewah atau berlebihan. Mereka lebih memilih hidup seperti rakyat biasa dan tidak menyalahgunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.
Pemimpin merakyat menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Mereka tidak menggunakan istilah yang terlalu akademis atau teknis jika tidak diperlukan. Segala kebijakan yang diambil selalu didasarkan pada kepentingan rakyat, bukan hanya untuk kelompok atau golongan tertentu. Mereka berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Pemimpin yang merakyat sering terlibat langsung dalam kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana, menghadiri acara masyarakat, dan ikut serta dalam kerja bakti. Mereka tidak menyembunyikan informasi penting dari rakyat, terutama yang menyangkut kebijakan publik. Kejujuran menjadi prinsip utama dalam kepemimpinannya.
Pemimpin yang merakyat akan memperlakukan semua orang dengan adil, tanpa membeda-bedakan berdasarkan suku, agama, atau latar belakang sosial. Pemimpin dengan karakter seperti ini akan lebih dicintai dan dihormati oleh rakyatnya karena mereka tidak hanya memimpin dari atas, tetapi juga berbaur dan merasakan kehidupan rakyatnya.
Penutup
Dengan membaca sedikit kisah dari Ali bin Abi Thalib, maka di bulan Ramadan yang suci ini kita, khususnya umat Muslim, dapat menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai teladan bagi setiap pemimpin yang ingin menjalankan kepemimpinan dengan kesederhanaan dan keadilan. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah untuk dinikmati, tetapi untuk mengabdi kepada rakyat.
Kesederhanaan Ali bin Abi Thalib adalah teladan yang sangat relevan bagi siapa pun, terutama bagi pemimpin yang ingin menjalankan amanah dengan penuh keadilan dan tanggung jawab.
Kesederhanaan Ali bin Abi Thalib adalah cerminan dari kepemimpinan yang penuh ketulusan, kejujuran, dan keadilan. Nilai-nilai ini masih sangat relevan untuk diterapkan, dan insyaAllah Kabupaten Banggai ke depan mendapatkan pemimpin yang berkarakter seperti ini—sederhana, sangat merakyat, dan tidak suka berbohong.
Semoga Allah menjawab harapan kita semua!
Luwuk, 3 Maret 2025
Penulis adalah petani pisang.

Photo: Supriadi Lawani


