Suatu Kisah Ketika Kematian pun Kesal | Utustoria Suatu Kisah Ketika Kematian pun Kesal – Utustoria

Suatu Kisah Ketika Kematian pun Kesal

937
Spread the love

Photo:Ilustrasi

Suatu Kisah Ketika Kematian pun Kesal
Karya : Abdy Gunawan



Mahasiswi baru yang belum lama ia temui, membuat Nirwan paham bahwa hari-harinya di kampus ini akan lebih berwarna, mentari yang membangunkannya setiap pagi akan lebih cerah, dan burung-burung gereja yang sering bertengger di kamar kosnya akan lebih merdu lagi bernyanyi. 

Meski belum sempat bertegur sapa, pandangan dari jauh yang berlangsung hampir 5 menit itu, sukses membuat Nirwan berhenti menunggu datangnya sosok yang bisa menghiasi lembaran kehidupan kuliah nya di kampus dengan kisah-kisah romansa yang penuh canda dan tawa.

Ia bukannya belum pernah bertemu satupun perempuan cantik di kampusnya, mengingat kota tempat Nirwan kuliah terkenal sebagai penghasil wanita-wanita cantik di Indonesia. Tapi apa boleh buat, bukan soal selera Nirwan yang terlalu tinggi tapi memang tipe pacar yang ia idamkan memang unik.

Dengan gaya rambut classic pixie yang terlihat sangat cocok dengan paras wajahnya yang imut, mahasiswi baru itu menirukan tarian boyband korea yang sedang trend. Kaos oblong dan celana jeans dipadu dengan gerakan macho yang ia eksekusi dengan mantap, membuat Nirwan tidak henti-hentinya berdecak kagum, walaupun yang mendengarkan hanya teman-teman yang duduk di sekitarnya.

Ingin rasanya Nirwan ke sana dan segera menanyakan nama si mahasiswi baru, tapi saat ini gadis itu dan teman-temannya sedang mengikuti masa orientasi pengenalan kampus, dimana mereka sedang menunjukan penampilan bakat masing-masing kelompok. Irgi, nama yang belakangan diketahui merupakan nama gadis tersebut, begitu piawai menampilkan bakat dance modern miliknya, alhasil kelompok mereka menjadi pemenang.

Tahun 2015, meski Nirwan merupakan salah satu mahasiswa yang vokal di fakultas hukum waktu itu, tetapi karena ia baru menginjak semester 3, Nirwan dan teman-teman seangkatannya belum diizinkan menjadi panitia orientasi mahasiswa baru, sehingga sulit bagi dirinya memanfaatkan momentum tersebut untuk berkenalan dan mengambil porsi waktu bicara lama dengan Irgi.

“Besok agenda Maba apa, Kak?” tanya Nirwan kepada senior perempuannya yang merupakan ketua panitia ospek.

“Oh besok mereka wajib ikut upacara 17 Agustus di lapangan kampus.”

“Oh iya iya, jam berapa?”

“06.00, emang kenapa sih? Upacaranya hanya wajib bagi Maba, dosen sama staff, kalian biar tidak ikut tidak apa-apa.”

“Aku kan nasionalismenya tinggi, haha.”

“Bohong! Setahu saya, mahasiswa di sini tidak satupun yang mau bangun sepagi itu apalagi hanya untuk panas-panasan, bilang saja kamu mau caper-caper kan sama mahasiswi baru.”

* * *

Bangun sepagi itu rupanya tidak biasa bagi Nirwan. Pada jam tersebut, Nirwan seharusnya masih memeluk mesra guling di kamarnya dengan kepala nyaman tersandar di bantal. Mata kuliah yang selalu dimulai pukul sembilan, membuat Nirwan nyaman-nyaman saja jika bangun sudah pukul delapan, satu jam persiapan hingga perjalanan menuju kampus ia rasa cukup untuk datang tepat waktu di kelas.

Meski dihantui kantuk yang amat mengganggu, keinginan Nirwan untuk berkenalan dengan mahasiswa baru yang diidolakannya, membuat Nirwan dengan begitu semangat, memacu motor Jupiter Z miliknya menuju lapangan tempat pelaksanaan upacara.

Ketika tiba, dilihatnya orang-orang mulai membubarkan diri. Rupanya upacara telah usai. Nirwan pun mengutuk ratusan motor dan mobil penyebab macet yang menghalanginya mengucapkan sapaan pertama kepada sang pujaan hati.

Pandanganya kesana kemari mencari Irgi. Nirwan kesulitan karena para mahasiswa baru sibuk mengabadikan momen mereka mengikuti kegiatan kampus yang dilaksanakan tanpa perpeloncoan dan penindasan senior itu. 

Nirwan mencari di tumpukan mahasiswa fakultasnya. Akhirnya ia menemukan Irgi sedang silih berganti berfoto dengan mereka-mereka yang penasaran dan kagum dengan keunikan style dan pribadinya. Irgi memang lain dari para mahasiswi di kampus Nirwan, ia begitu mudah dikenali. Di tumpukan mahasiswa yang kini berkumpul menunggu untuk berfoto dengannya, Irgi tampak beda sendiri. Tanpa make up dan rok, gadis tomboy itu bahkan lebih tampan dari kami, para pria yang ada yang di situ.

Nirwan mencari celah agar bisa berdiri dekat Irgi untuk sekedar memulai basa-basi. Yah, memang terlalu dini menurut Irwan jika dirinya mulai mengapresiasi bahkan menyampaikan isi hati.

“Irgi, ya?” Tanya Nirwan ketika mendapat posisi tepat di sisi Irgi yang meski terlihat maskulin, wajahnya yang putih terbingkai indah oleh rambut hitam pendek yang jatuh di samping-samping pipinya.

“Iya, Siapa?” 

“Nirwan, Fakultas Hukum juga.”

Tiba-tiba Irgi memukul lengan kanan Nirwan, ia tertawa, memperlihatkan giginya yang putih, kemudian tawa itu perlahan berganti menjadi senyuman tipis disertai tatapan serius mengarah tepat di mata Nirwan.

Sejenak waktu Nirwan membeku. Ia dapat merasakan orang-orang disekitarnya berhenti melangkah dan berbicara. Apakah ini hanya perasaan Nirwan saja? Atau memang Tuhan merestui momen mereka itu sebagai sesuatu yang indah dan tidak begitu saja berakhir.

Nirwan merasa terik matahari yang dari tadi memanaskan kulitnya dan orang-orang yang berada di lapangan kini mereda, langit mulai tertutup oleh awan, dan angin sejuk pun datang untuk mendinginkan suhu udara di sekeliling.

“Oh ini Kak Nirwan!’ Suara Irgi segera menarik Nirwan dari lamunan indahnya.

“Tahu dari mana tentang saya?”

“Dosen-dosen waktu Ospek sering nyebut namamu Kak, katanya kalau belajar yang serius dan rajin, nanti bakalan kayak Kak Nirwan, rupanya ini Kak Nirwan toh haha salam kenal kak, saya Irgi.”

“Tahu kok.”

“Hmm kok tahu? Kita kan baru ketemu, pasti selama ini mantau yah haha,” benar-benar unik. Beda dengan perempuan lain yang ditegur laki-laki asing, apalagi senior mereka, pasti akan lebih banyak diam, bahkan cenderung salah tingkah. Irgi malah dengan frontal menuduh Nirwan telah memperhatikannya sejak lama, walaupun kenyataannya demikian.

Nirwan tidak memperdulikan lagi teman, junior, senior, bahkan dosen yang mengajaknya bicara, perhatiannya tertuju penuh pada gadis tomboy yang tidak berhenti berbagi cerita dan kritik terhadap pelaksanaan orientasi kampus yang ketinggalan zaman.

“Ayo Irgi, aku sudah lapar nih.” Ajakan temannya itu akhirnya membuat Nirwan harus rela menyudahi obrolan perdanya dengan Irgi.

* * *

Bukannya langsung balik kembali ke kos, Nirwan yang masih dalam perasaan sukacita yang melimpah, merasa perlu berpamitan secara pantas dengan Irgi yang tidak henti-hentinya membuat dia tersenyum.

Ia berkeliling menelusuri rumah makan dan warkop yang berada di sekitar kampus, tetapi Nirwan tidak kunjung menemukan Irgi dan teman-temannya. Nirwan pun pasrah lalu berniat untuk menunggu besok dan bertemu kembali dengan Irgi di fakultas.

Motornya entah kenapa tiba-tiba berhenti, seperti ada kekuatan gaib yang memaksanya untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kemudian ia pun menyadari mengapa semesta mentakdirkan dirinya berhenti di situ. 

Ketika Nirwan menoleh ke arah kanan, dilihatnya Irgi sedang asyik menyantap makanan sambil berceloteh bersama kawan-kawan seangkatannya di sebuah rumah makan sederhana yang letaknya tepat di jalan masuk menuju fakultas hukum.

Irgi langsung tersenyum melihat Nirwan masuk ke dalam rumah makan dan memesan sesuatu di kasir. Nirwan hanya membalasnya pula dengan senyuman. Sampai makannya datang, ia tidak tahu harus berbuat apa. Walaupun keinginannya untuk kembali bertegur sapa dengan Irgi sangat besar, tapi Nirwan merasa bahwa ketika ia mendekat dan ikut nimbrung, malah akan mengganggu gerombolan juniornya itu, dan mungkin akan menurunkan nilainya di mata Irgi.

Baru beberapa sendok nasi goreng ditelan  Nirwan, Irgi datang bersama piring makannya dan duduk tepat di depan Nirwan, “Hmm kalau bukan Kak yang sengaja ngikutin aku, pasti karena kita berjodoh hehe.”

Perkataan Irgi barusan menjadi awal pembicaraan selama satu jamnya dengan Irgi, kali ini gadis itu menceritakan kenapa sampai ia bisa masuk di fakultas hukum, padahal ibunya menginginkan dirinya untuk mendaftar di IPDN, sampai kesukaannya terhadap boyband korea.

Nirwan menatap wajah sang pujaan hati dengan saksama, tidak ada gerakan dan ucapan wanita itu yang luput dari amatannya. Ia pun tersenyum membayangkan betapa mereka akan terus bersama, mengikuti berbagai kegiatan kampus berdua, menikmati kota dan suasana universitas di sore hari sampai petang pun hadir lalu Nirwan mengantar Irgi kembali ke tempat dia tinggal.

* * *

Di kamar kosnya yang sempit, senyum Nirwan belum hilang dari bibirnya yang tipis itu. Momen bersama Irgi membuatnya tidak berhenti merasa bahagia hingga menjelang tengah malam.

Satu hal yang disesali Nirwan, ia lupa meminta Pin blackberry messenger maupun nomor telepon seluler milik Irgi. Padahal Nirwan tidak ingin komunikasinya dengan gadis itu selesai siang tadi. Akhirnya, Nirwan memutuskan untuk mencari akun instagram mahasiswi yang ia dicintai sejak pandangan pertama itu.

Semenit kemudian, Nirwan menemukan akun instagram milik Irgi. Ia mengamati satu persatu foto Irgi yang cantik dan begitu keren dengan dandanan mirip pria tersebut. Nirwan terhenti di salah satu postingan yang memperlihat Irgi mengenakan kemeja putih dan rok hitam khas mahasiswi baru.

Dari sejumlah gaya dan dandanan maskulin yang ada hampir di semua foto milik Irgi, foto tersebut satu-satunya yang menampilkan sisi feminim wanita yang disukai Nirwan itu. 

Nirwan mengetik sesuatu di kolom chat instagram antara dia dan Irgi. Berharap akan ada obrolan menarik lagi yang terjalin antara mereka berdua malam mini.

“Kalau jadi kau, aku tidak akan melakukan itu, ini terlalu malam bagi seorang laki-laki asing untuk menghubungi wanita yang baru di kenalnya,” entah bagaimana, seseorang kini telah duduk tepat di samping Nirwan yang sedang berbaring.

Nirwan sontak berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Ia mengambil kuda-kuda bertahan, bersiap mengamankan diri jika sosok asing dengan pakaian serba putih melakukan hal-hal yang tidak diinginkan kepadanya.

“Eh tunggu dulu, aku memang kau haha.”

Nirwan memperhatikan sosok di depannya dengan saksama. Ekspresi yang tadinya marah dan takut, kini berubah menjadi perasaan bingung. Paras lelaki di depannya begitu mirip dengan dirinya, hanya saja wajahnya dipenuhi kumis dan jenggot tipis, dengan tubuh lebih gemuk.

“Kamu siapa?”

“Sudah kubilang aku adalah kamu, tapi setelah 10 tahun kamu wisuda.”

Awalnya sempat ragu, tapi karena melihat pria yang sama persis dengannya, ia menyimpan keingintahuan akan perjalanan waktu, dan lebih memilih menggali informasi tentang dirinya di masa depan.

“Apakah aku lulus tepat waktu? Berapa IPK-ku?”

“Lebih cepat dari seharusnya, IPK-mu sempurna, kamu bahkan mendapat posisi strategis di perusahaan internasional.”

“Wah berarti tidak ada masalah dengan masa depanku, bagaimana dengan keluarga, eh istriku seperti apa, apakah cantik?”

“Eh kalau itu---“

“Apakah Irgi?”

“Justru masalahnya di situ, lebih baik hentikan harapanmu dari sekarang, mumpung kalian baru bertemu, untuk itulah aku kemari.”

Nirwan kaget dengan perkataan dirinya dari masa depan itu. Hari ini pertama kali di hidupnya, merasakan bagaimana cinta hadir dan menguasai segenap raga dan jiwa, serta kali pertamanya bertemu lawan jenis yang begitu menenangkan dan menentramkan kram hati ketika saling bertatapan dan bertegur sapa.

“Jangan bercanda! Aku bisa merasakan takdir di antara kita, kenapa bisa? Apakah ada pria lain?”

“Meskipun ia hidup sebatang kara selamanya, ia tidak akan mau dengan kita.”

“Rupanya aku menjadi gila ketika sudah tua, bagaimana bisa? Aku melihat dia juga senang berada di dekatku.”

“Kita tidak selamanya, ah bukan, kita tidak sesempurna yang kau kira, akan datang saat ego kita melukainya.”

“Kalau begitu aku akan mencoba menurunkan egoku.”

“Bagaimana kalau ego kita adalah bagian dari cara kita mencintainya.”

“Apa maksudmu? Bukankah itu bagus.”

“Kita tidak bisa mengatur semuanya, ada beberapa hal yang terjadi di luar kehendak kita, nah di saat itulah, ego kita membuat Irgi sakit hati.”

“Hal-hal apa saja itu? Ceritakan! Maka akan kuhindari.”

“Aku tidak mampu mengingatnya, begitu menyakitkan, sudah ku rangkum di buku ini, silahkan kau baca!”

Nirwan membaca buku catatan kecil yang diberikan Nirwan tua. Ia membolak-balikan lembar demi lembar. Lutut dan tangan nya gemetar, Nirwan tidak mampu berdiri saat ini. Ia kembali duduk di kasur kecil miliknya. Berusaha menghentikan tangis yang tidak dapat lagi ditahannya.

“Kita pernah marah, hanya karena dia tidak mau jogging sama-sama?”

“Marah yang sangat besar,” balas Nirwan tua.

“Dan membandingkannya dengan momen ketika ia mau diajak lari pagi teman-teman angkatannya? Kenapa aku bisa cemburu dengan hal-hal semacam ini? Ini masalah sepele.”

“Benar dan masih banyak lagi, semakin lama kita bersamanya, diri kita akan semakin posesif dan bodoh, oleh karena itu, jika kau peduli dengannya, ingir agar hidupnya dan hidupmu tentram, buang perasaanmu jauh-jauh!”

Nirwan begitu kaget dengan permintaan dirinya dari masa depan itu. Ia telah membayangkan betapa indah masa perkuliahan akan ia arungi dengan Irgi, bahkan kalau bisa sampai mereka menikah dan punya anak. 

Baru beberapa jam yang lalu, Nirwan menikmati momen terindah dalam hidupnya, dan kini seseorang menyuruhnya berhenti memperjuangkan Irgi. Pupus sudah harapannya untuk menjalin asmara dengan gadis yang berhasil mencuri hatinya di kali pertama bertemu jika ia menuruti kembarannya tersebut.

“Ini semua salahmu, aku tidak melakukan semua ini.”

“Terimalah, semua itu masa depanmu.”

“Terimakasih telah memboncorkan lebih awal, buku ini akan kusimpan, dan mencegah semuanya terjadi, sikapku nanti akan berbeda 180 derajat darimu.”

“Jangan keras kepal—“

“Aku tidak mau lagi mendengar ucapanmu, jangan rusak kebahagiaanku! Pergilah kembali ke masa depan, Bung!”

Nirwan tua hanya tersenyum melihat diri mudanya yang penuh semangat dengan api asmara yang masih membara dalam jiwa. Sebelum ia membuka pintu kamar Nirwan, pria itu berbalik, “Ngomong-ngomong ini bukan perjalanan waktu, Bung!”

* * *

Nirwan tua duduk di kursi yang terletak di lapangan sepak bola kampusnya. Ia tersenyum memperhatikan mahasiswa yang sibuk mencari barisan fakultas masing-masing

“Bagaimana hasilnya? Dia tidak mendengarkanmu lagi? Ini sudah yang ke 100 kali kau bertemu dengan dirimu di masa mudah, dan hasilnya selalu saja sama, merekapun akhirnya akan kembali mengulang kesalahanmu,” kata malaikat yang secara ajaib duduk di sampingnya.

“Iya, aku tahu.”

“Lantas kenapa kau selalu meminta mengulang masa ini, kau harusnya sudah berada di akhirat sekarang, dan berengkarnasi.”

“Bukan itu tujuanku sebenarnya.”

“Lantas apa?”

“Lihat itu!”

Nirwan tua dan si malaikat memperhatikan betapa malu-malunya Nirwan muda menyapa Irgi usai upacara 17 Agustus.

“Bisa tolong lagi?” Pinta Nirwan.

“Aku tahu, kau ingin aku menghentikan waktu sejenak, membuat panas matahari berkurang, menutup langit dengan awan, dan memunculkan angin yang berhembus sepoi-sepoi.”

“Hehe betul, dan jangan lupa sebentar nanti hentikan motorku tepat di depan tempat Irgi makan.”

“Lama-lama aku bosan juga melakukan ini,” kata Malaikat kesal.

“Sabar, Kawan! Aku tidak akan menikmati dan mengingat pemandangan indah ini lagi jika berengkarnasi, bukan?”


Siuna, 2 September 2023