Pers Sebagai Suara Rakyat! Sekilas Catatan Di Hari Pers Nasional | Utustoria Pers Sebagai Suara Rakyat! Sekilas Catatan Di Hari Pers Nasional – Utustoria

Pers Sebagai Suara Rakyat! Sekilas Catatan Di Hari Pers Nasional

531
Spread the love

Photo: Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani*

Utustoria.com – Catatan singkat ini saya buat untuk memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 9 Februari, diambil dari tanggal lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1946. Hari Pers Nasional ditetapkan Presiden Suharto pada 1985 melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 tentang Hari Pers Nasional.

Fokus dari catatan sederhana ini adalah ingin bercerita sedikit tentang pers sebagai alat perjuangan, sebagai suara rakyat dan sebagai sikap keberpihakan kepada rakyat sejak awal perjuangan nasional Indonesia.

Pers Sebagai Alat Perjuangan Nasional

Takashi Shiraishi, seorang sejarawan Jepang yang banyak meneliti sejarah Indonesia, berpendapat bahwa pers pada zaman pergerakan nasional digunakan sebagai alat propaganda oleh berbagai kelompok perjuangan. Dalam konteks ini, pers tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai sarana mobilisasi massa, penyebaran ideologi, dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Pers nasionalis saat itu, seperti Medan Prijaji yang didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo, serta surat kabar lain seperti Bintang Hindia, Oetoesan Hindia, dan Soeara Merdeka, memainkan peran penting dalam membangun kesadaran kebangsaan. Media ini digunakan oleh tokoh-tokoh pergerakan untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah kolonial yang menindas dan penghisap serta menyebarkan gagasan tentang kemerdekaan dan juga persatuan bangsa.

Tantangan Pers Hari Ini

Adalah paradoks meskipun teknologi informasi semakin berkembang namun pers saat ini menghadapi berbagai tantangan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Beberapa tantangan tersebut dapat saya tuliskan secara singkat dalam catatan ini. Yang pertama banyak media besar dikuasai oleh konglomerat atau memiliki keterkaitan dengan kepentingan politik tertentu. Hal ini dapat menyebabkan bias dalam pemberitaan dan menyulitkan pers untuk benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat kecil.

Yang kedua ada pers yang menjadi semacam alat propaganda dan alat pembentuk persepsi rakyat demi kepentingan politik penguasa tertentu.

Yang ketiga jurnalis masih menghadapi ancaman kriminalisasi melalui undang-undang seperti UU ITE. Liputan yang mengkritik pemerintah atau kelompok berkuasa bisa berujung pada tekanan hukum, intimidasi, bahkan kekerasan.

Yang keempat banyak media mengandalkan pendapatan dari iklan dan jumlah klik (clickbait), sehingga sering kali lebih mementingkan sensasi daripada jurnalisme investigatif yang berpihak pada rakyat.

Harapan Kedepan

Harapan kedepan untuk pers yang lebih berani dan berpihak kepada rakyat memang sangat berat namun bukan berarti tidak mungkin karena saya yakin masih banyak wartawan dan media yang masih konsisten untuk menulis dan memberitakan persoalan rakyat dan situasi yang tidak memihak kepada rakyat.

Untuk itu agar harapan yang berat ini bisa terjadi maka yang paling pertama dan utama adalah Hukum harus lebih melindungi kebebasan pers agar jurnalis bisa bekerja tanpa tekanan atau ancaman.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah dukungan rakyat. Dukungan rakyat dalam bentuk langganan dan donasi secara berkelanjutan menjadi penting untuk mendapatkan karya jurnalistik yang berkualitas. Dukungan finansial ini membantu mereka tetap bertahan tanpa bergantung pada kepentingan pemilik modal, bayaran dari politisi korup atau iklan.

Mungkin terkesan ideal namun hidup tetap harus punya harapan termasuk juga membangun pers hari ini yang lebih berpihak kepada rakyat.

Untuk menutup catatan singkat ini sekali lagi saya mengucapkan selamat Hari Pers Nasional dan kepada kawan – kawan wartawan saya ucapkan tetap semangat untuk menjadi pilar demokrasi yang deliberatif.

Luwuk 8 Februari 2025

*Penulis adalah petani pisang