Politik Elektoral Di Banggai dan Uang Sebagai Idiologi     - Utustoria Politik Elektoral Di Banggai dan Uang Sebagai Idiologi     - Utustoria

Politik Elektoral Di Banggai dan Uang Sebagai Idiologi    

474
Spread the love

Photo: Supriadi Lawani

Oleh : Supriadi Lawani*

Utustoria.com – Politik elektoral mengacu pada berbagai aspek dan aktivitas yang berkaitan dengan proses pemilihan umum dalam suatu negara atau wilayah. Di Indonesia sendiri kita mengenal Pemilihan Umum yang disingkat pemilu dan Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan Wali Kota dan Wakil Wali Kota atau disingkat dengan sebutan Pemilihan dimana masyarakat umum lebih sering menyebutnya pilkada singkatan dari pemilihan kepala daerah.

Meskipun Mahkamah Konstitusi (MK) melalui putusannya nomor 97/PUU-XI/2013 tegas mengatakan bahwa pemilihan kepala daerah bukan merupakan rezim pemilihan umum (Pemilu) namun perlu ditegaskan disini yang mana dengan melihat proses , mekanisme dan tata cara bahwa Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pemilihan) adalah merupakan suatu proses politik elektoral, ini dikarenakan proses pemilihan tersebut mencakup berbagai elemen yang bertujuan untuk memilih pemimpin ditingkatan lokal melalui pemungutan suara secara langsung,umum, bebas dan rahasia. Proses ini mencakup berbagai tahapan yang terstruktur dan diatur oleh hukum untuk memastikan pemilihan yang adil, transparan, dan demokratis, sehingganya bagi saya pemilihan Gubernur dan Wakil gubernur, Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan wakil walikota ( pemilihan) adalah merupakan pemilu ditingkat lokal.

Dalam catatan singkat ini saya tidak membahas berbagai aspek teoritis maupun teknis terkait pemilu maupun pemilihan (pilkada) namun yang menjadi diskusi utama dalam tulisan singkat ini adalah bagaimana dalam proses politik elektoral di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah uang telah memainkan peran yang paling signifikan dalam setiap proses, uang telah menjadi kosa kata mayoritas, uang telah menjadi syarat, uang telah menjadi hal yang paling pokok dan yang paling utama dalam kesadaran umum terkait politik elektoral.  Pendapat saya ini saya dapatkan melalui amatan yang kemudian membuat saya teringat ungkapan filosofis dari Seorang filsuf muda Indonesia Martin Suryajaya yang dalam salasatu tulisannya dia mengatakan:

“UANG adalah substansi abadi yang universal. Dalam pembacaan Thao (Tran Duc Thao), kemunculan bentuk uang adalah sumber dari spekulatif para filsuf pertama di Yunani. Ia adalah arkhe, substansi dasar yang inheren dalam segala sesuatu_sebagai ukuran imanen dari segala hal ikhwal. Uang adalah ‘air’ sebagai substansi pertama menurut Thales yang kepadanya segala sesuatu direduksikan. Uang adalah yang- Tak Terbatas (Apeiron) Anaximandros dan Udara Anaximenes yang dapat bercampur dan terpisah melalui pemadatan dan penguraian. Uang adalah juga yang melandasi visi Xenofanes tentang Tuhan Yang Tunggal : “satu tuhan yang terhebat diantara segala dewa dan manusia, Ia melihat segalanya memimikirkan segalanya dan mendengar segalanya”.

Dari ungkapan pendasaran filosofis diatas kita telah melihat bagaimana sejak awal uang telah bertransformasi dari benda yang merupakan alat tukar menjadi sesuatu yang dipuja, sesuatu yang merasuki kesadaran akan realitas, uang telah bertransformasi menjadi idiologi yang “membimbing” jalan kehidupan kita.

                               * ***

Mengikuti Martin Suryajaya Ideologi adalah gambaran yang disadari maupun tidak disadari tentang kenyataan sosial-politik. Gambaran semacam itu biasanya dianggap benar tanpa dicari tahu alasannya. Orang-orang menerima begitu saja kebenaran gambaran tersebut. Karl Marx (1818-1883) menyebut ideologi sebagai ‘kesadaran palsu’ atau kesadaran yang keliru tentang kenyataan sosial-politik.

Terbentuknya ideologi adalah hasil dari proses kompleks yang melibatkan berbagai faktor sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

Ideologi bekerja dengan membentuk cara berpikir, nilai-nilai, dan keyakinan individu maupun kelompok dalam masyarakat.

Manifestasi Uang sebagai Ideologi didasari dari sistem yang kapitalistik. Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana kepemilikan pribadi dan pasar bebas menjadi landasan utama. Dalam kapitalisme, motif utama adalah keuntungan, dan kesuksesan ekonomi diukur berdasarkan akumulasi kekayaan dan kekuasaan ekonomi. Dalam kapitalisme, setiap individu didorong untuk berkompetisi dalam mengejar keuntungan, yang sering kali mempengaruhi keputusan bisnis, politik dan kemudian mewujud dalam kebijakan publik oleh pemerintah.

Uang sebagai ideologi merujuk pada pandangan bahwa uang dan keuntungan materi menjadi nilai utama atau bahkan satu-satunya yang diutamakan dalam kehidupan individu dan masyarakat. Dalam konteks ini, uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau penyimpan nilai, tetapi juga menjadi pusat dari segala aktivitas dan keputusan, baik dalam lingkup pribadi maupun sosial.

Dalam politik elektoral suara pemilih adalah komoditas yang bisa dipertukarkan dengan uang. Dan untuk mendapatkan kekuasaan politik seseorang harus mendapatkan mayoritas suara, mayoritas suara ini yang kita kenal sebagai massa  dan untuk dapat mengendalikan massa tentu saja seorang calon pemimpin dapat membelinya dengan uang dalam “pasar” politik yang kita kenal sebagai politik elektoral.

Uang sebagai syarat utama untuk mendapatkan kekuasaan politik dalam proses elektoral telah menjadi keyakinan umum dan kepercayaan utama masyarakat khususnya di Banggai. Uang yang selama ini adalah benda ciptaan manusia telah berubah menjadi penentu atas semuanya, uang telah menjadi “berhala” modern yang bisa menggerakkan orang – orang untuk berbaris menuju tempat pemungutan suara.

Dengan uang sebagai idiologi utama dalam proses poltik elektoral kita tidak bisa berharap banyak akan menghasilkan pemimpin yang amanah, pemimpin yang jujur, pemimpin yang dalam setiap pikirannya bahkan tidurnya selalu memikirkan rakyat, memikirkan kemajuan daerah dan memikirkan pembangunan yang berkelanjutan.

Dan uang sebagai idiologi sepertinya akan lama menjadi teman setia seperjalanan kita, dia akan menjadi navigator dalam perjalan panjang politik elektoral kita, dia akan hadir dalam setiap percakapan politik di gubuk – gubuk miskin buruh tani, di pondok- pondok nelayan, di warung – warung kopi kaum urban dan dalam seminar-seminar akademik kaum cerdik cendekia, maupun dalam perjamuan mahal kaum kaya.

Sebagai penutup tulisan singkat ini saya ingin menyampaikan bahwa uang sebagai ideologi adalah fenomena yang kompleks dan multifaset, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia termasuk politik elektoral. Pemahaman kritis dan alternatif terkait tujuan dari politik elektoral menjadi penting untuk dapat menjelaskan apa yang berada di balik ideologi tersebut sehingga kita dapat melampaui apa yang saat ini kita saksikan dan alami sebagai politik transaksional berbasis uang.

Alternatif pemikiran dan gagasan tentang pembangunan yang berkelanjutan menjadi penting dan mendesak untuk dikerjakan bersama guna mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh idiologi ini.

Kilongan Permai 16 Mei 2024

*Penulis adalah petani pisang