Dongeng Romantis Tentang Malaikat yang Pikun - Utustoria Dongeng Romantis Tentang Malaikat yang Pikun - Utustoria

Dongeng Romantis Tentang Malaikat yang Pikun

945
Spread the love

Photo: Ilustrasi (Abdy Gunawan)

Dongeng Romantis Tentang Malaikat yang Pikun

Karya: Abdy Gunawan
 
Pukul tiga sore. Seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, Baim berdiri menunggu seseorang di halte yang terletak di dekat kampus tempat ia kuliah dulu. Orang-orang berlarian, bersaing untuk mendapatkan posisi yang pas di bawah lindungan atap halte bus supaya tidak basah oleh hujan deras yang turun tiba-tiba.

Rata-rata, insan yang singgah di tempat itu adalah mereka yang lupa membawa payung ataupun jas hujan. Tidak ada opsi lain selain menunggu hujan reda di halte yang sama dengan Baim. Anehnya, Ada saja yang tidak siap menghadapi cuaca yang sudah terpola dan rutin terjadi itu.

Pukul tiga sore di Kota Manado selalu hujan. Stasiun TV menyebutkan, bulan ini Manado memasuki musim panas, yah panas yang menghangatkan warganya sejak pagi hingga pukul dua siang, lalu lantas turun hujan saat pukul tiga sore, dan anehnya, ia Kembali menghangat saat memasuki pukul empat sampai pagi kembali tiba.

“Tenanglah! Hujan ini hanya berlangsung selama satu jam,” kata seorang pria kepada pacarnya yang kesal karena hampir terlambat hadir di kelas.

“Makannya, kamu beli mobil dong! Jadi tidak harus berteduh seperti ini,” balas si wanita.

Baim yang dari tadi diam menatap air yang jatuh mengenai aspal di depannya, kini tersenyum dan memalingkan wajah ke arah pasangan tadi.

“Kalian harusnya bersyukur, bisa jadi karena hujan ini, kalian masih diberikan kesempatan untuk bersama walaupun hanya sebentar.”

“Apa maksudmu?”

“Lebih baik kau memanfaatkan hujan dan halte ini untuk meminta maaf kepada pacarmu, atau yah, setidaknya kau bisa mengungkapkan kembali perasaanmu padanya.”

Wanita itu termenung mendengarkan apa yang disampaikan Baim. Ia terdiam, sedikit bingung kemudian tersenyum kepada pacarnya.

“Benar juga kata dia, aku dari tadi hanya mengomelimu, maaf—," hujan pun berhenti begitupun kalimatnya. Rupanya kehadirannya di kampus lebih penting dibandingkan momen terakhir yang ia dapat luangkan bersama pacar yang selalu menemaninya, “ah sudah berhenti, biar aku lari saja, kampusnya dekat kok.”

“Praaak!” sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menghantam Wanita itu tepat setelah ia meninggalkan halte.

“Senin, 15 Maret 2030, Jennifer Hasibuan, gagal,” Baim bergumam sambil menuliskan sesuatu di buku catatan miliknya.
 
* * *

“Akan ada siapa lagi hari ini?” Baim bertanya kepada seorang malaikat pria yang duduk di sebelahnya. Ia tampak lebih tua dengan kumis hitam dan janggutnya yang lumayan panjang.

“Namanya Ridwan, pengusaha, ia diam-diam selingkuh dengan istrinya,” sama dengan Baim. Malaikat yang menemaninya di halte saat itu, memakai setelan jas lengkap berwarna putih.

“Kenapa Tuhan masih memberikan dia kesempatan? Dia selingkuh loh, biarkan saja dia mati tanpa harus singgah di halte.”

“Semalam ia berdoa, dalam doanya ia mengaku menyesal pada tuhan dan ingin minta maaf pada istrinya, karena hari ini dia menemui ajal, jadi salah satu cara yah, dengan mampir di haltemu.”

“Bagaimana kalau gagal seperti wanita kemarin?” tanya Baim.

“Kau kurang memberi motivasi, tugasmu adalah mengusahakan agar mereka bisa sedikit lebih lama disini dan menghabiskan momen terakhir untuk memberi kesan baik pada pasangan mereka.”

“Kurasa yang kulakukan sudah cukup, apa aku harus menyebutkan bahwa aku malaikat yang sengaja menunggu di sini agar kalian bisa bla bla bla.”

“Bukan begitu juga sih,” malaikat teman Baim kesal karena Baim belum juga mengerti esensi tugas yang diberikan Tuhan kepadanya, ia menendang kaki Baim dengan sangat keras, “Itu namanya membocorkan rahasia Ilahi, bukan takdir namanya jika tidak lagi rahasia, apalagi menyangkut ajal.”

Hujan akhirnya turun juga. Malaikat tadi mengerti kalau sekarang saatnya Baim melaksanakan tugasnya.

“Nah ini dia, Avanza warna biru,” jentikan jari Baim membuat sebuah mobil yang bergerak ke arah halte berhenti lalu mengeluarkan asap tiba-tiba. Sang istri keluar duluan lalu cepat-cepat berlari menuju halte untuk berteduh.

Sementara sang suami masih memeriksa mesin mobil yang mengeluarkan asap. Membiarkan dirinya basah oleh air hujan asalkan diri dan pasangannya bisa segera ke tempat tujuan.

“Papa kesini! Hujannya deras, nanti sakit, kita tunggu sampai hujannya berhenti, hujannya kan cuma sejam.”

Laki-laki itu menuruti permintaan istrinya. Baim memperhatikan ada rasa bersalah yang tersirat dari wajah si suami. Ia ketakutan, dan menghindari bertatapan langsung dengan istrinya.

“Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu di kantor,” tanya sang istri kepada suami.

“Ah tidak, aku hanya kedinginan.”

“Iya ada yang aneh denganmu, mungkin kau ingin menyampaikan sesuatu kepada istrimu.”

“Ah tidak-tidak, eh ngomong-ngomong siapa kamu? Beraninya kau mencampuri obrolanku bersama istriku.”

“Aku tidak sengaja mendengarnya, dan sangat jelas terlihat ada yang aneh denganmu,” Baim mencoba mempengaruhi si suami supaya rencana Tuhan agar laki-laki itu memiliki kesempatan memperbaiki kesalahannya, berhasil.

“Tidak ada yang aneh denganku, hanya saja, hanya saja, ada sesuatu yang—”

“Ada apa, Sayang? Katakan?” potong istrinya.

“Eh, aku akan menunggu di mobil saja—” Ketika laki-laki tadi hendak masuk ke dalam mobil yang terparkir tepat di depan halte, seorang pria entah dari mana datang lalu menikamnya tepat di perut, “Mati kau, Koruptor!” Kata Pria asing tadi sebelum lari meninggalkan seorang suami yang gagal mengakui perbuatan buruknya.

“Nomor 97, Abdul Hamid, 16 Maret 2030, gagal,” setelah Baim memasukan kembali buku catatan ke dalam saku jasnya. Ia mengamati si istri yang panik di samping jasad suaminya.

Setelah mengamati wajahnya dengan saksama, Baim menyadari sesuatu. Ia memegang kepalanya yang mulai terasa pening, muncul dalam ingatan Baim, wajah-wajah wanita yang singgah di halte, entah untuk menemui ajal atau menjadi saksi kematian pasangan mereka.
 
* * *

“Sedikit lagi aku akan ke surga, tinggal tiga orang lagi.”

“Kau seorang malaikat, tempatmu memang di surga,” malaikat yang sama datang lagi untuk memberikan data orang yang akan singgah di halte dan mati hari ini.

“Tapi aku tidak mau berada di bumi terus menerus dan melakukan tugas ini.”

“Begitulah malaikat, seperti aku, tugasku memberikanmu data kematian, selain kita, ada yang tugasnya menyampaikan wahyu, memberi rezeki, menghukum orang di neraka, semua punya tanggung jawab masing-masing.”

“Aku takut saja, jika nanti seseorang mengenalku, atau aku bertemu orang yang ku kenal.”

“Hahaha hubungan kita dengan dunia sudah terputus, tidak ada yang akan mengenalimu, kau juga tidak akan mengenal siapapun yang hidup saat ini, malaikat hanya fokus pada apa yang ditugaskan Tuhan.”

“Tapi kemarin, aku serasa bertemu dengan, ah tidak, tidak hanya kemarin, tapi semenjak aku mengemban tugas ini.”

“Hahahaha aneh, kau memang malaikat yang unik, bisa-bisanya seorang malaikat merasa bosan dengan tugasnya, tenang saja, jika sudah 100 kau akan bertukar tugas dengan malaikat lain.”

“Kau tidak membohongiku, kan?”

Teman malaikatnya tersenyum, ia tidak menanggapi apa yang ditanyakan Baim, “Okey, hujan sudah mau turun, langsung saja yah, Nadila, kelas 5 SD, ia baru seminggu bertemu dengan ibunya, mereka terpisah sejak Nadila masih bayi karena bencana alam.”

“Okey, ucapan perpisahan ya? Ini mudah haha, tidak seperti permintaan maaf atau pengakuan kesalahan.”

“Jangan menganggap remeh pekerjaan, dari 97 orang yang datang ke halte, hanya 7 orang yang berhasil menyampaikan pesan terakhirnya,” malaikat tadi menendang kaki Baim. Sebagai yang lebih senior, ia menganggap Baim tidak professional dan serius melakukan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya dan harus diberikan teguran.

“Aduh, dasar orang tua!” kata Baim kesal, walaupun ia mengucapkannya saat malaikat tersebut menghilang dari pandangan Baim. Hujan pun turun.

Seorang Wanita paruh baya bersama anak kecil berlari menghampiri halte. Tangan mereka penuh dengan belanjaan. Anak itu terlihat gembira meskipun pakaiannya basah terkena hujan.

Meskipun pernah mendapat kasus yang sama, Baim masih saja belum terbiasa jika harus melihat anak kecil yang polos mati di depannya. Menjadi malaikat tidak menghilangkan rasa sedih saat menatap senyum bahagia seorang anak yang tidak tahu bahwa waktunya di dunia tinggal sebentar lagi.

“Kau sangat Bahagia saat ini, apa boleh om tahu kenapa?”

“Akhirnya ibuku pulang, dan dia membelikanku boneka yang banyak sekali.”

“Hmm kalau begitu, kau harus menyampaikan rasa sayangmu pada ibumu sekarang.”

Anak itu berjalan ke arah ibunya. Sang Ibu menunduk supaya dapat mendengar apa yang ingin dibisikan anaknya. Beberapa detik kemudian, senyum haru terlukis di wajah ibu, bersamaan pula dengan berhentinya hujan.

“Ayo kita pulang, Mama, hujan sudah berhenti.”

“98, Nadila Ahmad, 17 Maret 2030, berhasil,” Baim bahagia melihat buku catatannya yang hampir penuh.

“Inggi tunggu ibu, Nak!”

“Inggi!” Baim menyadari sesuatu begitu mendengar nama anak itu. Ia berlari cepat ke arah jalanan dan bergegas menyelamatkan Inggi saat ia hampir tertabrak mobil.

Tiba-tiba Cahaya putih datang dari langit, mendarat tepat di tubuh Baim yang terbaring di aspal. Rupanya Cahaya putih yang menindihnya adalah malaikat tua yang dikenalnya.

“Kenapa kau mengintervensi kematian manusia?”

Baim mendorong malaikat itu, membuat ia terlempar beberapa meter dari posisi semula, “Aneh! Katamu ingatan kita saat masih hidup hilang, tapi aku kenal anak itu.”

“Jangan bodoh! Kau hanya kehilangan akal sehat karena merasa Lelah dengan tugas ini, sabar lah! Tugasmu adalah memastikan manusia mendapatkan kesempatan kedua sebelum meninggalkan dunia.”

“Manusia katamu? Mengapa manusia yang datang selalu mirip dengan Inggi, siapapun Wanita yang muncul di halte ini, wajahnya seperti Inggi,” Baim mengamuk di tengah jalan. Ia merasa ditipu oleh semesta. Merasa dirinya sangat bodoh karena baru menyadari keanehan yang terjadi, dan parahnya Baim sama sekali tidak tahu apa maksud dan tujuannya.

“Inggi siapa maksudmu? Semua orang yang datang adalah setiap manusia yang ditakdirkan untuk tiba di halte ini, bisa siapapun.”

“Siapapun katamu? Semua yang datang di halte ini adalah Inggi! Apa yang kau dan Tuhanmu lakukan padaku?” Bentak Baim.

“Ini bukan tentangmu, ini adalah tugas untuk memberikan momen terakhir bagi setiap manusia bersama orang yang dicintainya, kau hanya petugas, kau bahkan mencoba menghalangi ajal seseorang, lagipula kau gagal, anak itu akan mati karena serangan jantung bukan kecelakaan.”

“Apa yang Tuhan mainkan saat ini? Katakan!”

“Tuhan enggan bermain, Baim, tapi ia suka memberi hukuman, terutama kepadamu, yang telah berani lalai dalam tugas, dan bahkan mempertanyakan rencananya,” dua orang malaikat dengan tubuh yang lebih besar muncul di sisi kiri dan kanan Baim. Mereka langsung memegang kedua lengannya dengan erat.

Baim mencoba melepaskan diri tetapi kalah kuat dengan malaikat di kedua sisinya itu. Alhasil, Baim hanya dapat menyaksikan malaikat tua yang berdiri di hadapannya, menjentikan jari dan membuat Baim kehilangan kesadaran.

Baim menyadari dimana kini ia berada begitu terjaga. Halte yang sama tempat ia bertugas setiap hari, kampus di seberang, dan hujan deras yang selalu muncul di jam tiga sore.

“Apa hukumannya?”

“Hahaha aku bercanda tadi, tidak ada hukuman sama sekali,” kata si malaikat tua.

“Lalu mengapa kau membawaku kemari? Apa jangan-jangan kita masih berada di waktu yang sama?”

“Kita berteduh di sini dulu,” kata seorang pria kepada wanita yang sama-sama turun dari motor bebek berwarna biru.

“Ah aku ingat, ini tugas pertamaku.”

“Tepat sekali!, Tuhan menyuruhku melakukan riset terhadapmu, karena sangat jarang seorang malaikat mengingat kembali hal-hal saat ia masih hidup.”

“Lalu kenapa ini?”

“Kita akan mendatangi 98 momen ketika kau melaksanakan tugas, untuk memastikan bahwa setiap wanita yang datang adalah orang yang kau kenal seperti asumsimu, jadi kita mulai dari yang pertama.”
 
* * *

“Apakah kau harus semarah itu padaku? Aku hanya mencoba berteman dengan orang lain,” kata Inggi kepada pria yang bersamanya dari tadi.

“Apakah harus dengan mereka? Mereka itu pria, dan kau akan mendaki gunung bersama mereka? Ah gila!”

“Mereka berada di organisasi yang sama denganku, lantas apa salahnya?”

“Mereka laki-laki!”

“Ini bukan yang pertama, kau selalu membatasi pergaulanku, aku bukan gadis pada umumnya, mereka tidak tertarik padaku, lihat aku!” Inggi melepaskan topinya, memperlihatkan rambutnya yang pendek bak pria itu.

“Kau juga tidak akan tertarik kepada mereka bukan? Jawab!” Suara pria yang duduk di depan Inggi itu meninggi.

“Hey, sudah kubilang berapa kali, apa yang ada diantara kita berdua tidak perlu diungkapkan, semua sudah jelas, maaf jika aku tidak se feminim dan seromantis wanita lain untuk menyanjungmu dengan ungkapan sayang.”

“Tapi apa salahnya? Hah?”

“Baiklah Baim, biarkan aku memikirkannya dul—”

“Ah kau terlalu lama berfikir, berfikir terus sampai kau mati.”

Inggi membisu. Wanita itu sedih dengan apa yang diucapkan lawan bicaranya barusan. Dengan gegabah, ia berdiri lalu meninggalkan halte. Sebelum pergi, ia masih sempat menendang kaki si pria dengan sangat keras, kemudian sebuah mobil menabrak Inggi Ketika dia akan menyeberang jalan.

“Tunggu! Seingatku aku berhasil membuat wanita itu mengakui perasaannya,” sejak tadi Baim dan si malaikat tua menonton drama halte itu dari Seberang jalan.

“Lihat sampai selesai!”

Pria tadi menangis tersedu-sedu di depan mayat perempuan yang mati di hadapannya. Bahkan sejak kekasihnya dilarikan ke rumah sakit, ia tetap tinggal disana.

Ia tidak hentinya menangis. Berjam-jam, tanpa makan dan minum. Orang-orang disekitar menatapnya bingung. Aneh memang, seorang pria menangis, berteriak bahkan tertawa sendiri di pinggir jalan.

Terlihat teman, keluarga dan kerabatnya mencoba mengajaknya pulang tetapi ia tidak mau. Pernah sesekali ia sembunyi saat orang datang mencarinya, dan kembali ketika halte itu sepi. Akhirnya, karena dehidrasi yang amat parah, lelaki itu meregang nyawa.

Keesokan harinya, tepat pukul 3 sore jasad pria yang telah mati tadi mendadak terbangun, mengagetkan dua sejoli yang sedang bertengkar soal batasan dalam pertemanan.

“Kau harusnya mendengar apa yang wanita ini ungkapkan, bisa jadi momen di halte ini adalah momen terakhir kalian.”

“Dan, Cut! Itulah tugas pertama mu sebagai malaikat! Bagaimana? Apa kau yakin dia Inggi yang kau maksud?”

“Ah rupanya bukan, rupanya aku berlebihan, cepat kembalikan aku ke waktu semula, aku ingin cepat menyelesaikan tugasku, aku muak dengan semua adegan halte ini.”

Malaikat tua itu bingung. Ada perasaan sedih di wajahnya, tetapi apa boleh buat, usaha yang diperuntukan untuk Baim rupanya sia-sia. Apalagi Baim hingga saat ini, masih melihat dia sebagai sosok pria seperti selama ini.
 
* * *

Kejadian setelah Baim meninggal …

Baim sedang duduk di taman firdaus, menyaksikan kelinci berlarian kesana kemari penuh suka cita. Rupanya ia langsung berada di surga tatkala ruhnya berhasil membuat si wanita mengungkapkan isi hatinya.

“Ibrahim Al Farizi?” sapa malaikat tua yang Ketika itu belum dikenalnya.

“Kau akan menjadi malaikat.”

“Apa untungnya?”

Si malaikat tua menendang kaki Baim, disertai wajah cemberut tanda kesal, “Ini perintah Tuhan.”

“Oh begitu, lantas apa untungnya?”

“Dasar! Kau tidak perlu bereinkarnasi seperti manusia lain, selamanya akan tinggal di surga, kau hanya perlu melaksanakan tugas yang diberikan.”

“Tugas apa?”

“Seperti yang kau lakukan sebelum kesini, memberi momen perpisahan yang baik sebelum seseorang meninggal.”
 
* * *

Baim tertawa Ketika mengingat pertama kali si malaikat tua mengajaknya menjadi malaikat. Ia, berbeda dari biasanya tampak senang menjalankan tugas yang ke 99 kali hari itu.

“Baiklah untuk hari ini, orang yang akan mati berna—,” kata si malaikat tua begitu ia muncul tepat di samping Baim.

“Kenapa kau harus menjadi malaikat tua seperti ini, Inggi?” potong Baim.

“Itu karena kau lupa ingatan,” meskipun kesal, Inggi dalam wujud malaikat tua itu Bahagia karena Baim akhirnya mengenal dirinya yang sebenarnya.

“Kenapa aku bisa lupa ingatan?”

“Kau mati dengan penyesalan bahwa aku mati karena dirimu, nyawamu hilang saat kau dirundung rasa bersalah, aku tidak tega, makannya aku mohon pada tuhan agar kau melupakan aku.”

“Wait! Wait! Melupakanmu? Semua tugas yang kau beri menuntunku untuk mengingatmu kembali, dari dulu kau tidak konsisten.”

Inggi menendang kaki Baim. Saat Baim selesai merintih akibat sakit di kakinya, ia kembali menatap sosok yang membuatnya kesakitan. Bukan lagi pria tua, tetapi wanita cantik, dengan rambut gaya tomboy, tetapi bukan lagi dengan kaos oblong dan celana jeans, kini ia memakai gaun putih.

“Wow, kau sangat tidak cocok memakai pakaian seperti ini haha.”

“Oh, Baim!” Inggi memeluk Baim dengan sangat erat, “Kita malaikat sekarang, menjalani kehidupan abadi bersamamu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku, dan sia-sia jika kau tidak mengingatku, makannya aku berubah pikiran, dan berusaha membantumu.”

“Maaf, aku membuat dirimu menunggu terlalu lama,” Baim menatap wajah kekasihnya itu dengan penuh haru, lalu mencium jidatnya.

Tamat.
 
Luwuk, 15 April 2024

TAG