Lebaran dan Kemiskinan Tersembunyi - Utustoria Lebaran dan Kemiskinan Tersembunyi - Utustoria

Lebaran dan Kemiskinan Tersembunyi

2238
Spread the love

Photo: Supriadi Lawani

Oleh : Supriadi Lawani

Utustoria.com – Catatan ini saya tulis ketika beberapa hari lalu saya bertemu dengan teman lama saya, teman saat kecil. Pertemuan kami tidak disengaja alias kebetulan karena kami harus berteduh dihalaman bangunan swalayan sambil menunggu hujan reda. Setelah bersalaman dan bertanya kabar saya mengetahui saat ini dia sedang bekerja sebagai tukang ojek kelililing dan menyewa kos berdiding papan diseputaran kota luwuk kabupaten Banggai Sulawesi Tengah bersama istri dan ketiga anaknya yang sedang duduk di sekolah dasar.

Teman saya ini meninggalkan desanya untuk mencoba peruntungan di kota kabupaten sebagai tukang ojek keliling. Alasannya meninggalkan desa adalah karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan setiap harinya, meskipun memiliki sehektar tanah warisan dari orang tua namun itu tidak dapat menjamin. Ternyata bukan hanya dia yang harus meninggalkan kampung, karena menurut ceritanya ada beberapa orang yang sedesa dengannya melakukan hal yang sama, meninggalkan desa untuk bertahan hidup. Pekerjaan mereka di kota kabupaten macam-macam mulai dari buruh toko sampai tukang parkir dan ini dilakoni hanya untuk bertahan hidup. Menyewa kos seukuran kecil untuk hidup sekeluarga, dalam hati saya bertanya bagaimana jika cuaca hujan ? atau sedang sakit? atau sepeda motor rusak?

Saya belum mengerti apa yang salah dengan tata kelola pertanian kita sehingga orang – orang harus meninggalkan desa untuk ke kota atau ke lokasi industri ekstraktif hanya untuk bertahan hidup, mungkin harus ada penelitian serius tentang ini.

Setelah hujan reda dan kami akan berpisah saya bertanya dimana dia akan merayakan lebaran tahun ini, sambil tertawa dia belum bisa memastikan dimana dia dan keluarganya akan berlebaran karena jangankan kue-kue, baju lebaran anakpun belum ada. Sebagai tukang ojek dia tidak punya Tunjangan Hari Raya (THR) dan bukan hanya dia sebagai tukang ojek, buruh tani, petani kecil, nelayan tradisional mereka semua tidak punya THR. 

Senyum yang getir dari seorang ayah menggetarkan hatiku, ternyata begitu banyak kemiskinan tersembunyi di daerah ini.

Tentang Lebaran

Lebaran adalah istilah untuk merayakan Idul Fitri, juga dikenal sebagai Hari Raya Idul Fitri yang dapat diartikan sebagai salasatu hari raya besar umat Islam yang dirayakan untuk menandai akhir bulan puasa Ramadan. Lebaran Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawal dalam penanggalan Hijriyah, yang merupakan bulan Islam. Perayaan ini merupakan momen kegembiraan dan kebersamaan bagi umat Islam di seluruh dunia, di mana mereka berkumpul bersama keluarga dan teman-teman, saling bermaafan, dan memberikan sedekah kepada yang membutuhkan. Tradisi umum selama Lebaran termasuk salat Idul Fitri, berziarah ke makam keluarga, bertukar ucapan selamat, dan menyajikan hidangan khas Lebaran.

Namun Lebaran Idul Fitri bukan sekedar perayaan namun sejatinya dan seharusnya setelah berpuasa sebulan penuh, maka lebaran dapat menjadi momen refleksi bagi umat Islam tentang kondisi sosial di sekitar mereka, termasuk kemiskinan dan kesulitan yang dihadapi oleh banyak orang. Di tengah perayaan kegembiraan setelah berpuasa sebulan penuh umat Islam pada prinsipnya diajak untuk merenungkan peran mereka dalam membantu sesama, memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, dan berupaya untuk mengurangi kesenjangan sosial. Ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya kedermawanan, keadilan sosial, dan empati terhadap orang lain, terutama yang kurang beruntung. Oleh karena itu, Lebaran Idul Fitri seharusnya tidak hanya menjadi perayaan pribadi, tetapi juga menjadi waktu untuk memperkuat hubungan sosial dan memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan bantuan. Lebaran adalah momentum untuk melakukan konsolidasi untuk melawan kemiskinan.  Dalam konteks Lebaran Idul Fitri, momen ini dapat menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan bagaimana kita dapat berkontribusi dalam memerangi kemiskinan.

Kemiskinan Tersembunyi

Kemiskinan tersembunyi adalah kondisi di mana individu atau kelompok masyarakat secara relatif miskin, tetapi tidak terlihat secara jelas atau tercatat dalam statistik resmi kemiskinan.

Banyak faktor yang mempengaruhi kemiskinan tersembunyi ini namun paling tidak ada dua faktor yang paling umum yang menjadi dasarnya, pertama terkait pekerjaan yang sifatnya pekerjaan informal atau pekerjaan tidak stabil, orang-orang yang bekerja dalam sektor informal atau dengan pekerjaan yang tidak stabil ini sangat rentan menghadapi kesulitan keuangan tetapi tidak tercatat dalam statistik kemiskinan resmi karena pendapatan mereka memang tidak stabil atau tidak tercatat.

Kedua Biaya hidup yang tinggi, orang-orang mungkin berada di bawah garis kemiskinan resmi tetapi menghadapi biaya hidup yang tinggi, seperti biaya perumahan yang tinggi atau biaya kesehatan, mahalnya kebutuhan pokok, biaya listrik, air bersih dan kebutuhan dasar lainya sehingga sulit bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Ada perbedaan dalam basis penghitungan garis kemiskinan antara Bank Dunia (World Bank) dan Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut Bank Dunia dalam basis perhitungan terbaru, Bank Dunia menaikkan garis kemiskinan ekstrem dari US$1,9 menjadi US$2,15 per kapita per hari. Dengan asumsi kurs Rp15.216 per dolar AS maka garis kemiskinan ekstrem Bank Dunia Rp32.812 per kapita per hari atau Rp984.360 per kapita per bulan.

Bank Dunia juga menaikkan ketentuan batas untuk kelas penghasilan menengah ke bawah (lower middle income class). Batas kelas penghasilan menengah bawah dinaikkan dari US$3,20 menjadi US$3,65 per kapita per hari. Nilainya setara dengan Rp55.538 per kapita per hari atau Rp1.666.152 per bulan. Selanjutnya, batas penghasilan kelas menengah ke atas (upper-middle income class) dinaikkan dari US$5,50 menjadi US$6,85 per kapita per hari. Nilainya setara Rp104.537 per kapita per hari atau Rp3.136.110 per bulan.

Sementara itu, BPS mengartikan garis kemiskinan (GK) sebagai cerminan nilai rupiah pengeluaran minimum yang diperlukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya selama sebulan, baik kebutuhan makanan maupun non-makanan. GK terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non-makanan (GKNM).

Menurut BPS garis Kemiskinan pada Maret 2023 tercatat sebesar Rp550.458,-/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp408.522,- (74,21 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp141.936,- (25,79 persen).

Jelas perbedaan antara Bank Dunia dan BPS dalam mengukur kemiskinan, bagi saya sudah seharusnya BPS mengikuti standar Bank Dunia jika memang serius ingin menghilangkan kemiskinan.

Belum lama ini beberapa media lokal merilis bahwa kabupaten Banggai provinsi Sulawesi Tengah nol persen kemiskinan ekstrem namun jika kita menggunakan standar Bank Dunia dalam menghitung garis kemiskinan maka bukan tidak mungkin kemiskinan ekstrem masih ada di daerah ini, apalagi  kemiskinan tersembunyi jika kita mau jujur untuk mengungkap maka akan begitu banyak barisan kemiskinan di daerah ini.

Kehidupan yang rentan akibat kemiskinan yang tersembunyi membuat lebaran tahun ini  menjadi haru dan menguras emosi. Untuk mengakhiri catatan singkat ini izinkan saya mengucapkan;

Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin!!

“Semoga Allah menerima [amal ibadah Ramadan] kami dan kamu. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima [amal ibadah].

Hafizhanallah (Semoga Allah menjaga kita) !!

*Penulis adalah petani pisang

Photo: Supriadi Lawani


TAG