Senangnya Menipu Matahari - Utustoria Senangnya Menipu Matahari - Utustoria

Senangnya Menipu Matahari

338
Spread the love

Photo: Ilustrasi, Abdy Gunawan

Senangnya Menipu Matahari
Karya Abdy Gunawan

Di setiap prosa yang diukir tuhan di pelepah langit,
ada saja angkara pembenci akhir bahagia,
anehnya sutradara diam saja di sepanjang cerita,
pemirsa pun hanya bisa menebak-nebak,
melirik dengan curiga, tapi terlalu pengecut untuk menyumpah.

Debu-debu di bingkai jendela,
bertemu subuh yang lupa membawa embun,
ini terlalu hangat untuk sebuah awal hari,
ada apa sekarang?
mungkin fajar akhirnya tahu siapa antagonis kali ini.

Lewat jendela seukuran kepala,
mentari merah itu menyeringai padaku,
kesal karena bertahun-tahun ku tipu,
katanya ia enggan untuk kembali besok,
biar bulan yang selamanya jadi penikmat sandiwara bikinan ilahi itu.

Pagi terburuk selama kuhidup,
sebuah bola gas angkasa berumur miliaran tahun kini tahu menghardik,
kecewa pada satu adegan yang membuatnya gagal menebak penutup kisah.

Pusat semesta saja hanya duduk di bangku penonton,
menyaksikan drama yang dibuat tuhan agar ia tidak bosan lantas menyegerakan kiamat,
apalagi manusia, sebatas penghibur yang menunggu entah cibiran atau pelukan menghampiri.

Ternyata aku pendosa dalam cerita ini,
sama sepertinya, tertipu menganggap akulah tokoh utama,
mengemis maaf kukira memang tabiat seorang pahlawan.

Subuh lebih hangat dari biasanya,
mentari geram tersulut emosi,
mengira ia menyaksikan lakon soal rindu yang enggan tergerus waktu,
selalu bertepuk tangan tatkala aku mengenang masa lalu dan menatap fotomu.

"Tokoh yang setia," puji selalu matahari begitu terbit dan berjumpa dengan aktor favoritnya.

Setidaknya demikian, sebelum ia tahu kau begitu membenciku.

Luwuk, 16 Maret 2024