Masih Honorer dan Dianggap Tidak Kompeten, Kades Moilong Tolak Surat Tugas Bidan Desa - Utustoria Masih Honorer dan Dianggap Tidak Kompeten, Kades Moilong Tolak Surat Tugas Bidan Desa - Utustoria

Masih Honorer dan Dianggap Tidak Kompeten, Kades Moilong Tolak Surat Tugas Bidan Desa

3099
Spread the love

Photo: Ilustrasi

Utustoria.com, Banggai – Peristiwa piluh harus dialami oleh Devina Gita Angriani, seorang bidan Desa di Moilong. Dirinya dipaksa menerima kenyataan untuk tidak dapat bertugas di Kampung halamannya karena dianggap tidak berkompeten dan masih berstatus Honorer.

Kejadian itu bermula saat Vina, panggilan akrabnya, menemui kepala Desa Moilong, H. Aher. pada tanggal 6 Maret Kemarin. Dengan bermodalkan surat tugas yang diberikan oleh Kepala Puskesmas Toili I. Vina yang ditemani oleh seniornya yang juga adalah Kepala Tata Usaha terpaksa harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak diizinkan untuk bertugas di desa Moilong dengan alasan H. Aher selaku Kepala Desa ingin agar yang bertugas adalah bidan yang sudah berstatus ASN.

Kepala Tata Usaha (KTU) Puskesmas Toili I yang mendampingi Vina, sudah coba untuk memberi penjelasan terkait tugas dan Fungsi, agar Kepala Desa Moilong bisa menerima dan memperkerjakan Vina sebagai Bidan Desa. Namun sejumlah alasan diungkap oleh kepala Desa, menurutnya seorang honorer tidak memiliki pengalaman dan kompetensi yang baik. Bahkan dalam potongan Video yang sempat terekam kamera Handphone, H. Aher mengatakan bahwa seorang Bidan Desa yang bertugas adalah tanggung jawabnya untuk memberikan gaji, olehnya itu ia merasa berhak untuk menolak ataupun menerima.

“Saya yang menggaji, itu persoalannya. Kalau kalian mau menggaji silahkan.” Ungkap H. Aher dalam cuplikan video rekaman.

Vina yang menghadapi dan mendengar langsung jawaban dan penolakan surat tugasnya, tak kuasa menahan tangis. Ia pun sempat mengeluarkan air mata di hadapan Kepala Desa, H. Aher, tapi itu juga tidak merubah keputusan.

Saat kabar ini dikonfirmasi oleh awak media kepada Kepala Desa Moilong, hal itu diakui bahwa dirinya memang membutuhkan seorang Bidan Desa yang sudah berstatus ASN, dengan alasan pengalaman dan kompetensi, karena menurutnya Desa Moilong adalah Desa dengan Angka penderita Stunting terbanyak.

“Saya memang butuh yang sudah ASN, karena kalau honorer dia masih harus belajar lagi, siapa yang mau ajar, apalagi kita di Moilong itu paling banyak angka stunting.” Ujar H. Aher melalui sambungan telepon. (08/03/2024)

Dirinya juga menambahkan bahwa telah menghubungi Kepala Puskesmas Toili I, Riska, agar bisa memenuhi permintaannya.

Saat Kepala Puskesmas, Riska, diwawancarai, dirinya mengaku bahwa memang ada miskomunikasi antara dirinya dengan kepala Desa Moilong. Dirinya juga mengaku telah dihubungi oleh kepala Desa melalui sambungan telepon. Bahkan dirinya juga telah ikut menjelaskan bahwa seorang tenaga kesehatan yang telah memegang surat tanda registrasi (STR) itu menandakan bahwa dirinya telah memenuhi standar kompetensi sebagai seorang Tenaga Kesehatan. Selain itu Kepala kepala Puskesmas Toili I juga membenarkan bahwa penting untuk setiap bidan yang bertugas untuk memperoleh kepercayaan Masyarakat

“Pak Kades tidak menolak Pribadi Vina, hanya dia ingin yang sudah ASN. Karena sifatnya itu adalah surat tugas, bisa juga Opsinya agar si Vina dalam status uji coba, kalau memang dalam waktu tertentu tidak kompeten, maka ia bisa kami tarik dari penugasannya. Tetapi hal itu sudah tidak kami lakukan, karena persoalan ini juga sudah mengundang reaksi pribadi dari Vina.” Ungkap Riska, selaku Kepala Puskesmas. (08/03/2024)

Diwaktu yang berbeda, informasi yang berhasil dihimpun dari Devina Gita Angriani, selaku Bidan Desa yang tidak diizinkan bertugas di Desa Moilong, bahwa terlepas dari statusnya yang honorer dan dianggap tidak kompeten, ada indikasi lain yang dianggap jadi penyebab H. Aher, selaku kepala Desa Moilong tidak bisa menerima kehadirannya sebagai Bidan Desa. Namun hal itu masih dalam upaya pembuktian. (Red)