Rifat Hakim, Anak Kampung Yang Melawan Politik Dinasti Di Banggai - Utustoria Rifat Hakim, Anak Kampung Yang Melawan Politik Dinasti Di Banggai - Utustoria

Rifat Hakim, Anak Kampung Yang Melawan Politik Dinasti Di Banggai

848
Spread the love

Photo: Rifat Hakim

Oleh : Supriadi Lawani

Saya menulis catatan singkat ini dengan ketergesaan yang emosional, betapa tidak setelah melihat hasil rekapitulasi sementara hasil pemilihan umum di kabupaten Banggai maka menjadi final bahwa telah menjadi kenyataan Banggai dalam beberapa bulan kedepan akan menyaksikan politik dinasti berkuasa di daerah yang kaya mineral ini. 

Dalam catatan saya sebelumnya saya menceritakan sedikit tentang politik dinasti yang pada kesimpulannya menurut saya adalah kelindan antara politik uang dan politik kekerabatan (nepotisme ) yang mana dengan menggunakan kekuasaan negara karena otoritas yang ada padanya sebagai pemimpin (Bupati, Gubernur, Presiden) maka pejabat itu dapat menggerakan semua sumberdaya negara untuk mewujudkan kepentingan politik kerabatnya atau keluarganya agar berkuasa dan mengisi posisi jabatan publik. 

Sejak bulan oktober 2023 kemarin ketika saya selesai menulis catatan pendek tentang politik dinasti di Banggai saya bertemu dengan seorang anak muda kampung asal Batui kabupaten Banggai di pondok milik keluarganya diseputaran Luwuk. Pondok yang berdinding papan tipis dan beratap rumbiah. 

Anak muda ini bernama lengkap Rifat Hakim tapi banyak kawan - kawannya memanggilnya dengan sebutan Akram, saya lebih suka memanggilnya Rifat saja, atau ketua Rifat. Iya Rifat saat ini adalah Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( GMNI) Cabang Luwuk Banggai, sebelumnya dia pernah menjabat sebagai presiden Mahasiswa Universitas Tompotika ( Untika ) Luwuk. 

Seperti yang dia ceritakan kepada saya sejak kecil Rifat memang terbiasa hidup sendiri, pada usia balita dia sudah diasuh neneknya dari pihak bapak ketika ibu dan ayahnya harus berpisah. Sepeninggal neneknya Rifat tinggal bersama tante dari pihak bapaknya. Pengalaman hidup yang sangat sederhana ini membuat Rifat lebih dewasa dari kebanyakan anak seusianya. Demikian juga saat kuliah dia berjuang sendiri sampai sarjana dan bagi saya Rifat adalah anak muda yang tangguh.

Sebagai aktivis mahasiswa banyak aktivitasnya adalah mengadvokasi masyarakat khususnya petani miskin yang berhadapan dengan kuasa modal. Mulai dari kasus perkebunan sawit, tambak dan nikel. Namun bukan hanya itu Rifat juga selalu mengadvokasi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Di usianya yang masih sangat muda Rifat telah ditempa oleh kenyataan bahwa kekuasaan yang menindas harus dilawan. Mungkin terlalu naif jika saya membandingkan Rifat dengan Soekarno Muda atau dengan Moh.Hatta muda namun paling tidak Rifat mewarisi semangat bapak pendiri bangsa itu untuk berjuang memerdekakan manusia dari exploitasi manusia lain. 

Senja yang muram saat itu sambil menawarkan segelas kopi dia langsung bertanya tentang kabarku. 

“Apa kabar bung? Dari mana tadi?” ucapnya. 
“dari rumah” jawabku singkat. 

Saat itu saya langsung bertanya pendapatnya tentang catatan singkat saya terkait politik dinasti yang saya tulis beberapa waktu lalu dan seperti dugaanku ternyata dia sepakat dan mengatakan bahwa tidak lama lagi politik dinasti akan mewujud dan menjadi kenyataan di daerah ini. 

“Prediksi saya ini akan terwujud bung, setelah pemilu ini akan terjadi dan itu tidak lama lagi” ucapnya gelisah dan gusar. 

Anak muda ini luar biasa demikian ucapku membatin, dia punya wawasan dan pengetahuan dan yang paling membuatku kagum adalah nyalinya. Tubuhnya yang kecil dan kurus tidak menghalangi dia untuk melawan sesuatu yang dianggapnya salah. Seandainya ada sepuluh orang anak muda seperti Rifat di Banggai ini maka saya yakin situasi daerah ini mungkin akan berbeda. 

Ditengah kebudayaan K Pop yang menghegemoni anak muda Indonesia Rifat membaca, ditengah kepungan joget - joget Tik tok Rifat melawan. 

Setelah percakapan yang singkat itu kami jarang bertemu dan setelah beberapa bulan kemudian Rifat menghubungi saya dengan pesan whatsApp singkat bahwa dia akan melawan arus deras politik dinasti ini.

“Bung soal politik dinasti ini saya akan melawan”

Membaca pesannya saya merinding dan bergetar sambil berucap dalam hati bahwa anak ini luar biasa. Entah kenapa mata saya berkaca - kaca, dengan usia seperti itu, dengan hidup yang sangat sederhana dia berbeda dari yang lain, Rifat anak kampung itu, melawan!!

Dan demikianlah Rifat mulai melakukan konsolidasi kecil dengan mengajak beberapa kawannya untuk bergerak melawan ancaman politik dinasti ini, dengan modal saweran mereka mulai melakukan aksi, mencetak selebaran dan membagikan selebaran, menyebarkan pesan whatsApp, membuat Pamflet dan spanduk. 

Anak - anak muda berjumlah sepuluhan orang berusia antara 20 sampai 24 tahun ini bergerak mengelilingi beberapa kecamatan untuk berbicara kepada rakyat, berseru kepada rakyat dengan megaphone kecil bahwa politik dinasti merusak demokrasi, politik uang adalah kejahatan, ASN tidak boleh berpihak, kepala desa harus netral. 

Dengan jumlah yang terbatas dan dana yang nyaris tidak ada anak muda ini ikhlas dan semangat bergerak karena politik adalah tujuan mulia untuk kesejahteraan rakyat. Bahwa politik bukan untuk diwariskan dengan mengunakan kuasa uang dan menyalahgunakan sumberdaya negara.

Dan sampailah pada pada 14 Februari 2024 yang mendebarkan itu dimana rakyat harus memilih wakil dan pemimpinnya. Dimana seperti kita tahu bersama hasilnya bahwa Rifat dan kawan - kawannya belum berhasil menghadang politik dinasti, Rifat belum berhasil menghalau politik uang. 

Kemarin sebelum saya menulis catatan singkat ini dia mengirimiku pesan singkat, hanya untuk mengabarkan bahwa dia gagal.

“Assalamualaikum, bung sudah liat hasil pemilu? Kami gagal bung!” 

Saya tertegun dan kemudian menjawab, bahwa dia tidak gagal, dia dan kawan - kawannya telah berjuang dengan baik dan yang gagal adalah rakyat Banggai.

“Tidak gagal ketua, kalian semua telah berjuang dengan baik dan bagi saya yang gagal adalah kami rakyat Banggai” 

Senja yang masih muram kemarin saya menemuinya, masih di pondok berdinding papan tipis dan beratap rumbia, masih dengan segelas kopi pahit dia menyambutku dengan senyuman. 

“Bagaimana bung?” Ucapnya. “ baik saja” jawabku. 
“Bagaimana selanjutnya?” sambungnya.
“Menunggu” jawabku singkat. 

Senja yang muram itu kami lebih banyak diam, Rifat kemudian berucap agak berat.

“Saya minta maaf bung, kami gagal” ucapnya.

“Tidak bung, tidak ada yang salah dan perlu dimaafkan, justru kita benar apa yang kita khawatirkan kini terbukti” ucapku.

Sebelum pulang saya mengatakan bahwa apa yang dia lakukan adalah perlawanan yang terhormat. 

Seperti kata Pramudya Ananta Toer sastrawan legendaris itu.

 “Kalian telah melawan bung, sebaik - baiknya, sehormat - hormatnya.”



*Penulis adalah petani pisang


TAG