Bumi itu datar, Sayang! - Utustoria Bumi itu datar, Sayang! - Utustoria

Bumi itu datar, Sayang!

1065
Spread the love

Photo: Ilustrasi

Bumi itu datar, Sayang!

Karya : Abdy Gunawan

Pukul lima sore, waktu yang selalu dipilih Burhan untuk duduk santai di dermaga pinggiran kota tempat dia tinggal. Memperhatikan setiap kapal nelayan yang lalu lalang. Ada yang menuju laut untuk mengais rezeki ada pula yang kembali ke pantai dengan membawa ember penuh ikan. 

Burhan tersenyum memandang aktivitas manusia yang murni tanpa sandiwara itu. Tidak ada niatan berpura-pura, ingin dipuji atau berharap simpati orang lain, tetapi apa yang nelayan-nelayan itu tunjukan hanya berangkat dari semangat untuk membantu anak-anak mereka menggapai mimpi.

Pukul lima yang selalu diulangnya setiap sore, Burhan tahu tidak akan mengubah apapun. Pedagang bakso yang sudah ada di bagian lain dermaga tidak akan pernah disapanya, atau bahkan membeli semangkuk bakso untuk mengenyangkan perut. 

Tukang bakso itu, meski sudah lima tahun yang lalu, tapi masih mengenali Burhan dan tempat biasa ia duduk. Bangku panjang berwarna putih harusnya diduduki dua orang, lalu mereka tidak akan lupa membeli bakso yang menjadi favorit si gadis. 

Pria tua itu paham mengapa Burhan tidak sejengkal pun beranjak dari bangku lalu berjalan pelan ke arahnya untuk memesan bakso. Bagi Burhan, bakso yang biasa mangkal di ujung dermaga itu, harus dinikmati berdua bersama Alin.

* * *

“Apakah kau percaya bumi itu datar, Han?” tanya Alin.

“Bumi itu bulat, Lin! Banyak ahli berpendapat demikian, dan kita sudah tahu itu sejak SD,” Burhan mencubit pipi juniornya itu dengan lembut, kemudian tersenyum yang entah oleh apa, wajah manis Alin yang membuat dia terpesona, atau pemikiran nyeleneh Alin tentang hal-hal mustahil, yang tentu saja sama-sama menyebabkan jantung Burhan berdegup tidak karuan.

“Ini lihat! Banyak videonya di youtube.”

“Oh haha semuanya editan video aja, Lin! Akunnya aja anonym.”

“Kalau begitu sekalian saja kita buktikan.”

“Buktikan bagaimana?” 

“Ayo kita ke dermaga pinggiran kota!”

Burhan dan Alin memacu motor menuju ke lokasi yang mereka rencanakan. Alin tidak melingkarkan lengannya di badan Burhan saat berboncengan dengan laki-laki tersebut. Duduknya Pun berjarak, sama sekali enggan merapatkan badannya ke punggung Burhan.

Burhan santai dengan keadaan demikian, ia paham bahwa status mereka hanya teman dekat, yang perlahan akrab karena kesamaan hobi, pemikiran dan cita-cita. Keduanya menyukai sastra, kopi, konspirasi dan bermimpi untuk menjadi penulis terkenal.

“Lihat! Perahunya terlihat utuh meski sudah lumayan jauh dari dermaga,” kata Alin.

“Itu karena posisi perahu masih berada dalam batas pandang kita, sejam lagi mungkin yang kelihatan tinggal layarnya.”

“Ah itu sih kayak yang kita pelajari di sekolahan,” Alin mendorong pundak Burhan yang duduk tepat di samping nya. Sambil memasang raut wajah kesal, Alin melayangkan cubitan kecil di lengan Burhan.

“Memang kamu tidak percaya dengan pelajaran sains di sekolah?”

“Fakta sains disepakati ilmuwan untuk kepentingan bisnis barat.”

“Hehe terlalu banyak nonton sama baca teori konspirasi kamu, Lin!”

“Lah, kan kamu yang pengaruhi aku, Han.”

“Tapi untuk yang satu ini, aku yakin betul kamu salah.”

Alin menoleh ke kiri tepat dimana Burhan duduk di sebelahnya. Ia memutar bola matanya tanda sedang memikirkan sesuatu, “Begini saja, kalau empat tahun dari sekarang bumi tetap diyakini bulat sebagaimana saat ini, aku akan pacaran denganmu.”

Pembahasan yang akhirnya terulang lagi antara mereka berdua. Pembicaraan yang mengarah ke arah romantisme seperti saat Alin masih berstatus mahasiswa baru di kampus tempat Burhan berkuliah sebagai senior tahun ketiga.

Ajakan pacaran dari Burhan usai Alin menjalani orientasi pengenalan kampus ditolak dengan sangat lembut. Alasannya karena ia bukan gadis seperti pada umumnya yang feminim, lemah lembut dan mengharapkan belaian dari seorang pria. Alin gadis tomboy dengan gaya rambut pixie itu, begitu mandiri dan lebih senang memperluas perkawanan daripada berada dalam kepemilikan seorang pria.

“Begini, tidak ada lelaki di kampus ini yang membuatku tertarik selain kamu, tapi untuk terikat dengan hubungan seperti itu, maaf aku tidak bisa, santai aja! Aku tidak akan pernah menautkan hati ini pada orang lain.”

Kata-kata Alin demikian menjadi awal hubungan persahabatan mereka yang langgeng sampai Burhan menginjak semester akhir dan akan segera menamatkan kuliah. 

Bertahun-tahun, topik tentang perasaan satu dengan yang lain tidak pernah muncul lagi hingga hari itu ketika Alin mengajak Burhan taruhan. Entah apa yang betul-betul dirasakan Alin saat mengatakan hal tersebut, sangat sulit ditebak Burhan. Apakah Alin akhirnya memperbolehkan Burhan untuk memilikinya, atau karena keyakinan Alin akan bumi datar yang membuat ia yakin bakalan menang taruhan dan tidak mungkin terikat dengan Burhan.

“Bukannya dengan begitu kau akan melanggar prinsipmu?” tanya Burhan pelan.

“Hahaha kok udah sampe kesitu ngomongnya, kepedean kamu Han, nantinya semua orang akan mengakui kalau bumi itu datar.”

“Iya sih, namanya Alin jika sudah berani mempertaruhkan egonya, berarti dia sangat yakin akan hal yang dipercayainya.”

Alin mengangguk, lalu mencubit pipi Burhan pelan, “Kok tau banget sih.”

“Misalnya yah, aku yang menang, dan teori soal bumi datar selain tidak terbukti, bahkan sampai tidak laku lagi, kamu emang mau jadian sama aku?”

Alin memegang dagunya. Ia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Burhan. Gadis itu sangat cerdas dalam berucap. Alin dengan hati-hati mempertimbangkan konsekuensi dari perkataannya, takut jika itu akan memberikan sahabatnya harapan yang tidak bisa dipenuhi atau bahkan melukainya.

“Kita sudah sedekat ini loh, kamu masih ingin pacaran denganku?” 

“Jawab aja! Jangan malah tanya balik!”

“Kalau aku kalah taruhan, ayo pacaran! Tidak apa-apa kok, kan pacarannya sama cowok yang aku suka.”

“Pak!” Burhan sumbringa. Ia tersenyum lebar, lalu memanggil seorang pedagang kaki lima yang sedang menyiapkan dua mangkok bakso untuk mereka berdua, “Dengar kan yang kami bicaran dari tadi? Pokoknya bapak jadi saksi yah,” bapak penjual bakso itu hanya mengangguk sembari tersenyum.

* * *

Penjual bakso yang sama dengan yang dikenalnya sejak sepuluh tahun lalu datang menghampiri Burhan yang duduk termenung memandang perahu yang berlabuh meninggalkan dermaga.

“Aku tidak memesan lagi bakso sejak sepuluh tahun lalu, kau tahu kan?”

“Ini bukan untukmu, seorang remaja memesannya tapi ia buru-buru ke toilet, katanya letakan saja di sini.”

Seorang bocah yang masih mengenakan seragam SMP menghampiri Burhan dan si penjual bakso, “makasih pak, dan maaf om kalau saya mengganggu, kulihat-lihat hanya tempat ini yang bagus.”

“Silahkan duduk, Nak!”

“Om tidak pesan bakso?”

“Ah aku tidak berminat.”

“Kalau begitu akan ku kembalikan saja bakso ini, aku tidak suka jika orang disampingku melihatku makan tanpa ikut makan.”

“Loh kok dibalikin?” kata penjual bakso kesal.

“Ah jangan begitu, ini sudah dibuatkan, mubazir jika tidak kamu makan,” Burhan menasihati.

“Biarkan saja om, daripada aku makannya tidak nyaman, nih ambil, Pak!”

“Bayarannya?” 

“Ah kan tidak aku makan, kenapa aku harus bayar?”

Melihat perselisihan antara si bocah dan penjual bakso, akhirnya Burhan pun mengalah, “anak muda zama sekarang keras kepala, ya sudah Pak, buatkan aku satu seperti biasa.”

Bocah itu tertawa, begitu juga dengan si penjual bakso yang kini lega, bapak tadi segera berjalan ke gerobaknya yang tidak jauh dari situ.

“Aku makan duluan, Om!”

“Kamu baru ya di kota ini, aku baru lihat soalnya, maklum ini kota kecil jadi semua saling kenal.”

“Oh aku baru pindah kesini dua hari yang lalu, ketika keliling-keliling, ketemu dermaga ini, kayaknya asik buat menghabiskan waktu sore, sambil membuktikan sesuatu.”

“Apa itu, Nak?”

“Bahwa sebenarnya bumi itu bulat, tidak datar seperti fakta yang baru-baru ini ditemukan, masa sains yang telah berusia beratus-ratus tahun, bisa berubah hanya dalam waktu sepuluh tahun.”

“Kamu masih kecil tapi tertarik dengan hal-hal seperti itu, bagaimana bisa?”

“Ah aku membaca tulisan-tulisan Alinudin Burhan, dia jurnalis dan kolumnis terkenal, konsisten dalam mengkritik revolusi sains yang radikal, terlebih soal bum—, tapi tunggu dulu, kau-kau Alin kan?” bocah itu terperanjat dari bangku tempat ia duduk ketika mengetahui bahwa orang yang sedang dibicarakannya duduk tepat di depan dia.

“Alin yah, dunia internasional sering memanggilku demikian, mungkin lebih mudah mereka ucapkan, padahal nama panggilanku Burhan.”

“Aku tidak menyangka bertemu om disini, tepat sekali, aku penasaran mengapa kau getol sekali mempertahankan opini kalau bumi itu tetap bulat.”

“Yah kau mungkin sudah membacanya, posisi kapal, foto luar angkasa, perjalanan keliling dun—“

“Bla bla bla,” bocah itu memasang raut wajah mengejek, “aku sudah sering membaca dan melihatmu berdebat di TV, pun orang yang tidak sepaham denganmu punya argumen sebaliknya, yang kutanyakan mengapa, mengapa kau melakukannya, banyak hal lain yang bisa kau tulis seperti di awal karirmu.”

“Aku bertaruh dengan seseorang, kalau saja bumi masih bulat, aku mungkin sudah menikah dengannya.”

Bocah itu menggelengkan kepala ketika mendengar jawaban Burhan barusan, “dasar lelaki, sekali menginginkan sesuatu, pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, dasar keras kepala!”

Burhan mengacak-acak rambut bocah yang masih setia dengan seragam itu. Rupanya sejak pulang sekolah ia tidak langsung kembali ke rumah, “jangan menghakimiku, Nak! Itu satu-satunya cara agar aku bisa bersamanya.”

“Melawan seluruh ilmuwan di dunia hanya karena seorang perempuan, sepantas itukah dia?”

“Ahahaha kau masih kecil, mungkin belum terlalu mengerti arti cinta, ia begitu berharga, aku takut kehilangannya, sampai saat ini aku tidak pernah jatuh cinta lagi, kau bisa tanyakan pada penjual bakso tadi.”

Bocah itu kelihatan bingung. Ia sama sekali tidak paham hubungan kisah Burhan dan penjual bakso yang berjarak sekitar dua meter dari mereka.

“Apakah hanya itu satu-satunya cara ia bisa menjadi milikmu?”

“Harusnya aku tidak terlalu banyak membahas soal cinta kepadamu, Nak, bersabarlah hingga usiamu cukup dewasa, cinta sejati biasanya akan datang ketika kamu kuliah, hari sudah mulai magrib, aku harus segera ke masjid, mau ikut?”

“Aku Kristen, Om! Tidak tahu kenapa, mungkin karena ibuku juga Kristen.”

“Oh ya sudah, aku duluan, segera pulanglah! Bakso biar aku yang bayar.”

Burhan berdiri lalu melangkah meninggalkan sang bocah. Sementara bocah itu masih terus tersenyum menatap Burhan dari kejauhan. Lima menit berselang, sosok wanita menghampirinya.

“Mama kan sudah bilang, kalau sudah pulang tunggu Mama di sekolah, jangan keluyuran seperti ini, ayo pulang!”

“Mama pernah taruhan?”

Alin mencubit pipi anaknya dengan lembut karena kaget dengan pertanyaan yang dilontarkannya barusan, “pernah, dan mama yang menang.”

“Jadi orang yang taruhan dengan Mama rugi dong, maksudnya tidak dapat untung sama sekali.”

Alin heran dengan pertanyaan anaknya yang kritis dan membingungkan, kemudian dengan senyum kecil di bibir merahnya yang tipis ia menjawab anaknya dengan hati-hati, “kalau waktu itu dia tidak dapat yang dia mau bukan karena taruhan, tapi karena memang takdir dan hmm karena kakek nenek kamu haha.”

Bocah itu tidak memperpanjang pembicaraan atau menambah pertanyaannya. Ia kini malah tertawa gembira, berjalan riang sembari menggenggam jemari ibunya. Menelusuri pinggiran pantai hingga tiba di mobil yang diparkir di pinggir jalan.

“Mama tenang saja!”

Alin terhenti ketika akan membuka pintu mobil, lalu berbalik menghadap anaknya, “Apa maksudmu, Han?”

“Papa tidak melupakan Mama, dia tidak pernah mencintai orang lain selain Mama.”

Alin terdiam, perlahan wajahnya yang bingung berubah sumbringa lengkap dengan senyum indah yang terlukis di wajah yang kini dibingkai rambut panjang, “rupanya kamu duluan yang bertemu dengannya.”


Siuna, 6 November 2023