Marhaenisme dan Kedaulatan Pangan - Utustoria Marhaenisme dan Kedaulatan Pangan - Utustoria

Marhaenisme dan Kedaulatan Pangan

1851
Spread the love

Photo: Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani

Sekilas Tentang Marhaenisme

Marhaen adalah sebutan yang berasal dari Soekarno presiden Indonesia pertama yang digunakan untuk merujuk kepada petani atau rakyat kecil. Istilah ini sering dikaitkan dengan konsep kesederhanaan dan keadilan sosial dalam konteks politik dan sosial di Indonesia, terutama pada masa awal kemerdekaan.

Sedangkan marhaenisme adalah ideologi yang dipopulerkan oleh Soekarno, yang mengadvokasi kesetaraan dan keadilan bagi rakyat kecil pada umumnya dan lebih khusus petani, nelayan maupun buruh.

Ideologi ini mengedepankan nilai-nilai kesederhanaan, keadilan sosial, dan kesetaraan bagi rakyat kecil (Petani, Nelayan dan Buruh) Marhaenisme menekankan pentingnya mengatasi ketidaksetaraan sosial dan ekonomi dalam masyarakat serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua warga negara. Istilah “Marhaen” sendiri merupakan konsep dari manusia Indonesia yang merdeka lepas dari Feodalisme, Kolonialisme, kapitalisme dan Imperialisme yang merujuk kepada visi Soekarno tentang warga negara Indonesia yang kuat, mandiri, dan adil.

Pangan Sebagai Dasar

Dalam salah satu pidatonya Soekarno mengatakan bahwa pangan atau makanan adalah dasar keberadaan kita sebagai manusia. Penggalan pidato itu dapat saya kutipkan sebagai berikut:

“Orang hidup harus makan, yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja tidak makan,jika tidak makan pasti akan mati. Inilah undang-undangnya dunia, inilah undang-undangnya hidup, mau tidak mau semua makhluk harus menerima undang-undang ini”.

Pangan merupakan dasar kehidupan karena makanan adalah sumber utama energi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk bertahan hidup, tumbuh dan berfungsi dengan baik. Tanpa pangan yang mencukupi, manusia tidak akan dapat menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Selain itu, produksi dan distribusi pangan juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar pada masyarakat dan perekonomian global. Ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas adalah hal yang sangat penting untuk memastikan kesejahteraan dan kelangsungan hidup manusia.

Pangan memainkan peran kunci dalam peningkatan sumber daya manusia. Hal ini karena asupan makanan yang cukup dan bergizi dapat mendorong peningkatan produktivitas manusia.

Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan pangan yang memadai dan bergizi merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu negara

Sedikit Tentang Kedaulatan Pangan

Banyak konsep tentang kedaulatan pangan dan melahirkan banyak perdebatan dalam studi-studi agraria sejak klasik sampai kontemporer namun dalam catatan ini saya tidak menyinggung soal itu namun lebih ke persolan yang lebih normatif dan sifatnya taktis.

Secara normatif kedaulatan pangan adalah konsep yang mengacu pada kemampuan suatu negara, komunitas, atau individu untuk memiliki kontrol dan akses yang cukup terhadap produksi, distribusi, dan konsumsi pangan yang mencukupi, aman, dan berkualitas. Konsep ini mencakup beberapa aspek penting yang dapat kita singkat sebagai berikut:

Pertama produksi pangan, kedaulatan pangan berarti negara atau komunitas memiliki kemampuan untuk memproduksi berbagai jenis makanan secara mandiri, sehingga tidak bergantung pada impor makanan dari negara lain.

Kedua akses pangan, semua anggota masyarakat memiliki akses yang setara terhadap pangan yang cukup dan bergizi tanpa diskriminasi. Ini mencakup akses fisik, ekonomi, dan sosial terhadap makanan.

Ketiga kepemilikan dan kontrol, kedaulatan pangan juga melibatkan kepemilikan dan kontrol atas sumber daya pertanian seperti lahan, air, benih, dan teknologi pertanian. Ini penting agar masyarakat (petani dan nelayan) memiliki kendali atas sistem pangan mereka.

Keempat keamanan pangan, kedaulatan pangan menekankan pentingnya makanan yang aman dan berkualitas tinggi, serta perlindungan terhadap risiko krisis pangan.

Kelima pertimbangan ekologi dan sosial, Konsep ini juga memperhitungkan dampak pertanian terhadap lingkungan dan masyarakat. Pertanian yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial menjadi bagian integral dari kedaulatan pangan.

Dengan demikian, kedaulatan pangan bertujuan untuk melindungi kepentingan masyarakat dalam mengendalikan sistem pangan mereka sendiri, dan bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen dan pemilik sumber daya. Ini adalah pendekatan yang penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan.

Marhaen Sebagai Ujung Tombak Kedaulatan Pangan

Diatas sudah saya sebutkan bahwa marhaen adalah sebutan yang berasal dari Soekarno presiden Indonesia pertama yang digunakan untuk merujuk kepada rakyat kecil (petani, nelayan dan buruh)

Dalam konteks kedaulatan pangan petani memiliki peran penting sebagai dasar kedaulatan pangan suatu negara. Peran petani dalam hal ini sangat fundamental dimana petani bertanggung jawab untuk menghasilkan berbagai jenis makanan seperti beras, jagung, sayuran, dan lainnya. Petani adalah produsen utama dalam rantai pasokan pangan.

Dengan meningkatnya produksi lokal, negara dapat mengurangi ketergantungannya pada impor pangan dari negara lain. Hal ini meningkatkan kemandirian pangan. Petani yang berproduksi secara lokal dapat memastikan pasokan pangan yang aman dan berkualitas, mengurangi risiko terhadap krisis pangan.

Petani juga berperan dalam menggerakkan perekonomian pedesaan dan memberdayakan komunitas lokal melalui pekerjaan, produksi, dan perdagangan.

Namun yang tidak kalah penting seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya diatas adalah praktik pertanian berkelanjutan oleh petani yang dapat membantu menjaga sumber daya alam seperti tanah, air, dan keanekaragaman hayati dan adaptif dalam perubahan iklim.

Oleh karena itu, dukungan terhadap petani melalui kebijakan pertanian yang baik, akses terhadap teknologi modern, pelatihan, dan akses pasar merupakan langkah penting dalam mencapai kedaulatan pangan dan memastikan pasokan pangan yang cukup dan berkualitas bagi masyarakat.

Dengan berangkat dari konsep Soekarno tentang marhaenisme maka kita dapat bekerja bergotong royong dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan berdikari secara utuh.