Analisis Sosiologi Mengenai Keberhasilan Putri Ariani Di America's Got Talent - Utustoria Analisis Sosiologi Mengenai Keberhasilan Putri Ariani Di America's Got Talent - Utustoria

Analisis Sosiologi Mengenai Keberhasilan Putri Ariani Di America’s Got Talent

464
Spread the love

Photo: Putri Ariani (Sumber: Kompas.com)

UIasan oleh Muhammad Makro Maarif Sulaiman, Sosiolog, Tinggal di Bantul Yogyakarta

Utustoria.com – Indonesia memiliki anak-anak terbaik bangsa, salah satunya adalah Ariani Nisma Putri atau yang lebih dikenal sebagai Putri Ariani.
Gadis kelahiran Bangkinang Riau pada 31 Desember 2005 tersebut telah berhasil memperoleh Golden Buzzer di ajang America’s Got Talent (AGT) Musim ke-18 yang diselenggarakan pada 6 Juni 2023.
Putri merupakan siswa kelas XI Flute di SMKN 2 Kasihan Bantul atau Sekolah Menengah Musik dan kiprah Putri di dunia internasional tentu mengharumkam nama sekolahnya, keluarga, dan tempat Putri berdomisili di Bantul Yogyakarta.
Putri sendiri merupakan seorang penyandang disabilitas dengan keterbatasan penglihatan atau tunanetra sejak lahir.
Keterbatasan tersebut bukan merupakan hambatan bagi Putri untuk berkarya, namun menjadi sebuah tantangan dan motivasi untuk tetap berkiprah tanpa mengenal kata menyerah.
Didukung penuh oleh orangtuanya, Putri mengawali karier di Indonesia’s Got Talent pada tahun 2014 ketika Putri berusia delapan tahun dan memperoleh gelar juara lewat bakat dan kemampuan menyanyinya dan kemudian diikuti prestasi yang serupa di beberapa ajang yang lain.
Putri terus mengasah kemampuannya menggunakan alat-alat musik khususnya piano dan hal itu yang membuat Putri mampu memaksimalkan usahanya dalam memperoleh Golden Buzzer dari Simon Cowell, seorang juri senior di AGT.
Aksi menyanyi Putri lewat lagu ciptaannya sendiri berjudul Loneliness mampu memukau para juri di AGT, khususnya Simon Cowell yang membuat hatinya terenyuh. Hal itu yang membuat Cowell tidak ragu untuk memberikan Golden Buzzer kepada Putri sehingga memudahkan Putri melaju ke babak berikutnya.
Suara emas Putri pun memukau para petinggi negara, tak terkecuali Presiden Jokowi yang memberikan ucapan selamat atas keberhasilan Putri di ajang bergengsi kelas internasional tersebut.


AGT merupakan entitas waralaba yang merupakan turunan dari Got Talent yang dibentuk oleh Simon Cowell, seorang pria berkebangsaan Inggris yang kemudian menetap di Amerika Serikat.
Awalnya, kancah pencarian bakat tersebut diwujudkan dalam Britain’s Got Talent kemudian disusul pada America’s Got Talent dan sekarang memiliki 30 lisensi Got Talent di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yakni pada Indonesia’s Got Talent (IGT).
Dalam konteks Indonesia, IGT, X Factor ataupun Indonesian Idol dinilai lebih bergengsi dan bernilai kapital karena berlisensi global dibandingkan ajang pencarian bakat yang dibentuk dan diinisiasi oleh korporasi media nasional seperti Indonesia Mencari Bakat yang dibentuk oleh Perusahaan TransMedia atau Akademi Fantasi Indosiar yang dibentuk oleh Stasiun Televisi Indosiar pada 2003 silam.
Kontes pencarian bakat merupakan saluran mobilitas sosial vertikal naik yang memberi ruang bagi setiap orang untuk menaikkan status sosialnya, terlebih bila kontes tersebut bernilai pasar internasional.
Got Talent yang diinisiasi oleh Simon Cowell memberikan format-format yang identik dengan nilai-nilai Barat dan cenderung menjadi sebuah kekuatan imperialisme global dalam dunia hiburan melalui kekuatan hegemonik yang ada di dalamnya.
Namun, kekuatan hegemonik tersebut mampu diimbangi dengan kekuatan kompromi dan negosiasi melalui kompetensi budaya yang beragam pada setiap peserta dari berbagai negara, tidak terkecuali bagi yang memiliki keterbatasan fisik asalkan mampu menuju kemampuan dan bakatnya, tidak terkecuali pada Putri Ariani yang seolah-olah mematahkan mitos mengenai ketubuhan yang sempurna.
Meskipun demikian, AGT tetap menjadi sebuah standar kontestasi yang bernilai industri kapitalis global yang menjadi impian hampir semua orang di dunia untuk menaikkan derajat sosial dan memperoleh pengakuan akan sebuah prestasi atau keberhasilan.
Dalam hal demikian, bayang-bayang westernisasi atau Amerikanisasi melalui simulakra yang ditampilkannya melekat dalam pemikiran dan keinginan masyarakat di Asia yang cenderung menjadi 𝑙𝑎𝑦-𝑎𝑔𝑒𝑛𝑡 dalam pembangunan dunia industri hiburan.


Selain menyanyi, Putri Ariani juga pandai mengaji yakni melantunkan ayat-ayat Alquran dengan suara merdu dan membuat teduh bagi para pendengarnya. Hal yang perlu dicermati dalam hal ini adalah pada peran signifikan dari orang tua Putri yang mendukung penuh karier Putri di dunia musik.
Ayah Putri adalah seorang lulusan sarjana teknik di sebuah universitas swasta di Yogyakarta, pernah bekerja di bidang tambang, sedangkan ibunya merupakan pengusaha kuliner yang sukses.
Pola sosialisasi partisipatif atau demokratis dari ayah dan ibunua menjadikan Putri dapat dengan maksimal mendayagunakan bakatnya bahkan orangtuanya rela berhenti dari pekerjaan sebelumnya di Riau dan berpindah ke Yogyakarta demi untuk mendukung Putri sepenuhnya di bidang musik.
Apabila ditinjau dengan sosiologi kritis, Putri yang merupakan seorang penyandang disabilitas pada penglihatan diasuh dalam keluarga kelas menengah atas yang memiliki pola pikir yang lebih terbuka terhadap pendidikan.
Pola asuh demikian membuat Putri diberikan fasilitas yang layak untuk mewujudkan impiannya menjadi penyanyi terkenal.
Tentu hal itu menciptakan penjarakan kelas atau stratifikasi kelas pada penyandang disabilitas. Pada penyandang disabilitas yang diasuh dalam keluarga yang otoriter tentu akan kesulitan dalam mengembangkan bakatnya, terlebih pada lingkup kelas menengah ke bawah, tentu penyandang disabilitas tersebut cenderung lebih rentan mendapatkan kekerasan atau diskriminasi.
Apabila dicermati yang demikian, tentu kita menjadi lebih bijak untuk menilai keberhasilan seorang Putri Ariani dalam arti tidak perlu sampai terlalu melebih-lebihkan karena kita lebih tahu bahwa kunci terpenting dalam hal ini ialah 𝑠𝑢𝑝𝑝𝑜𝑟𝑡 𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 dari keluarga sebagai ruang pertama kali seorang anak menyerap nilai-nilai dan norma sosial.
Meskipun ada anak penyandang disabilitas yang dididik dalam keluarga kelas menengah bawah yang pola pikirnya terbuka dan demokratis, peluangnya akan tetap kalah dengan anak penyandang disabilitas dari keluarga kelas menengah atas dan memiliki pola pikir terbuka dan demokratis.
Tanpa orang tua yang demokratis dan bergaya borjuis, akan sangat sulit bagi Putri untuk menembus AGT karena juga membutuhkan biaya yang sangat besar.


Menjadi hal yang menarik untuk ditinjau lebih lanjut mengenai faktor-faktor keberhasilan seorang anak meskipun anak tersebut menyandang kelainan fisik atau mental.
Peran orang-orang terdekat sangat penting untuk mengubah atau malah mereproduksi stigma terhadap anak penyandang disabilitas.
Bagi calon orang tua perlu mempersiapkan mental, integritas, dan tanggung jawab untuk mendidik seorang anak supaya anak tersebut siap menghadapi dunia sosial yang lebih luas. Bagaimana pun keadaan anak tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh ciri gen atau bawaan lahir, namun ditentukan dari konstruksi sosial yang ada di dalam lingkungan keluarga.
Dua anak kembar yang setiap anak diasuh dalam keluarga inti yang berbeda tentu akan menghasilkan perilaku yang tidak sama pada dua anak kembar tersebut.