Analisis Sosiologi Mengenai Pengobatan Ida Dayak - Utustoria Analisis Sosiologi Mengenai Pengobatan Ida Dayak - Utustoria

Analisis Sosiologi Mengenai Pengobatan Ida Dayak

447
Spread the love

Photo: Ida Dayak (Sumber: Detik. Com)

Ulasan oleh Muhammad Makro Maarif Sulaiman, Sosiolog, Tinggal di Bantul Yogyakarta

Utustoria.com – Berbicara tentang kehidupan maka tak lepas dari berbicara tentang kesehatan.
Belum lama ini, seorang perempuan berusia 51 tahun dari Kalimantan Timur bernama Ida Andriyani atau lebih populer dipanggil Dayak ramai diperbincangkan oleh publik karena keandalannya memberikan pengobatan secara tradisional (pengobatan alternatif) khususnya dalam menangani tulang bengkok dengan menggunakan minyak merah atau yang populer disebut sebagai ‘Minyak Bintang’, dan dengan hasil kesembuhan yang memuaskan.
Praktik pengobatan yang dilakukan oleh Ida Dayak pun dilakukan tanpa memungut biaya alias gratis.
Dalam praktik pengobatan tersebut juga disertai dengan ritual menari untuk memperoleh energi spiritual dan pernak-pernik tradisional di mana Ida Dayak menggunakan pakaian adat khas suku Dayak.
Kehebatan Ida Dayak diperkuat dengan informasi bahwa ia berhasil menyembuhkan seorang pemuda yang lumpuh dan bisu dengan ritual tari, diikuti proses terapi pada bagian tenggorokan pemuda tersebut dan mengoleskan minyak bintang.
Hal itu membuat sebagian masyarakat yang mengetahui dari media sosial tertarik dan beramai-ramai mendatangi Ida Dayak dalam suatu acara pengobatan yang dalam pelaksanaannya mendapatkan penjagaan dari aparat keamanan.
Selain itu, Ida Dayak juga menjual minyak urut kepada pasiennya dengan harga Rp50.000 per botol, tentu dijual untuk pasien yang membutuhkannya.
Dari ketenaran Ida Dayak tersebut, tak sedikit pihak yang melontarkan kritik terhadap praktik pengobatan yang dilakukannya.
Beberapa dokter ortopedi memberikan tanggapan terhadap pengobatan yang dilakukan oleh Ida Dayak, diantaranya pengobatan alternatif termasuk yang dilakukan oleh Ida Dayak memiliki metode yang berbeda dengan pengobatan modern atau medis.
Perbedaan tersebut diklaim memiliki ketimpangan karena pengobatan alternatif dari Ida Dayak rentan menimbulkan efek samping negatif pada tulang karena tidak memiliki ukuran yang standar dan teruji sebagaimana pada medis modern.
Maka sebagian dokter ortopedi menyarankan untuk lebih selektif dalam memilih pengobatan tulang alternatif di samping pengobatan medis modern.


Terlepas dari perdebatan mengenai metode pengobatan alternatif yang dilakukan oleh Ida Dayak, secara sosiologis menjadi signifikan untuk melihat antusiasme masyarakat yang berduyun-duyun ingin mencoba pengobatan dari suku Dayak tersebut.
Antusiasme masyarakat tersebut relevan dianalisis dengan perspektif Max Weber mengenai rasionalitas formal dan rasionalitas substantif.
Rasionalitas formal adalah perhitungan tujuan dari sarana dan prosedur yang paling efisien untuk mewujudkan tujuan.
Model yang efisien dalam ranah medis berkorelasi dengan dibutuhkannya otoritas birokrasi dan organisasi khususnya dalam rumah sakit untuk mengontrol dan menata efisiensi kerja medis.
Dalam hal tersebut, negara memiliki kewenangan dalam birokrasi yang mengatur efisiensi medis khususnya di rumah sakit ditambah munculnya industri medis yang berpengaruh signifikan dalam pembentukan peraturan terhadap perilaku dan profesionalisme tenaga medis terutama dokter.
Sedangkan rasionalitas substantif ialah realisasi nilai dan cita-cita berdasarkan tradisi, adat, kesalehan, atau pengabdian pribadi.
Hal yang cenderung selama ini berlaku ialah otoritas birokrasi dari negara dan pasar medis menciptakan keberjarakan dokter dengan pasien di mana dalam relasi dokter dengan pasien diatur dengan administrasi, instruksi teknis, sosialisasi top-down, dan diikat dengan beberapa regulasi, dokter dalam menjalani profesinya harus berdasarkan kekuatan regulasi dan birokrasi yang berlaku.
Hal itu berdampak pada suburnya kapitalisme dalam dunia kedokteran dan konsumerisme pada sebagian kalangan pasien yang berstatus menengah ke atas yang ingin memperoleh pelayanan istimewa terkait pemeriksaan dan perawatan tubuh.
Berbeda halnya dengan pengobatan tradisional atau alternatif yang lebih mengutamakan sisi metafisika atau transendental sehingga yang lebih dibutuhkan ialah kedekatan emosional dan sosial untuk memperkuat proses penyembuhan serta tidak terhalangi oleh kekuatan birokrasi yang menciptakan keberjarakan.
Prinsip-prinsip rasionalitas substantif diterapkan oleh Ida Dayak seperti menggratiskan proses pengobatan dan mengedepankan kekuatan spiritual, emosional, dan sosial sehingga kekuatan di immaterial bekerja secara optimal, meskipun demikian hasilnya tetap diyakinkan pada hak prerogatif Sang Pencipta.
Hal itu yang membuat sebagian masyarakat merasa selama ini sering dipersulit secara prosedural oleh birokrasi medis modern sehingga orang rela berbondong-bondong menemui Ida Dayak yang prosedurnya tidak kaku.
Masyarakat yang ingin disembuhkan oleh Ida Dayak tidak selalu identik dengan kelas menengah bawah yang cenderung sering dipersulit oleh aturan medis modern, tapi bisa pula kelas menengah atas yang sudah mencoba berbagai cara dalam medis modern namun belum merasakan hasilnya sehingga beralih ke pengobatan alternatif yang lebih dekat secara spiritual atau kerohanian sehingga keyakinan untuk sembuh semakin kuat.


Dari hal-hal di atas, dapat diambil sebuah pemahaman bahwa kekurangan pada satu tipe pengobatan dapat ditopang oleh model pengobatan lain.
Walaupun memiliki perbedaan metode penyembuhan, namun secara fungsional dapat saling melengkapi atau saling menggantikan meskipun tetap diperlukan kritik antartipe pengobatan untuk saling mengoreksi kekurangan masing-masing.
Hal yang dibutuhkan ialah agensi pada setiap anggota masyarakat untuk dapat mengambil keputusan yang tepat terkait tipe pengobatan apa yang cocok untuknya. Melalui agensi tersebut, seseorang dapat secara aktif mendayagunakan peluang atau kesempatan yang disediakan oleh tipe pengobatan untuk mengoptimalkan kesembuhan dan kesehatan.