Analisis Sosiologi Mengenai Eksistensi Gerai Mixue - Utustoria Analisis Sosiologi Mengenai Eksistensi Gerai Mixue - Utustoria

Analisis Sosiologi Mengenai Eksistensi Gerai Mixue

2206
Spread the love

Photo: Ilustrasi

Penulis: Muhammad Makro Maarif Sulaiman, Akademisi Sosiologi, tinggal di Bantul Yogyakarta.

Utustoria.com – Gerai es krim dan minuman yang disebut sebagai Mixue menjadi pembicaraan warganet di media sosial khususnya Twitter. Hal itu dikarenakan penilaian faktual bahwa gerai tersebut membuka cabang hampir di setiap sudut-sudut tikungan area yang kosong.
Mixue didirikan oleh Zhang Hongchao pada tahun 1997 di Distrik Zhenghou, Provinsi Henan, Tiongkok.
Mulanya, produk yang dijual berupa es serut dengan beberapa varian rasa ditambah dengan menu es krim dan teh dan ditempatkan dalam kedai yang terkondisikan.
Pada tahun 1999, Hanchao memperbarui usahanya dikarenakan masalah finansial dengan membuka gerai yang dinamakan dengan Mìxuě Bīngchéng yang bermakna ‘istana es yang dibangun dengan salju yang manis’.
Pada tahun 2006, Hanchao memperkuat produknya pada es krim model kerucut karena produk tersebut menjadi tren pada saat itu. Hanchao tidak sekadar meniru, namun memodifikasi bentuk dan rasanya.
Hanchao kemudian menyusun ulang strategi pada tahun 2008 dengan menerapkan sistem waralaba pada bisnisnya setelah produk es krimnya memperoleh respon positif dari publik dan nilai penjualan yang terdongkrak signifikan.
Untuk menopang bisnisnya, Hanchao membangun pusat penelitian pangan, pergudangan, dan logistik untuk memperkuat efisien produksi dan keuntungan.
Pada tahun 2018, Hanchao memperlebar sayap bisnisnya ke luar negeri, tepatnya di Vietnam dan pada tahun 2020 bertambah di beberapa negara Asia Tenggara yang lain, termasuk Indonesia.
Pada tahun 2022, sedikitnya 21.000 gerai Mixue telah beroperasi di lebih dari sebelas negara Asia di mana sebagian besar berasal dari belasan ribu gerai yang telah beroperasi di Tiongkok.
Mixue mulai merambah ke Indonesia pada tahun 2020 yang pertama kali beroperasi di Cihampelas Walk dengan dikomandoi oleh PT Zhisheng Pacific Trading dan pada tahun 2022 telah berkembang di wilayah lainnya di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.


Dalam konteks sosiologi, ruang pasar Asia sebagai wilayah menjanjikan bagi aktor bisnis gerai Mixue dalam mengekspansi bisnis es krim dan minuman dipengaruhi atau diilhami dari konsep ekonomi Neo-Fordis.
Sistem ekonomi Fordisme sendiri merupakan sistem yang dikembangkan pada akhir abad ke-19 hingga dekade 70-an yang menekankan produksi massal pada barang-barang yang diminati oleh masyarakat di mana barang-barang tersebut memiliki corak, merek, bentuk, dan warna yang sama.
Setiap pekerja dalam industri berbasis Fordisme memiliki tugas-tugas spesifik, ada yang bertugas untuk merakit, memilah mesin, mengemas barang, mengawasi perakitan, dan menyortir bahan baku.
Setiap pekerja diberikan upah yang layak untuk memotivasi dalam proses produksi barang di bawah tekanan dalam hal jam kerja, perilaku kerja, relasi kerja, dan jumlah produk yang dihasilkan.
Sistem ekonomi Fordisme diinisiasi oleh Henry Ford dalam membangun industri Mobil T berskala massal di Amerika Serikat dengan jumlah pekerja massal yang terobsesi dari penguatan sistem kapitalisme dan pertumbuhan kelas menengah atas di Amerika Serikat dan berpengaruh dalam peningkatan kelas menengah atas di negara tersebut.
Era Fordisme menemui kemundurannya di akhir tahun 70-an ketika dunia sedang dilanda guncangan ekonomi karena naiknya harga minyak dunia disertai pelambatan pertumbuhan ekonomi dan persaingan kapitalisme antar negara Barat dan Asia Timur. Hal itu berdampak pada pengurangan sentralisasi dan homogenisasi ekonomi pada sistem ekonomi Fordisme terlebih di tahun 1980-an berkembang sistem ekonomi neoliberalisme yang berkiblat pada deregulasi kehidupan ekonomi, pengurangan peran negara, dan perluasan arus perdagangan pada pasar global.
Di saat yang bersamaan berkembang produksi ekonomi yang lebih fleksibel, heterogen, berorientasi pada produk kebutuhan individu, spesialisasi produk, dan condong pada penguatan sektor jasa.
Hal itu ditopang oleh perkembangan teknologi informasi yang berawal dari penemuan dan penggunaan mikroprosesor atau chip di tahun 1970-an yang memiliki kapasitas untuk menyimpan memori informasi dalam jumlah besar sehingga mendorong terbentuknya masyarakat informasi di mana bentuk-bentuk pengetahuan seperti penelitian ilmiah, desain, media, produk, formula, dan simbol baru menjadi komponen kunci dalam menciptakan kekayaan. Hal itu mampu mengurangi signifikansi input seperti tenaga kerja manual, bahan baku, atau energi. Perkembangan pengetahuan atau ekonomi simbolik yang seperti itu yang menurut Manuel Castells dan beberapa penulis lain mengarahkan pada pembentukan Masyarakat Jaringan atau Network Society di mana bisnis menjadi terdesentralisasi dan melintasi batas antarnegara serta mentransfer kekuasaan lebih banyak ke tangan pembuat atau penyebar pengetahuan.


Sektor jasa berbasis jaringan pada produksi barang-barang dengan merek dan dalam jumlah tertentu menjadi populer di tahun 1980-an dan 1990-an.
Kaitannya dengan produk makanan dan minuman muncul gerai, kafe, dan restoran seperti Pizza Hut, Taco Bell, dan Starbucks yang tersebar ke seluruh dunia. Hal itu tidak terlepas dari kehadiran McDonald’s di tahun 1955 di Amerika Serikat.
McDonald’s yang di tahun 2011 memiliki sebanyak 32.737 restoran di seluruh dunia telah menjadi pelopor munculnya banyak gerai-gerai mentereng yang jumlahnya hingga puluhan ribu tersebar secara global.
Bisnis makanan dan minuman cepat saji mengadopsi sistem fordis dalam memperluas cakupan pasar dengan memodifikasi produk dengan berbagai varian rasa, bentuk, dan merek yang diperuntukkan bagi konsumen-konsumen umum maupun konsumen-konsumen tertentu.
Dikarenakan sistem pemasaran massal dengan fleksibilitas produksi dan produk, maka disebut sebagai Neo-Fordis atau Fordisme wajah baru dengan mengkombinasikan karakteristik post-fordisme yang heterogen, individual, dan spesifik.


Mixue sebenarnya juga paralel dengan beberapa gerai lain dalam menerapkan sistem Neo-Fordis yang ditopang oleh teknologi digital berjejaring dalam memperkuat aspek identitas produk. Hanya saja karena Mixue tidak semahsyur Starbucks dan McDonald’s maka lewat viralitas di jejaring media sosial Mixue dapat dikenal oleh publik.
Mengutip dari cnbcindonesia.com, pada tahun 2021 gerai terbanyak di dunia ditempati oleh McDonald’s dengan jumlai gerai 40.030, di urutan kedua ditempati Subway dengan jumlah gerai global sebesar 37.000, urutan ketiga ditempati oleh Starbucks dengan jumlah gerai global sebesar 33.833, urutan keempat ditempati oleh KFC dengan jumlah gerai global sebesar 26.934, urutan kelima ditempati oleh Mixue dengan jumlah gerai global sebesar 21.582, urutan keenam ditempati oleh Burger King dengan jumlah gerai global sebesar 19.247, dan di urutan ketujuh ditempati oleh Dominos Pizza dengan jumlah gerai global sebesar 18.848.


Dalam perspektif Bourdieusian, Hanchao memperkuat dan mengembangkan modal ekonomi (kapasitas finansial), modal budaya (keterampilan, pengetahuan, pengalaman, etos kerja, motivasi dan teknik berbisnis), dan modal sosial (jejaring sosial antar regional dan negara untuk waralaba dan pemasaran khususnya melalui teknologi jejaring) sehingga mampu membentuk kekuatan simbolik (modal simbolik berupa prestise pada benda/merek) pada produk atau merek barang yang menciptakan selera pada konsumen sasaran khususnya anak-anak muda atau remaja yang senang mencoba berbagai produk global untuk memuaskan hasrat mereka.
Hanchao telah ‘mentahbiskan’ Doxa bahwa menu-menu kekinian seperti es krim dan minuman dengan rasa dan varian tertentu merupakan bagian dari kelas atau kelompok tertentu melalui berbagai strategi modal sebagai bagian dari kekuatan pasar global.
Dalam praktiknya, gerai-gerai tersebut tak terkecuali Mixue menerapkan apa yang disebut George Ritzer sebagai empat prinsip operasi yang memiliki kekuatan substansi pada rasionalitas formal.
Rasionalitas formal merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Max Weber.
Empat prinsip tersebut meliputi:

  1. Prediktabilitas yang berarti menjamin produk dan layanan akan sama dari waktu ke waktu dan semua tempat.
  2. Efisiensi yang berarti mendayagunakan tenaga, biaya, dan waktu secara efisien untuk memaksimalkan hasil atau produk.
  3. Kalkulasi yang berarti menerapkan prinsip kuantitatif atau perhitungan rasional dalam aspek pekerjaan seperti ketepatan dalam mengemas barang, mengatur jam masuk, kerja, dan pulang, keakuratan waktu dalam pengantaran pesanan, dan juga perhitungan dari segi pembiayaan dan pembayaran upah.
  4. Kontrol yang berarti praktik kerja para karyawan gerai atau restoran dikendalikan oleh aturan yang tersistematisasi, baik dalam pola pekerjaan, pakaian, perilaku, tata krama hingga dalam menggunakan teknologi untuk bekerja. Termasuk dalam membentuk pseudo interaksi pada karyawan seperti harus selalu tersenyum dan ramah kepada pelanggan atau konsumen meskipun si karyawan sedang memiliki masalah pribadi.
    Masih dalam tataran Bourdieusian. Para pelanggan yang dilabeli secara Doxic oleh Rezim Makanan dan Minuman Cepat Saji mampu membentuk heterodoxa atau sikap negosiasi atau meredam Doxa sebuah sistem, misal pelanggan yang kebanyakan adalah generasi Y dan Z memiliki lebih banyak pilihan untuk berganti selera sesuai dengan kemampuan mereka dalam mengikuti tren khususnya di media sosial, dan tentu itu menjadi tantangan bagi Doxa Rezim Makanan dan Minuman Cepat Saji untuk memperbarui strategi pemasaran dan produksi barang.
    Pembaruan strategi pemasaran dan target pasar secara Bourdieusian merupakan praktik yang terbentuk dari struktur/habitus yang bekerja melalui pemberdayaan modal-modal dalam ranah kontestasi, dan struktur/habitus dalam lintasan sejarah mempengaruhi pembentukan praktik, sehingga terbentuk praktik-praktik dialektis yang tidak kaku bahkan condong kepada banyak manuver.

Saat ini, Mixue Indonesia sedang dalam proses memperoleh sertifikasi halal dari MUI karena sebagian besar konsumen adalah orang Islam.
Walaupun masih dalam proses, Mixue selalu berupaya menggunakan bahan-bahan yang halal.
Berdasarkan analisis di atas, menjadi sebuah refleksi bagi kita untuk lebih bijak dan selektif dalam membeli dan mengonsumsi produk-produk tertentu.
Walaupun produk tersebut bersih dan halal, namun apabila dikonsumsi secara berlebihan dan terus menerus tentu akan tidak baik bagi kesehatan tubuh, terlebih produk es krim dan minuman di Mixue cenderung mengandung gula dan pemanis yang harus bijak dalam mengonsumsinya.
Dalam mengonsumsi makanan dan minuman harus memperhatikan pola gizi setiap harinya agar tidak terjebak pada pola konsumsi yang prestisius yang mengesampingkan kesehatan.