Analisis Sosiologi Tentang Fenomena Jasa Sewa Pacar - Utustoria Analisis Sosiologi Tentang Fenomena Jasa Sewa Pacar - Utustoria

Analisis Sosiologi Tentang Fenomena Jasa Sewa Pacar

445
Spread the love

Photo: Ilustrasi

Penulis: Muhammad Makro Maarif Sulaiman, Sosiolog, Tinggal di Bantul Yogyakarta.


Utustoria.com – Secara faktual, jasa sewa pacar diinisiasi di Jepang dan Cina sebagai ladang bisnis yang diperuntukkan untuk para jomblo yang kesepian dan membutuhkan teman mengobrol atau curhat ataupun sebagai teman mengobrol untuk melepas penat.

Faktor globalisasi melalui perkembangan media sosial memudahkan akses terhadap situs-situs yang menyediakan jasa sewa pacar dan telah diadopsi oleh sebagian warga Indonesia untuk melakukan praktik bisnis serupa khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
Praktik sewa pacar melibatkan pengguna sebagai customer dan orang sebagai pacar yang disewa sebagai talent dan bisa dilakukan secara offline ataupun online dengan perbedaan tarif.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kumparanNEWS, tarif kencan offline dipatok Rp 250 ribu rupiah untuk tiga jam, Rp 320 ribu untuk empat jam, dan Rp 350 ribu untuk lima jam. Itu belum termasuk biaya transportasi, makan, jalan-jalan, dan nonton yang harus ditanggung oleh customer atau klien.
Sedangkan untuk jasa kencan online dipatok dengan fee Rp 170 ribu untuk satu minggu dan dikenakan biaya tambahan untuk pap foto (Rp 40 ribu) dan video call (Rp 50 ribu).
Dalam jasa sewa pacar diterapkan beberapa rules seperti harus single, dilarang menanyakan identitas yang bersifat privasi, dan tidak boleh ada tindakan mesum.
Apabila itu offline harus di tempat umum dan batasan kontak fisik yang diperbolehkan seperti memeluk, merangkul, dan bergandengan tangan.

Bagi yang online tidak diperkenankan mengirim gambar, foto, dan video 18+.
Dalam posisi sebagai customer, secara sosiologis dalam perspektif Pierre Bourdieu tentang Habitus, penggunaan jasa sewa pacar merupakan praktik modal (kapital) yang cenderung dilakukan oleh kelompok kelas menengah atas atau mereka yang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kelas menengah atas karena jasa sewa pacar memiliki tarif dengan nominal berjenjang dan modal yang solid untuk mengaksesnya.
Adapun praktik modal tersebut meliputi penggunaan modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik.

Kapital ekonomi berupa faktor finansial yang kuat dengan jumlah yang mendukung untuk melakukan relasi sosial (kapital sosial) dengan para pemilik jasa sewa pacar dan tentu untuk berinteraksi dengan para talent.
Hal itu untuk mengaktualisasikan kapital budaya seperti kemampuan menarik hati lawan jenis dan pengembangan nilai-nilai keintiman sosial yang menjadi dasar kebutuhan bagi manusia.

Dilihat dari modal budaya pula, tidak semua orang mampu merasakan dan mengalami praktik berpacaran yang telah diatur sedemikian rupa melalui jasa tarif pacar.
Adapun penggunaan modal simbolik dalam jasa sewa pacar bertujuan untuk memperoleh rekognisi (pengakuan) dan apresiasi (penghargaan) terhadap identitas dan status sosial tertentu. Hal itu cenderung berlaku pada mereka yang memiliki status dan identitas kelas sosial menengah atas atau mereka yang mengidentifikasi diri sebagai kelas sosial tersebut untuk membuktikan bahwa dengan kekuatan modal ekonomi, sosial, dan budaya yang dimiliki mampu meredam stigma sebagai jomblo atau tak laku.
Kemampuan kelas menengah atas dalam menyewa pacar selama beberapa waktu tertentu menjadi semacam distingsi atau pembeda dengan kelas sosial yang lain kaitannya dengan kuasa modal untuk mencari pasangan sementara dalam memenuhi kebutuhan afeksi.

Dari posisi pekerjaan sebagai talent dan pemilik bisnis jasa sewa pacar, hal itu dilakukan atas dasar pilihan rasional yang terdiri dari nilai, pilihan, dan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu.
Talent dan pemilik bisnis jasa sewa pacar mempertimbangkan dan memperhatikan nilai-nilai bisnis yang cukup menguntungkan di mana para jomblo dijadikan klien untuk dipertemukan dengan pacar tidak riil.
Nilai-nilai yang dimaksud ialah nilai-nilai romantisme berbasis reward.
Nilai-nilai itu muncul dengan mengamati praktik bisnis serupa di negara lain.
Hal itu didukung oleh pilihan sumber daya yang tersedia berupa teknologi digital untuk membantu memudahkan komunikasi dalam mengkonfirmasi permintaan pacar sewaan, ditambah kemampuan aktor dalam mendayagunakan sumber daya ekonomi dan sosial untuk mengoptimalkan berlangsungnya bisnis.

Memaksimalkan keuntungan melalui hal-hal itu tadi menjadi target utama para aktor di mana ke depan dapat menginisiasi bisnis serupa seperti orang tua sewaan.
Kemampuan aktor dalam menghadirkan bisnis jasa sewa pacar memperhatikan pula institusi sosial yang mengatur relasi berbasis digital melalui undang-undang transaksi elektronik terutama unsur pornografi yang dilarang digunakan karena sangat merugikan dan berdampak pada tindak pidana dan dengan mencermati nilai dan norma sosial secara umum; jika jasa sewa pacar melanggar dari ketentuan yang ada tentu bisnis itu tidak mungkin bisa survive.
Dalam perspektif Max Weber, munculnya bisnis sewa pacar menandakan adanya instrumentalisasi relasi cinta dan kasih sayang di mana kedua hal itu menjadi sesuatu yang relatif sulit diperoleh dalam dunia sosial yang modern dan mengedepankan rasionalitas.
Praktik modal oleh kelas menengah atas, pilihan rasional talent dan pemilik bisnis, dan instrumentalisasi hubungan afeksi diperkuat oleh faktor-faktor seperti:

  1. Kurang siapnya individu menjalani komitmen dalam hubungan pacaran nyata terlebih apabila memasuki institusi keluarga dan perkawinan karena tuntutan akan peran sosial di dalamnya yang tidak ringan di era kekinian.
    Maka penggunaan jasa sewa pacar dinilai oleh ‘konsumen’-nya sebagai latihan, edukasi, dan persiapan sebelum memasuki relasi pacaran dan perkawinan secara nyata;
  2. Sebagai cara bagi sebagian orang untuk ikut mengkonstruksi makna dunia sosial yang dilingkupi oleh komodifikasi di mana tidak lepas dari pengaruh teknologi digital; dengan mengkonstruksi makna dunia sosial tersebut orang merasa yakin mampu melalui dan melampaui perubahan-perubahan dalam kehidupan termasuk di antaranya relasi pacaran yang dikomersialkan.
    Hal itu relevan dengan pemikiran Georg Simmel tentang munculnya berbagai bentuk interaksi sosial baru dengan mengesampingkan substansinya salah satunya pada bentuk interaksi sosial yang dikomodifikasi seiring perubahan persepsi orang terhadap kebutuhan dan gaya hidup. Pembentukan substansi atau isi atau hakikat mendalam dari interaksi di era kekinian dinilai sulit dan membutuhkan proses yang tidak sebentar, maka orang mencari pola interaksi sosial yang cepat memuaskan keinginannya; dan
  3. Bentuk resistensi sekaligus negosiasi terhadap hegemoni agama yang mengatur relasi gender secara ketat dengan klaim tidak sampai melanggar batas-batas etika seksualitas atau yang mengarah pada hubungan seksual.

Adanya jasa sewa pacar bukan berarti tanpa risiko. Risiko yang dimaksud terutama di era digital saat ini ialah tersebarnya identitas dari pengguna jasa sewa pacar maupun talent. Meskipun sisi privasi dijaga dengan cukup ketat, tidak menutup kemungkinan ada oknum dari penyedia jasa sewa pacar menyalahgunakan data klien maupun talent untuk kepentingan tertentu yang menimbulkan dampak negatif, terlebih jasa sewa pacar sifatnya tidak formal dan tidak berbadan hukum meskipun dalam praktiknya diawasi oleh undang-undang transaksi dan elektronik.
Tentu hal itu dapat menjadi bumerang bagi customer dan talent apabila mereka tidak proporsional dalam mempertimbangkan sisi pelayanan jasa dan kerentanan yang mungkin bisa terjadi.


Fenomena jasa sewa pacar menjadi pemantik bagi kita untuk memperbagus kualitas interaksi sosial dengan teman atau saudara dan mengikuti komunitas yang memiliki aksi positif karena pacar sewaan belum tentu menumbuhkan kepercayaan diri dan arti sebagai individu manusia sejati.
Hal itu untuk meminimalisasi relasi hampa berbasis kontrak singkat di mana relasi tersebut bisa berdampak pada meningkatnya alienasi.