Mengapa Istilah "HEALING" Muncul di Benak Orang - Orang Indonesia? - Utustoria Mengapa Istilah "HEALING" Muncul di Benak Orang - Orang Indonesia? - Utustoria

Mengapa Istilah “HEALING” Muncul di Benak Orang – Orang Indonesia?

77
Spread the love

Photo: Ilustrasi, FB Made Supriatma

Penulis: Made Supriatma

Utustoria.com – Healing: Akhir-akhir ini saya banyak sekali mendengar istilah “healing.” Saya tidak tahu mengapa istilah ini muncul di benak orang-orang Indonesia. “Healing” artinya penyembuhan.

Kalau Anda punya koreng dan ia gatal, nah menurut orang-orang tua itu tandanya Anda dalam proses “healing” atau penyembuhan. Mungkin saya sudah terlalu ketinggalan jaman. Sekarang ini tidak ada lagi orang menggaruk-garuk koreng dan menyebutnya kenikmatan. Koreng sekarang ditutup plester plastik kedap air. Bahkan menutup koreng dengan perban sudah tidak terdengar lagi. Alangkah berubahnya dunia.

Nah, istilah healing ini tidak dipakai oleh anak-anak muda Gen-X atau generasi millenial saja. Generasi saya, generasi tua bangka yang pernah menumbangkan Suharto hanya untuk menjadi pengganti gedibal-gedibalnya, juga memakai istilah ini.

Artinya sangat berbeda dari gatal koreng yang adalah bagian dari proses penyembuhan itu. Di satu posting TikTok (oh ya, saya nonton TikTok, Sodara-sodara!) saya melihat seseorang sedang liburan. Dengan nada jumawa penuh kemenangan dia berkata, “Ayo dong healing … masak kerja terus!”

Oh, jadi healing itu artinya sekarang liburan. Proses menyembuhkan diri dari kerja. Dan kerja sekarang adalah sesuatu yang menyakitkan.

Sesuatu yang sangat berbeda saya dengar dari kawan saya, seorang perupa, yang mengalami peristiwa pembantaian 1965, dimana dia dan keluarganya turut terimbas. Ayahnya hilang. Rumahnya dibakar dan harta keluarga mereka dijarah. Semua ini meninggalkan trauma yang amat mendalam.

Dia juga bicara soal proses healing lewat karya-karya seninya. Dia membebaskan diri dari pengalaman-pengalaman traumatis itu dengan bekerja, berkarya, mencipta, dan mencurahkan daya kreatifnya.

Sementara di sisi yang lain, di dunia politik, Anda tentu sering mendengar kata-kata “kerja, kerja, dan kerja.” Itulah imajinasi yang ingin dibangun tentang pemerintahan sekarang ini. Presiden Jokowi, para pembantunya, serta para buzzer-nya yang berbus-bus itu, tidak henti-hentinya memperlihatkan bahwa presiden itu memang bekerja.

Dia membangun ini dan itu. Saya melihat kemiripan antara ‘kerja, kerja, kerja” ini dengan pembangunan yang dulu seringkali diucapkan Suharto dan antek-anteknya.

Bahkan undang-undang yang dikenal dengan sebutan Omnibus Law, yang membuat kemudahan untuk berbisnis dan berinvestasi diberi julukan manis, “Undang-undang Cipta Kerja.”

Kerja menjadi imajinasi politik paling penting selama delapan tahun terakhir ini. Kerja, kerja, kerja … dan tidak ada orang mempertanyakan siapa yang menikmati hasil pekerjaan itu.

Hingga kemudian datanglah ‘healing’ itu. Mungkinkah ‘healing’ itu datang dari kebosanan atau bahkan dari beban kerja?

Dalam kasus teman saya yang perupa itu, kerja justru merupakan proses healing. Energi kreatif dari kerja adalah untuk meredakan pengalaman traumatis yang pernah hadir di masa kecilnya.

Namun healing yang sekarang populer di kalangan kelas menengah dan elit Indonesia itu lebih berupa upaya lari dari kerja. Namun saya tidak melihatnya sebagai pelarian, atau resistensi, apalagi oposisi dari “kerja, kerja, kerja” dari rejim pemerintahan sekarang ini.

Healing kelas menengah Indonesia ini sepenuhnya hedonistik. Ia adalah upaya untuk menikmati sebanyak-banyaknya sebagai upaya untuk keluar dari represi yang amat sangat kuat (perhatikan: saya memakai tiga superlatif disini).

Apakah masyarakat kita ini hidup dalam sistem yang sangat represif? Hei, bukankah kita sudah demokratis? Bukankah kita kita punya pemilihan umum yang teratur?

Betul, secara politis. Tidak secara sosiologis dan antropologis.

Mari saya ambil jalan memutar untuk menjelaskan bagaimana represifnya masyarakat kita, khususnya terhadap perempuan.

Berulangkali saya melihat perempuan-perempuan di tempat-tempat umum memakai jaket dengan ‘hood’ untuk menutup kepalanya. Ini secara khusus dilakukan oleh perempuan-perempuan yang tidak berjilbab. Beberapa saya tahu adalah perempuan non-Muslim.

Saya melihat fenomena ini agak merata di Jawa, Sumatra, dan beberapa pulau lain yang saya kunjungi. Tidak ada di Bali atau Flores.

Mengapa kaum perempuan di wilayah mayoritas Muslim melakukan ini? Hingga sekarang saya masih bertanya-tanya. Satu jawaban hipotetikal saya adalah adalah bahwa menutup kepala untuk perempuan sekarang ini sudah menjadi norma. Dari perempuan non-Muslim saya memperoleh jawaban bahwa ia merasa “malu” keluar ke tempat umum kalau tidak menutup kepalanya.

Sementara yang Muslim, jika ia tidak berjilbab, mengatakan bahwa ia merasa telanjang kalau tidak berjilbab.

Ini baru soal menutup kepala. Ada banyak soal lain yang secara normatif dan ritualistik harus dipenuhi untuk menjadi anggota dari masyarakat kita. Sebagian besar norma itu lahir dari agama — hampir semua agama.

Orang dituntut untuk secara ketat berada pada jalur kesalehan yang sudah ditunjukkan oleh agama. Gagal berada pada jalur ini maka Anda akan menghadapi konsekuensi yang teramat sangat berat (tiga superlatif lagi!).

Orang memang merasa tenang ketika sudah “menjalani ajaran-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya.” Ya merasa tenang. Kadang merasa puas juga. Selain kuatir karena terus digedor pertanyaanya, sudahkah saya benar-benar “menjalani ajaran-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya”?

Agama bisa menjadi sangat represif bagi kondisi kejiwaan. Khususnya dalam bentuknya yang terinstitusionalisasi seperti yang sangat kuat kita lihat di Indonesia sekarang ini. Bukankah makanan saja diagamakan di dalam masyarakat ini? Bahkan rezim-rezim yang paling totaliter sekali pun tidak mengatur agama dari sebuah makanan.

Kemana pun Anda pergi, Anda selalu diingat-ingatkan akan “menjalani ajaran-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya.” Di jalan, di TV, di rumah, di kantor, di sekolah, di rumah sakit … dimana saja. Ia omnipresent. Hitunglah berapa kali dalam sehari Anda menjumpai peringatan dan ancaman langsung dan tidak langsung yang akan memasukkan Anda ke dalam siksa kubur dan api neraka.

Namun sekaligus pada saat yang bersamaan, Anda perlu hidup normal — hidup yang sedikit nakal; bermunafik ria dengan mengintip yang porno-porno; makan enak; juga bermalas-malas.

Kita hidup dalam kebudayaan yang sangat represif. Itulah sebabnya kita butuh “healing” keluar dari ruang represi.

Pada awalnya, saya menertawakan masyarakat yang tidak sakit tapi memerlukan “healing.” Namun setelah saya melihat lebih dalam, saya setuju bahwa masyarakat kita ini memang sakit.

Jauh lebih mudah menjatuhkan Suharto dan sistem politiknya yang represif ketimbang menjatuhkan rejim sosial dan kebudayaan yang represif.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.