Survey! | Utustoria Survey! – Utustoria

Survey!

57
Spread the love

Foto: Kuda putih dengan penunggang hitam. Biro Pers Setpres.

Penulis: Made Supriatma

Prabowo: Sebuah lembaga survey mengeluarkan temuannya. Menurut yang saya baca di media, kalau pemilihan presiden dilakukan sekarang ini, Prabowo Subianto akan menjadi presiden.

Survey ini menyigi 1,220 responden. Mereka mengajukan 42 nama yang pantas menjadi presiden. Dari semua nama itu, Prabowo mendapat 21,5%; Ganjar Pranowo 12,6%; Anies Baswedan 12%.

Selanjutnya Sandiaga Uno mendapat 5,5%; Ridwan Kamil 4,4%; Ahok 4,3%; AHaY 3,2%. Sementara Mensos Risma 2,9% dan Megawati 2,4%.

Saya tertarik dengan kesimpulan survey ini. Apakah, kalau mengikuti logika penelitian survey ini, Prabowo Subianto otomatis menjadi presiden? Tentu tidak. Dia memang mendapat suara terbanyak. Namun tidak akan ada orang menjadi presiden hanya dengan 21,5%.

Kuat dugaan saya, survey semacam ini dibuat untuk memancing perhatian. Dan media dengan riang gembira menangkapnya. Seolah-olah preferensi publik mengarah ke Prabowo.

Kita baru berada pada pertengahan tahun 2021. Namun perdebatan tentang pemilihan presiden sudah mulai menghangat. Para politisi bermanuver. Media massa memanaskan. Lembaga-lembaga survey memakainya untuk mengiklankan dirinya sendiri.

Semuanya dengan satu tujuan: menarik perhatian kita sebagai elektorat. Tidak peduli bahwa pilpres masih 3,5 tahun lagi. Bahwa satu minggu dalam pemilihan sepenting pemilihan presiden bisa berarti satu abad. Maksud saya, dalam pilpres, apa saja bisa terjadi dalam seminggu. Bahkan banyak pemilih membuat keputusan di bilik suara. Artinya, di detik-detik terakhir pemilihan.

Sebelum ini, kita melihat manuver Puan Maharani vs. Ganjar Pranowo. Secara diam-diam Ganjar sudah mulai memobilisasi tim relawan.

Walaupun dia menyangkal, semua orang tahu bahwa dibalik beberapa tim relawan itu, diantaranya bernama Ganjarist, ya ada orang-orangnya Ganjar. Tentu, tidak akan mungkin manuver ini dilakukan tanpa sepengetahuan Ganjar sendiri.

Ini memunculkan sedikit riak di dalam PDIP dimana Ganjar dianggap sebagai kader.

Kita lihat bahwa manuver Ganjar membuahkan hasil. Kini dia termasuk barisan depan (front-runner) calon presiden. Dalam survey tadi, dia menduduki urutan kedua.

Manuver ini merangsang politisi lain untuk ikut terjun. Prabowo Subianto, yang tiga kali kalah dalam pemilihan presiden (sekali sebagai cawapres dan dua kali sebagai capres), tiba-tiba buka suara. Selama ini, sebagai menteri pertahanan dia irit bicara.

Namun dia putuskan untuk bicara. Platform yang dipilihnya pun menarik. Dia memutuskan buang suara lewat Podcast Youtube yang diasuh oleh seorang mantan pesulap.

Viola! Pesulap ini dianggap hebat karena mampu membuat Prabowo bicara. Saya setuju dengan pendapat seorang teman saya. Menurut dia, bukan si pesulap yang jagoan membuat Prabowo bicara. Tetapi tim Prabowo sendiri yang jeli memilih platform.

Dalam pertarungan pilpres yang masih sangat dini ini, sangat penting bahwa mereka “memperkenalkan” kembali kandidatnya kepada publik. Si pesulap ini dipilih karena pengikutnya banyak. Juga karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan-pertanyaan ringan.

Si pesulap ini tentu tidak akan mengajukan “gotcha questions” alias pertanyaan-pertanyaan dadakan yang membuat posisi orang seperti Prabowo sulit. Tujuan dari pesulap ini adalah membuat Prabowo bersinar. Dan itulah yang terjadi.

Setiap pemilihan akan berusaha menampilkan calon yang berbeda. Sekalipun kandidatnya sama. Pada Pilpres 2014, para elektorat Indonesia dibikin terpesona oleh kandidat “rakyat” yang rajin “blusukan,” yang bertampang jelata, yang sama sekali bukan bagian dari elit.

Pada pemilu 2019 kandidat yang sama sudah menanggalkan citra yang lama. Dia di-cast sebagai orang yang akan melanjutkan “perjuangannya” untuk orang-orang kecil. “Saya tidak akan punya beban,” katanya untuk periode kedua.

Elektorat berhasil diyakinkan. Dan, sekarang pun orang yakin bahwa dia “tidak punya beban.” Kecuali bahwa beban itu bisa ditafsirkan lain. Misalnya, tidak terbebani pada janjinya kepada para elektoratnya.

Prabowo pun sekarang berada dalam posisi yang sama. Dan, dia melakukan hal yang lebih benderang. Dia pergi ke tukang sulap untuk membuat citra yang baru.

Pada 2014, Prabowo tampil sangat populis. Saya ingat dia ingin memajukan pertanian (dia Ketua HKTI waktu itu). Dia ingin semua anak Indonesia minum susu.

Melihat lawannya yang dari rakyat kebanyakan, dia berusaha tampil agung — dengan kuda impornya yang gagah (dia sangat terobsesi dengan kuda; dan bahkan bikin patung Sukarno berkuda tanpa peduli bahwa Sukarno tidak pernah naik kuda).

Pada Pilpres kedua, dia menjadi sangat nasionalistik. Dia anti asing khususnya terhadap Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Akhirnya, kita tahu bahwa dia kalah.

Namun karir politiknya tidak tamat. Lawannya malah mengangkatnya menjadi Menteri Pertahanan, sebuah posisi yang sangat strategis.

Hingga tahap ini, kita belum tahu bagaimana Prabowo akan meng-casting dirinya untuk Pemilu 2024. Namun dengan prestasinya tiga kali kalah Pilpres, tidak diragukan bahwa dia adalah kandidat yang paling punya nama diantara semua kandidat presiden yang ada.

Saat ini, Prabowo berusia 69 tahun. Kalau terpilih pada 2024 dia akan berusia 73 tahun.

Mungkin dia akan memerankan diri sebagai negarawan senior. Dalam usia lewat 70 tahun, saya tidak yakin dia akan bisa seenaknya naik kuda. Namun, dalam politik semuanya adalah citra.

Dibalik semua riuh rendah politik calon presiden ini, saya kira semua kandidat semua berhitung pada satu kuda hitam. Saya kira tidak seorang pun akan mengeliminasi kemungkinan bahwa si kuda hitam itu.

Dia tidak lain adalah Joko Widodo. Presiden sipil yang dua kali memang pilpres, sekali memang Pilgub, dan dua kali menang pemilihan wali kota. Dia adalah politisi paling lihai Indonesia saat ini.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *