New Normal, Sebuah Istilah Ditengah Krisis | Utustoria New Normal, Sebuah Istilah Ditengah Krisis – Utustoria

New Normal, Sebuah Istilah Ditengah Krisis

357
Spread the love

Photo: Ilustrasi, Google

Dalam beberapa kesempatan beberapa hari terakhir ini banyak dari kita bertanya-tanya tentang istilah New Normal, sebuah kosa kata yang oleh kebanyakan orang seperti saya terdengar baru apalagi kata ini diadaptasi dari Bahasa inggris yang bagi sebagian kita terasa kurang fasih dalam pengucapnya.

New Normal yang dalam bahasa Indonesia bisa disebut Normal Baru atau Kenormalan Baru dalam beberapa literatur terkadang disebut  juga  sebagai kewajaran baru atau kelaziman baru adalah sebuah istilah yang dipakai dalam ekonomi atau bisnis. Seperti dikutip pada wikipedia.org istilah ini mulai diperkenalkan setelah krisis keuangan pada tahun 2007-2008  yang berlanjut pada resesi global 2008-2012.

Krisis keuangan pada tahun 2007-2008  yang berlanjut pada resesi global 2008-2012 menurut Wahyu Susilo dalam suatu wawancara di situs indoprogress.com terjadi saya kutipkan agak panjang adalah : …“akibat tidak seimbangnya sektor keuangan dengan sektor produksi karena adanya praktek monopoli sumber daya ekonomi oleh korporasi besar dan negara maju terhadap negara miskin. Modal untuk pembangunan hanya dimiliki oleh sekelompok korporasi besar dan negara tertentu saja, sementara negara miskin harus dengan cara berutang untuk mendapatkan dana pembangunan dengan kewajiban menjalankan seluruh persyaratan negara maju. Kondisi tersebut menyebabkan banyak masyarakat kehilangan sumber daya ekonominya akibat struktur ekonomi yang mengesahkan praktek monopoli. Penguasaan ekonomi yang tidak adil menciptakan struktur kemiskinan yang akut, yang pada akhirnya menurunkan kemampuan daya beli masyarakat”.

Kejatuhan daya beli masyarakat inilah yang oleh beberapa pakar ekonomi global yang menyebabkan krisis saat itu dianggap sebagai krisis ekonomi global terburuk pada abad ke- 21. Setelah dunia dapat melalui siklus krisis kapitalisme ini maka cara hidup manusia kemudian didorong atau dipaksa oleh keadaan untuk berubah.

Setelah kurang lebih satu dekade sejak krisis 2007-2008 istilah kenormalan baru dalam ekonomi kemudian menemukan defenisinya. Kenormalan baru sudah lamat-lamat menampakkan bentuknya dan setiap pelaku bisnis harus mulai jeli memasang insting bisnisnya agar bisa bersaing dengan pemain lain di tengah kenormalan baru yang bakal lahir, kenormalan baru itu tidak lain adalah Digital Economy dan Leisure Economy.

***

Sampai disini kemudian timbul pertanyaan kenapa kata New Normal yang merupakan istilah yang lahir dari krisis ekonomi kemudian dipakai saat ini ditengah krisis akibat wabah pandemik covid 19 sedang melanda dunia? Apakah New Normal hanya bermakna pada perubahan perilaku untuk hidup lebih sehat sesuai dengan protokol kesehatan agar tidak terinvekesi virus tanpa ada hubungannya dengan Ekonomi?

Saya kira dengan lugas kita dapat menjawab dua pertanyaan diatas bahwa perubahan perilaku manusia akibat pandemik covid 19 ini berkonsekwensi terhadap ekonomi. Dengan adanya pandemik ini kita diminta kerja dirumah, melakukan rapat dari rumah dengan perangkat digital seolah – olah semuanya dapat digerakan dari jauh namun ternyata kenormalan baru ekonomi yang ditandai dengan Digital Economy dan Leisure Economy ternyata penuh kerapuhan.

Martin Suryajaya dalam tulisanya  Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Korona menjelaskan bahwa pada kenyataanya ekonomi tidak bisa bergerak tanpa kerja fisik langsung seperti kerja dipabrik, perkebunan dan pertanian. Lebih lanjut Martin mengatakan :

 “Barang-barang kebutuhan sehari-hari tetaplah pada hitungan terakhir datang dari kerja fisik yang tidak bisa dilakukan lewat kerja dari rumah. Kita tidak bisa membayangkan padi-padi tumbuh dan terpanen dengan sendirinya karena para petani kerja dari rumah. Kita tidak bisa membayangkan mie instan terproduksi, terkemasi dan terantar ke toserba dengan sendirinya karena para buruh kerja dari rumah”.

Disebabkan basis dari segala persoalan ekonomi adalah kerja fisik yang pada akhirnya adalah kontak fisik maka istilah New Normal ini menemukan relevansinya. Cara hidup baru, cara berhubungan secara baru dan cara berkontak fisik baru harus dipikirkan dan wajib dilakukan demi kelangsungan ekonomi. 

Dari uraian singkat ini dapat kita simpulkan bahwa istilah New Normal atau Normal Baru atau Kenormalan Baru digunakan ditengah krisis wabah pandemik covid 19 ini adalah adalah demi keselamatan Ekonomi agar krisis tidak begitu parah dan merusak tatanan secara lebih jauh. (SAJ)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *