RAMADHAN ALA MASYARAKAT KONSUMTIF

Foto: qureta

Selamat datang Ramadan, bulan penuh berkah yang dinantikan oleh umat muslim diseluruh dunia. Dimana selain khusyuk beribadah, “penyakit” tahunan masyarakat akan kambuh kembali. Bulan dimana masyarakat berpikir lebih masif mengenai bebagai macam hal yang akan dan harus dipenuhi selama sebulan penuh dan bulan dimana jarak antar kelas terlihat jelas. Pada mulanya masyarakat dijejali beraneka macam wacana mengenai produk bertema religius yang sahih untuk dikonsumsi untuk mendukung kelancaran ibadah puasa, dicitrakan dengan dramatis di berbagai media dan terlihat anggun saat dijajakan, bertujuan untuk merekonstruksi nalar konsumtif masyarakat, sehingga melahirkan interpretasi berikut kesimpulan absolut oleh masyarakat itu sendiri yang berbunyi kurang lebih: “Saya harus memilikinya!”. Secara tidak langsung membuat makna mulia Ramadan kian tergerus.

Stimulan tersebut cukup efektif menghipnotis masyarakat. Utamanya masyarakat awam dan lugu yang berpikir bahwa sesuatu yang kecil sekalipun tidak kalah pentingnya dengan hal-hal besar. Selama ramadan masyarakat mencoba menahan nafsu, tetapi sifat dasar manusia yang tak pernah puas malah menuntun ke arah tendensi atas pemuasan nafsu belanjanya. Sinyal ini ditangkap dengan cerdas oleh para produsen, semakin tinggi permintaan, semakin meningkat pula penawaran, tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dimulai dari produk jajanan pasar sampai yang bersifat eksklusif, dengan fungsi yang sama, dibeli bervariasi dan berujung pada kemubaziran. Beberapa rupiah terbuang sia-sia, bermuara pada financial destructive pada konteksnya. Satu lagi yang secara tidak langsung menggiring masyarakat ke arah perilaku konsumtif, sebuah kultur yang tengah hype beberapa tahun belakangan dan menjadi wahana wajib kaum urban tidak lain tidak bukan disebut dengan ngabuburit. Zaman telah bergeser beriringan dengan gaya hidup masyarakatnya. Aslinya ngabuburit itu sendiri berasal dari bahasa sunda, yang setelah melalui uji komutasi fonetik Hjelmslev dengan mengacu pada Trubetzkoy (1964) diketahui bahwa kata “burit” merepresentasikan waktu penghujung hari atau magrib. Istilah ini umum diucapkan masyarakat menunggu berbuka puasa setelah ba’da ashar akhir- akhir ini.

Kata “menunggu” dalam kebudayaan kontemporer memiliki makna konotasi dengan cara beraktivitas yang tidak rutin di luar rumah dan memang hanya terjadi di bulan ramadan sambil menunggu azan berkumandang. Padahal kata “burit” itu sendiri tak ada hubungannya dengan ramadan. Pada akhirnya istilah ini mengalami reduksi makna setelah dikenal dan digunakan denngan frekuensi yang tinggi, maka secara tak langsung disepakatilah bersama dengan penyempitan makna, yaitu beraktivitas di luar pada sore hari sambil menunggu berbuka puasa. Disinilah konstruksi sosial itu tersusun, bahwa ngabuburit merupakan aktivitas konvensional yang direncanakan jauh-jauh hari oleh beberapa bahkan sebagian besar masyarakat untuk menghabiskan waktu (uang & energi) pada sesuatu dan atau pada suatu tempat, yang bagi masyarakat kelas tertentu bukan merupakan tempatnya.

Pertanyaanya adalah, masih adakah tenaga yang tersedia untuk melaksanakan shalat tarawih malam nanti hingga malam-malam terakhir? Berapa rupiah yang telah kita habiskan sore itu untuk mengisi bensin? Berapa rupiah yang telah kita habiskan untuk sekedar mengisi gawai kita dengan kuota internet? demi menunjukkan di jagad maya bahwa kita benar-benar mahluk yang berbudaya, dan asyik membudidayakan diri lewat linimasa medsos, padahal kita dianjurkan untuk bersedekah.

Pernah ada kenalan seorang sopir truk pengantar barang, yang menghabiskan hampir seluruh waktunya selama sehari di atas truk. Bahkan pada bulan ramadan pun dia tetap fokus pada pekerjaannya sebagai pengantar barang antar provinsi. Semua itu di lakukannya demi mengimbangi permintaan dan penawaran yang melonjak dari konsumen selama Ramadan, disisi lain dia tak ingin anak dan istrinya merayakan hari raya dengan kondisi seadanya tanpa peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada kasus ini, kebutuhan dari masyarakat kelas tertentu, berdampak langsung pada masyarakat pada kelas dibawahnya, mengimbangi permintaan maka uang bisa bermakna kepuasan. Waktu untuk keluaga dimanfaatkannya untuk bekerja. Semakin kesini zaman memang semakin keras.

Umumnya, pada saat mendekati Idul Fitri dengan mengacu pada Baudrillard, masyarakat lebih mengalami krisis pada ketidakmampuan produksi demi mengimbangi pertumbuhan yang menggila (1997). Karena, pada saat masyarakat berduyun-duyun datang ke masjid seraya bertakbir penuh sukacita, sopir truk tadi bisa jadi masih dalam rutinitasnya, dan akan merayakan Idul Fitri beberapa hari kedepan bersama keluarga yang kecewa.