BKKBN dan Merial Institute gelar FGD pencegahan pernikahan usia dini

Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Merial Institute menggelar Focus Group Discussion (FGD) . (Ist)

Utustoria.com , PALU - Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Merial Institute menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait pencegahan pernikahan usia dini pasca bencana 28 september 2018, untuk menyelamatkan remaja dari pernikahan dini. Kegiatan berlangsung di Ruang Pola kantor perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah, Jum'at (6/9/2019).

 

Asisten Administrasi Umum, Hukum dan Organisasi H. Muliono, SE.Ak, MM, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) pencegahan pernikahan dini, mengapresiasi kesadaran remaja menunda pernikahan. 

 

Sulteng masih jadi salah satu daerah penyumbang pernikahan anak tertinggi di Indonesia meski Usia Kawin Pertama (UKP) rata-rata Sulteng per SDKI 2017 sudah bergerak naik jadi 20,1 tahun daripada SDKI 2012 yaitu 19,78 tahun.

 

"Ini merupakan pertanda remaja (Sulteng) sudah bergerak maju ke arah positif dan mungkin suatu saat remaja akan mengucapkan selamat tinggal nikah anak dan selamat datang cita-cita," tutur 

 

Ia melanjutkan, selain menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi, bencana pasigala ikut melahirkan masalah-masalah baru termasuk pernikahan dini, pelecehan anak dan perempuan di kalangan penyintas baik yang mendiami huntara maupun shelter.

 

"Pernikahan dini merusak generasi bangsa, jangan sampai membawa kita kena bencana lainnya yaitu bencana demografi," ujarnya 

 

Dengan di gelarnya FGD, diharap dapat menjaring alternatif solusi mencegah pernikahan dini dan penanganannya pada pasangan belia yang sudah terlanjur menikah.

 

Direktur Bina Ketahanan Remaja (Hanrem) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Eka Sulistya Ediningsih mengatakan, kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pencegahan pernikahan Anak pasca bencana yang digelar ini,  agar sumber daya manusia menjadi berkualitas untuk pendidikan yang lebih berkarakter.

 

"Pernikahan dini akan menyebabkan kecilnya atau tertutupnya kesopanan bagi mereka menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan pernikahan dini juga akan menyebabkan pendidikanya berhenti dan sulit mendapatkan akses pekerjaan yang layak," ungkapnya 

 

Sebuah catatan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) bahwa ada sekitar 600 juta gadis di seluruh dunia  yang menghilang dari agenda pembanguna, karena menghadapi sebuah tantangan seperti kekurangan gizi, pernikahan anak dan kehamilan diusia remaja.

 

Eka juga  mengungkapkan,  pernikah dini tidak hanya merugikan korban tetapi juga merugikan kuantitas kebangsaan, perkawinan anak juga akan menghambat upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia perempuan karena jadi penghalang pemenuhan hak-hak perempuan untuk mengembangkan diri dan kualitas hidupnya.

 

"Tidak ada cerita sukses dari semua perkawinan anak, semua bermasalah, semua mengalami kekerasan dalam rumah tangga karena cara berfikir yang belum dewasa," tuturnya 

 

Data temuan perkawinan usia anak dari BKKBN Sulawesi Tengah.

1.Total laporan perkawinan Ruang ramah   perempuan anak pasca bencana : 33

2.Total laporan perkawinan anak sblum bencana : 14 laporan (yang menikah 3 bulan sblum bencana, bulan sebelum bencana)

3. Pencegahan perkawinan anak : 2 kasus

4. Total yg dilaporkan sebelum dan sesudah adalah 47 kasis. Adapun umur paling renda pernikahan anak berusia 13 tahun. 

 

Tambah Eka, perempuan sebaiknya menikah pada usia di atas 20 tahun dan pria pada usia 25 tahun, Sebab, pada usia tersebut, pemikiran remaja sudah lebih dewasa dan telah siap secara ekonomi, ungkapnya.

 

Ketua Merial Institut drg. Muh. Arif Rasyid selaku narasumber juga mengatakan, hasil FGD akan jadi input yang disampaikan ke pokja kepemudaan di tingkat nasional.

 

Terlepas dari kasus pernikahan dini, Ia juga menambahkan bahwa Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Sulteng dalam beberapa tahun terakhir terus menurun bahkan di 2018, Sulteng menempati rangking 4 dari bawah sehingga jadi konsennya untuk diperbaiki.

 

"Kalau ini naik, ini akan meningkatkan rerata IPP Indonesia," singkatnya.