WALHI Sulteng : Pilkada 2020 Mencari Kandidat yang Berperspektif Lingkungan Berkelanjutan

Direktur Eksekutif WALHI Sulawesi Tengah Abd. Haris Lapabira

Utustoria.com, PALU - Pemilihan Kepala Daerah Gubernur, Walikota dan Bupati akan serentak dilaksanakan pada tahun 2020, pemilihan Kepala Daerah yang berlangsung secara demokrasi ini , membuat semua orang dapat berpartisipasi dalam menentukan pilihannya. Situasi yang jauh lebih terbuka ini harus menjadi momentum yang baik untuk memastikan berbagai agenda perlindungan rakyat dan Lingkungan Hidup dapat diwujudkan.

 

Direktur Eksekutif WALHI Sulawesi Tengah Abd. Haris Lapabira mendorong agar publik dapat memverifikasi secara baik setiap kandidat yang ingin maju menjadi Kepala daerah sehingga tidak salah dalam menentukan pilihan. Diketahui bahwa setiap kandidat memiliki rencana dan program pembangunan yang disusun untuk mensukseskan jalannya pemerintahan tapi rakyatlah yang paling menetukan dalam proses ini. 

 

“Setiap kandidat harus kita periksa, latar belakangnya, visi-misinya dan juga program kerja yang akan ditawarkan, kandidat dengan nama besar tidak menjamín dia memiliki visi-misi dan program yang baik untuk pembangunan, untuk itu kita penting memeriksa latar belakang kandidat, hal-hal yang mudah bisa kita lakukan untuk memeriksa kandidat. Hal yang harus diperiksa dengan benar adalah tentu terkait dengan keterlibatan kandidat dengan Industri yang merusak lingkungan seperti Pertambangan dan Perkebunan sawit skala besar," Jelas Direktur WALHI Sulteng, selasa (3/9 /2019) .

 

Abd. Haris menilai ada beberapa nama yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam industri ekstraktif baik di sektor pertambangan, perkebunan dan kehutanan yang sering disebutkan akan maju sebagai kepala daerah di Sulawesi Tengah. Ini tentu akan menjadi ancaman kedepannya. Kami akan mempublikasi nama-nama kandidat itu nanti jika sudah ada penetapan dari KPU.

 

Untuk itu WALHI Sulteng menilai penting ada kandidat yang memiliki perspektif lingkungan yang baik dan tentu tidak terlibat dalam aktifitas yang mengakibatkan kerusakan lingkungan di Sulawesi Tengah. WALHI tentu juga akan mendorong kader  dan simpatisan untuk maju sebagai calon kepala daerah di Sulawesi Tengah. Hal ini juga tentu kami harapkan publik luas dapat mengajukan kandidat yang benar-benar serius memikirkan lingkungan kita. 

 

Isu ini kami anggap penting karena kondisi daerah kita berada di daerah rawan bencana yang sangat berpotensi mengakibatkan korban jiwa. Rilis BNPB dalam Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) 2013 yang dijadikan rujukan untuk menyusun RPJMN 2015-2019 bidang kebencanaan indeks Risiko Bencana untuk setiap Kabupaten/Kota yang merupakan hasil perhitungan untuk Multi Ancaman dan diurutkan berdasarkan total skor dan total penduduk terpapar. Donggala  Kelas Risiko Tinggi dengan Skor 189, Palu, Kelas Risiko Dingi skor 181, Morowali, tinggi skor 177, Parimo Tinggi skor 174, Poso tinggi skor 172, Banggai dan Banggai kepulauan skor nya 163 risiko tinggi dan Sigi Skor 72 risiko sedang.

 

Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dengan kondisi lingkungan di Sulteng semakin buruk dengan tingkat penguasan sektor industri ekstraktif semakin luas, data ini belum pernah dirilis oleh pemerintah namun WALHI Sulteng meduga berdasarkan perhitungan spasial luas, pertambangan di Sulteng mencapai 1.849. 347 Ha. Sementara itu Dinas Perkebunan merilis luas perkebunan sawit di Sulteng mencapai  713.217 Ha. Dua sektor ini menguasai lahan paling luas di Sulawesi Tengah dengan berbagai motif marampas lahan-lahan warga, merusak kawasan hutan dan juga dengan cara-cara depresif memaksa warga untuk menerima kehadiran industri tersebut.