Idealisme Mahasiswa Dicederai Praktik Politik, Benarkah?

Taufik Madja
" Menjadi seorang mahasiswa tentunya banyak hal-hal yang dapat dikerjakan. Selain menimba ilmu di perguruan tinggi, seorang Mahasiswa kerap kali ikut serta menyuarakan aspirasi rakyat,mengkritik bahkan ikut dalam fungsi kontrol melalui aksi-aksi demonstrasi bahkan banyak lagi yang dapat dilakukan oleh seorang maupun kelompok mahasiswa. Tapi apakah seorang Mahasiswa bisa berpolitik ? "
 
Oleh : Taufik Madja , Mahasiswa Fakultas Hukum Untad Palu
 
 
Determinasi politik melingkupi seluruh kehidupan bernegara. Tidak hanya dalam lembaga negara yang telah diberikan legitimasi oleh rakyat tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Sehingga aktivitas politik telah menjelma menjadi konsumsi keseharian. Sebagai kaum terdidik dan ilmiah, mahasiswa adalah generasi zaman yang berdiri tegak dan berani mengambil resiko untuk menciptakan sejarah. 
 
Jika diera 1908 menginisiasi perlawanan terhadap penjajah, maka diera 1998 mahasiswa ikut melawan dan menumbangkan rezim otoriter. Demikian romantisme sejarah yang sering dibicarakan di meja diskusi para mahasiswa. Namun masa lalu merupakan bagian dari tugas sejarah menulisnya sekaligus menjadi referensi menata masa depan. Sebab, setiap generasi zaman selalu diperhadapkan dengan varian problem maka pergeseran zaman telah membuka lebar ruang perjuangan mahasiswa termasuk masalah politik.
 
Betapa tidak, demokrasi telah membuka keran itu dengan lebar dan negara menjaminnya melalui konstitusi. Sehingga gerak perjuangan mahasiswa terinjeksi oleh situasi politik kekinian merupakan hal yang tidak mungkin di hindari. Namun, disatu pihak perdebatan di seputar politik seringkali terkoptasi oleh kosa kata kepentingan. Banyak dipahami bahwa kepentingan tidak dapat serta merta dikonotasikan buruk, disamping karena merupakan kebutuhan juga merupakan tujuan dalam semangat perjuangan mahasiswa mengontrol dan mengintervensi kebijakan pemerintah.
 
Sayangnya seringkali politik hanya dipahami sebagai praktik tidak sampai bahwa politik melekat isi substansi dan esensi dalam perkembangannya sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan untuk digunakan mencapai kebajikan. Akhirnya terkadang muncul stigma bahwa mahasiswa yang berpolitik adalah tidak idealis, tidak independen, bahkan tidak murni menjadi bahan bullyan sesama mahasiswa . 
 
Menjawab dengan amarah, emosi, mungkin saja terjadi. Tetapi karna politik tidak sebatas praktik, sehingga argumentasi dan pembuktian dari politik adalah tindakan yang tepat untuk menjawab setiap stigma yang muncul dipermukaan. Disadari atau tidak, mahasiwa telah dibenturkan dengan masalah sederhana tetapi cukup rumit, belajar memahami politik atau menghindari bahkan anti dan membenci. 
 
Jika memahaminya sebagai bahan mempelajari isu dan wacana politik maka bukan tidak mungkin masalah politik akan mendapat solusi dari hasil pikiran mahasiswa. Jika menghindari atau membencinya maka masalah politik dianggap bukan masalah kehidupan bernegara. Konsekuensi terburuknya sikap Apolitik akan terjadi. Indonesia sebagai negara bangsa yang merdeka, masalah politik telah banyak menyinggung mahasiswa secara nasional.
 
 Pilihan kita hanya dua, merdeka untuk mengambil sikap atau berdiam diri dan perlahan tergilas oleh zaman. Bersikap ke politik praktis atau pragmatis ? Saya kira mahasiswa selalu bergerak atas nilai intelektualitas yang ilmiah sebagai insan akademik bukan berangkat dari pikiran kepentingan jabatan.