Jatam Sulteng Minta ESDM Cabut Izin Tambang Diwilayah Hulu Danau Tiu

Foto : Jatam Sulteng saat melakukan aksi di depan kantor ESDM Sulteng pada Senin 29 Juli 2019. (Yuli Astuti/utustoria)
Utustoria.com , PALU -  Jaringan Advokasi Tambang Sulawesi Tengah (Jatam Sulteng) menggelar aksi di depan kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Senin (29/8/2019) Mendesak Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Tengah untuk mencabut Izin Tambang di Wilayah Hulu Danau Tiu yang Menyebabkan Danau  Tercemar Lumpur. 
 
Korlap (Kordinator Lapangan) Moh.Taufik SH. mengatakan, danau Tiu yang terletak di  Kecamatan Petasia Barat Kabupaten Morowali Utara Provinsi Sulawesi Tengah,  selain menjadi salah satu destinasi wisata di kabupaten Morowali Utara yang mempunyai keindahan alam yang sangat indah, danau ini juga mepunyai sejarah panjang dengan beberapa desa di sekitar danau di antaranya desa Tiu, Desa Tontowea dan desa Marale. 
 
"Salah satunya masyarakat di sekitar danau tiu di tiga desa ini, memanfaatkan danau ini sebagai tempat mata pencaharian sehari-hari mereka secara turun temurun, yang berprofesi sebagai nelayan tradisional,  menjadikan danau tiu  tempat untuk memancing dan menjaring ikan yang hidup di danau," Ungkapnya saat di wawancarai, Utustoria.com.
 
Taufik yang juga sebagai Koordinator Kampanye dan Advokasi Jatam Sulteng mengungkapkan, bahwa menurut data yang di temukan Jatam Sulteng , Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah pada  tahun 2016,  melakukan restocking (penebaran) bibit ikan di danau tiu dengan total 90 ribu ekor, dengan jumlah 45 ribu ekor untuk jenis ikan mas dan 45 ribu ekor untuk jenis ikan nila, yang didatangkan dari balai beni sentral di desa kalawara kabupten sigi dan balai benih desa tonusu kecamatan pamona timur kabupaten poso untuk melakukan restcoking di danau tiu. 
 
Upaya restcoking ini dilakukan  pada perairan danau tiu karena masyarakat yang menggantungkan hidupnya di danau yang memiliki luas 11 ribu hektare, mulai merasakan adanya penurunan populasi ikan di danau tiu. Sehingga dilakukan salah satu  upaya restcoking oleh Dinas kelautan dan perikanan provinsi sulawesi tengah pada tahun 2016. 
 
Namun sejak tercemarnya danau tiu, karena aktivitas beberapa perusahaan tambang di wilayah hulu, yang mengakibatkan danau ini tercemar lumpur.  Maka keberadaan danau tiu sebagai destinasi wisata yang mempunyai keindahan alam di kabupaten Morowali Utara kini keberadaanya sedang terancam. Bukan hanya itu,  pencemaran danau ini juga mengakibatkan terancamnya kehilangan mata pencaharian masyarakat setempat yang seharinya-harinya berprofesi sebagai nelayan tradisional di danau tiu. 
 
Pencemaran danau tiu,   patut juga  diduga telah menimbulkan kerugian bagi negara, karena  terganggunya habitat ikan hasil restocking pada tahun 2016 oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah lewat Dinas Kelautanan dan Perikanan, yang  melakukan proses restcoking (penebaran) bibit ikan  di danau tiu, dengan mendatangkan bibit ikan dari kabupaten sigi dan kabupaten poso dengan jumlah yang sangat besar yaitu 90 ribu ekor yang dilepaskan di danau itu. yang di anggarkan lewat APBD.
 
Berdasarkan fakta di atas kami meminta kepada Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Tengah sebagai instansi berwenang yang  mengeluarkan rekomendasi dan menerbitkan izin Usaha Pertambang, untuk mencabut izin-izin tambang di wilayah hulu danau tiu yang menyebabkan tercemarnya danau tersebut.