Walhi Sulteng : Banjir Toili Buah Dari Menurunnya Daya Dukung Lingkungan

Foto : Manager Kampanye dan Pengembangan Jaringan, Walhi Sulteng Stefandi. (Istimewa)
Utustoria.com , PALU - Menurut Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Tengah (Walhi Sulteng ) banjir yang kerap terjadi di Wilayah Dataran Toili Kabupaten Banggai merupakan buah dari menurunnya daya dukung lingkungan akibat masifnya pemberian Izin eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di Sulawesi Tengah.
 
Manager Kampanye dan Pengembangan Jaringan, Walhi Sulteng Stefandi mangatakan, luasan perkebunan sawit telah mencapai 591 Ribu hektar dan pertambangan telah mencapai 2 juta hektar. Artinya dari total luasan Sulawesi Tengah, dua sektor ini telah menguasai ruang mencapai 44 persen.
 
Terlebih, banjir yang terjadi di Toili tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari lajunya pembukaan lahan  untuk aktivitas perkebunan dan pertambangan.
 
Berdasarkan data Komunitas Muda Peduli Hutan (Komiu), saat ini deforestasi hutan di Sulteng mencapainya 1300 Hektar perbulan. Kemudian sejak tahun 2000 hingga tahun 2018, Deforestasi hutan di kabupaten Banggai telah mencapai 88.740,54 Ha.
 
Stefandi juga menambahkan, saat ini berdasarkan Data Walhi Sulteng, khusus untuk Perusahaan Sawit Di Banggai yang yang dikuasai beberapa Perusahaan yaitu :
 
PT. Kurnia Luwuk Sejati luas lahan 22.775 Ha.
 
PT.Sawindo Cemerlang luas lahan 8.493 Ha.
 
PT.Delta Subur Permai luas lahan 4.090 Ha.
 
PT.Wira Mas Permai luas lahan 8.773 Ha.
 
Yang mencakup total keseluruhan seluas 44.131 Ha.
 
Alhasil laju deforestasi tersebut telah melahirkan berbagai persoalan salah satunya banjir yang terjadi di Toili.
 
Dalam kurun waktu 3 bulan terakhir, beberapa daerah yang masif aktivitas pertambangan dan perkebunan antara lain Morowali, Morowali Utara dan Banggai tidak luput dari kepungan banjir.
 
" Ini adalah buah dari pemberian izin yang serampangan tanpa memikirkan dampak lingkungan yang akan dilahirkan bila eksploitasi alam dilakukan secara besar-besaran," pungkasnya.