Riski Suprianto dan LSPK Sulap Sampah Plastik Jadi Sofa Unik

Foto : Riski Suprianto Nunu saat duduk di sofa buatannya. (Dok : istimewa)
Utustoria.com , MOROWALI - Jika sampah menjadi masalah yang paling sulit diatasi , berbeda dengan Lingkaran Solidaritas Pemuda Kreatif (LSPK) dan Komunitas Anunto yang dipimpin oleh Riski Suprianto Nunu di Kabupaten Morowali tepatnya di Kecamatan Bahodopi yang dapat menyulap sampah menjadi hasil karya yang bermanfaat.
 
Hanya berbekal sampah plastik seperti botol air mineral dan jeriken yang dipungut disetiap tempat sampah, Riski Suprianto dan kawan-kawannya mampu menciptakan kursi sofa unik yang cocok untuk dipakai santai di teras rumah bersama keluarga maupun kerabat.
 
Komunitas yang baru dibentuk sekira setahun lalu itu , telah mampu memanfaatkan sampah plastik untuk dijadikan beberapa jenis karya, diantaranya :
 
1. Sofa 
 
2. Biogas dari limbah plastik
 
3. Pafing blok dari limbah plastik
 
4. Pasir sintetis
 
5. Aksesoris
 
6. Lantai elektrik/ tehel elektrik.
 
Ketua Lingkaran Solidaritas Pemuda Kreatif,  Riski Suprianto Nunu mengaku hasil karyanya bersama teman Komunitasnya itu telah memiliki beberapa peminat. Pria asal Desa Bahoruru ini mengatakan dirinya dan sejumlah kawannya memiliki target untuk membangun industri kreatif di 134 Desa di Kabupaten Morowali dalam rangka memanfaatkan sumber daya alam lokal dan pemberdayaan masyarakat.
 
"Tujuan ini juga diharapkan dapat mendorong kemajuan ekonomi , politik dan sosial masyarakat setempat,"ujarnya pada Utustoria.com , Rabu (26/6/2019).
 
Ayah satu anak ini mengaku inisiatif ini muncul sejak dirinya masih berada dibangku kuliah tepatnya dipenghujung semester akhir pada tahun 2017. Sejak saat itulah dirinya terpikir untuk membangun industri lokal yang memanfaatkan SDA. 
 
"Kenapa saya mulai dari sampah , karena sampah merupakan masalah yang belum dapat diselesaikan baik dalam lingkup desa , Kecamatan sampai Kabupaten Morowali pada umumnya , dan sampah tersedia untuk kepentingan produksi,"tambahnya.
 
Riski juga menceritakan awalnya ia memiliki beberapa hambatan dan keterbatasan untuk memulai niatnya itu , terutama sarana mobilisasi sampah , alat kerja hingga modal. Namun niat baiknya itu diamini oleh Sekretaris Camat Bahodopi Tahir untuk masalah modal dan tempat produksinya.
 
" Alhamdulillah , Pak Tahir sangat mendukung niat kita ini,"ujarnya lagi.
 
Namun , saat ini pihaknya masih memiliki kendala dibagian pemasaran untuk mempromosikan hasil karya mereka , karena ia mengaku hingga saat ini pihaknya belum memiliki legalitas yang sah. Sehingga pihaknya hanya mengandalkan jejaring media sosial untuk promosi dan menerima pemesanan. 
 
Meski begitu , ia mengaku hasil karyanya pernah mengikuti pameran Palu Expo yang direkomendasikan oleh PT IMIP beberapa waktu lalu. Namun hanya sebatas itu saja tidak ada tindaklanjutnya untuk mengembangkan produk tersebut. Bahkan pihaknya juga telah melayangkan proposal kerjasama kepada Pemerintah Daerah Morowali untuk dapat bekerjasama membangun industri kreatif tersebut. 
 
"Namun hingga saat ini belum ada kabar dari Pemda Morowali , hanya dirinya mengapresiasi Pemerintah Kecamatan khusus Sekcam Bahodopi telah banyak membantu proses berjalannya produksi kreatif ini,"paparnya.
 
Ia berharap , pemerintah daerah maupun perusahaan tambang yang berada di Kabupaten Morowali dapat melirik kelompok yang ia telah bangun bersama pemuda Morowali itu untuk dapat diberdayakan dan dikembangkan yang dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan.