Bupati Morowali : Curah Hujan Tinggi Penyebab Terjadinya Banjir

Foto : Bupati Morowali , Drs. H. Taslim (Indonews.id)
Utustoria.com , Morowali - Banjir bandang yang melanda sejumlah desa Di Kabupaten Morowali bukan semata-mata akibat adanya aktivitas tambang , melainkan curah hujan yang cukup tinggi dibeberapa hari kemarin.
 
Hal itu diungkap oleh Bupati Morowali Drs. H. Taslim disela peninjauannya dialokasi banjir Desa Dampala Kecamatan Bahodopi, Senin siang tadi.
 
"Dampak penambangan memang ada, tetapi penyebab utamanya adalah curah hujan yang sangat tinggi," katanya dikutip dari Antaranews.com , Senin (10/6/2019).
 
Ia menuturkan, banjir seperti ini merupakan proses berulang dalam lima dan 10 tahun, namun banjir saat ini berbeda dari yang sebelumnya karena air  membawa sedimentasi.
 
Lanjutnya , curah hujan yang cukup tinggi sudah melanda Morowali sejak sebelum hari raya Idul Fitri , hingga saat ini hujan masih terus turun meski tidak sederas sebelumnya.
 
" Hujan dengan intensitas tinggi ini menyebabkan banjir bandang sehingga empat jembatan permanen di jalan Trans Sulawesi wilayah Morowali ambruk yang mengakibatkan beberapa kecamatan menjadi terisolasi sampai saat ini," tuturnya.
 
Akibatnya , saat ini stok bahan pokok dan berbagai barang kebutuhan lainnya menjadi menipis yang menyebabkan harga melonjak, namun Pemda sudah mengupayakan normaliasinya.
 
Sementara itu, Abdul Hamid, seorang tokoh masyarakat Bahodopi mengatakan bahwa perusahaan tambang nikel yang membuka areal penambangan di hulu sungai-sungai di Morowali harus ikut bertanggungjawab terhadap bencana banjir yang melanda saat ini.
 
"Jelas sekali bahwa penambangan di hulu sungai itu memberikan dampak mengerikan saat banjir kali ini,"ujar Hamid yang juga Sekretaris Desa Lee Lee, Kecamatan Bahodopi di lokasi Jembatan Dampala yang musnah dibawa banjir.
 
Meski begitu , menurut masyarakat setempat , pada tahun 2006 dan 2010, banjir kerap terjadi. Namun  meski melampaui badan jalan, banjir beberapa tahun kemarin tidak menimbulkan kerusakan parah sebab yang datang hanya air, tidak ada sedimentasi.
 
"Tapi banjir kali ini sangat mengerikan karena arus air yang deras dan besar itu membawa sedimen berupa pepohonan dan kayu-kayuan besar dan kecil serta lumpur. Akibatnya, jembatan sekuat ini (Jembatan Dampala) tidak mampu lagi menahan hantaman air bersama pepohonan," ujar warga setempat , Hamid.
 
Ia dan warga berharap perusahaan tambang yang beroperasi di Morowali, khususnya Kecamatan Bahodopi, harus ikut bertanggung jawab mengatasi kesulitan masyarakat yang terdampak bencana banjir ini.
 
"Tidak adil kalau hanya pemerintah daerah saja yang terbebani menolong warga dan pemda pasti tidak mampu melakukannya sendiri, perusahaan tambang harus terlibat. Seandainya warga itu mengalami kerugian Rp100.000, perusahaan tambah harus membantu Rp35.000, begitu kira-kira maksud saya," ujarnya.
 
Hamid kemudian menunjukkan pegunungan yang sudah gundul karena menjadi eks lokasi penambangan nikel.
 
"Itu yang kelihatan dari sini pak. Di balik gunung itu, masih banyak lagi gunung yang gundul bekas penambangan. Saya yakin dari situlah sedimen berupa batang-batang kayu serta lumpur kuning itu berasal dan menimbun rumah-rumah penduduk di sini," katanya.
 
 
 
Sumber  : Antaranews.com
 
Berita ini sudah terbit di Sulteng.antaranews.com dengan judul : 

Bupati Morowali: Penyebab banjir adalah curah hujan tinggi, bukan dampak tambang