Harga Solar Capai Rp 300 Ribu, Pemda Diminta Buat Agen BBM Desa

Foto : Operator nosel solar SPBU singkoyo saat melakukan pengisian sejumlah jerigen milik pengantri. (utustoria/ist)
Utustoria.com , BANGGAI - Dalam memasuki musim tanam padi saat ini sejumlah petani mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di dua SPBU di Dataran Toili.
 
Betapa tidak, dengan kondisi antrian panjang diduga adanya beberapa oknum yang memanfaatkan situasi untuk memperoleh keuntungan (calo) dengan menjual solar kepada petani sebesar Rp 280 ribu hingga Rp 300 ribu per jerigen dengan kuota (isi) 30 Liter. Padahal para calo tersebut hanya membayar Rp 180 ribu per Jerigennya kepada SPBU.
 
Jika situasi ini berjalan dengan waktu yang cukup lama, petani meyakini proses penanaman padi akan terganggu dan lambat serta akan berdampak pada hasil panen kedepan nantinya.
 
"Kita tidak bisa berbuat banyak kalau mengantri, karena ada juga yang bukan petani ikut mengantri tapi mereka punya surat rekomendasi, biasanya yang begitu adalah calo,"ujar salah satu petani yang ditemui Utustoria, beberapa hari lalu.
 
Koordinator SPBU Singkoyo, Ali saat dihubungi Utustoria mengatakan kondisi antrian panjang saat ini dikarenakan permintaan petani yang cukup meningkat demi kebutuhan dimusim tanam saat ini.
 
"Sehingganya, biar tidak terlalu ramai, antrian jerigen dan mobil kita bagi, Senin, Rabu dan Jum'at untuk kendaraan, dan Selasa,  Kamis dan Sabtu untuk jerigen,"ujarnya.
 
Selain itu, dirinya juga menjelaskan tentang mekanisme untuk pengantri jerigen harus membawa surat rekomendasi petani, nelayan dan usaha gilingan padi, agar pengantri dapat kebagian minyak,"tambahnya.
 
Terpisah, Tokoh Pemuda Desa Dongin, Wahyu Solong mengatakan dengan kondisi yang tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan petani akan BBM, diharapkan pemerintah dapat memberikan solusi terbaik agar petani dapat dengan mudah memperoleh BBM demi memenuhi kebutuhan pangan daerah ini.
 
" Untuk menghindari calo nakal, distributor BBM untuk petani tidak lagi melalui SPBU, melainkan membentuk agen disetiap desa yang didistribusikan langsung oleh Pertamina , sehingga stok atau kebutuhan petani tidak terganggu,"ujarnya.
 
Ia melanjutkan, dengan begitu sistim pengawasan pun dapat dijalankan maksimal oleh konsumen (petani), seperti harga eceran tertinggi (HET), agen akan mendapatkan sanksi jika melanggar hal tersebut.
 
Sehingganya, seluruh petani sangat mengharapkan pemerintah daerah serta instansi terkait dapat memberikan solusi serta dukungan, terkait kebutuhan petani saat ini.