Masyarakat Sadar Bencana, Seismik Perlu Dikhawatirkan

Marhum Dg Backrie
Utustoria.com
 
Belum lama ini Indonesia kembali berduka dengan adanya bencana alam gempa bumi yang menggoncang Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah dengan kekuatan 7,4 SR yang terjadi pada  Jum’at, 28 Oktober 2018, yang terletak pada koordinat 0,18 Lintang Selatan dan 119,85 Bujur Timur yang berjarak 26 Kilometer utara Donggala, dengan kedalaman 10 Kilometer. Bencana tersebut diakibatkan oleh patahan lokal " Sesar Palu Koro" yang menelan ribuan korban jiwa serta bangunan yang kokoh berdiri.
Kalau bagian Ibu Kota Provinsi Sulteng itu memiliki patahan Sesar Palu Koro, Toili yang juga masih dalam wilayah Provinsi tersebut juga memiliki patahan yang cukup aktif yakni patahan "Sesar Naik Batui" di Kabupaten Banggai.
 
Dari catatan BMKG yang dilansir dari Inatews.bmkg.go.id, oleh Kepala Pusat gempabumi dan tsunami BMKG yakni Drs. Moch Riyadi M.Si pada Rabu, 6 Desember 2017 lalu tepatnya pukul 23.06.57 WIB, wilayah Kabupaten Banggai dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis pemutakhiran oleh BMKG menunjukkan bahwa gempabumi ini berkekuatan M=5,5. Episenter terletak pada koordinat 0,65 LS dan 123,73 BT tepatnya di laut pada jarak 35 km arah timur laut Kota Teku, Kabupaten Banggai, Propinsi Sulawesi Tengah pada kedalaman 27 km.
 
Dampak gempabumi yang digambarkan oleh Peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG  menunjukkan bahwa guncangan berpotensi dirasakan di Banggai, Gorontalo pada skala II SIG-BMKG (III MMI), Luwuk dan Kotamobagu pada skala I SIG-BMKG (II - III MMI). Sementara laporan masyarakat menunjukkan gempa dirasakan di Ampana, Morowali, Gorontalo dan Manado pada skala I SIG-BMKG (II MMI). Guncangan gempa ini diperkirakan belum menimbulkan dampak kerusakan bangunan rumah.
Jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya tampak bahwa gempabumi ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Batui (Batui Thrust). Ini sesuai dengan hasil analisis mekanisme sumber yang menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh adanya penyesaran dengan mekanisme Oblique naik, yaitu penyesaran kombinasi pergerakan mendatar dan naik.
 
Dengan begitu, di Kabupaten Banggai khususnya Batui - Toili sudah cukup mengingatkan keberadaan kita sangat dekat dengan zona gempa bumi, dan contoh dari adanya dampak gempabumi yaitu sangat merusak. Terlebih Batui - Toili saat ini proses pembangunan sangatlah pesat dan banyaknya bangunan-bangunan permanen yang telah berdiri, bahkan wilayah lumbung padi ini saat ini digemboskan menjadi wilayah industri karena banyaknya perusahan-perusahaan migas yang menduduki wilayah ini untuk mengambil sumber daya alam minyak dan gas.
 
Tidak luput dari itu, bahwa gempa bumi memiliki gaya karakteristik yang  berulang pada kawasan atau wilayah yang sama. Sehingga, kalau suatu daerah pernah terjadi gempa bumi, maka akan berpeluang kembali terjadi pada waktu tertentu. Namun saat ini memang belum terdapat tekhnologi yang mampu memprediksi dengan akurat waktu dan seberapa besar tenaga gempa bumi yang akan terjadi, namun wilayah-wilayah yang berpotensi akan terjadi gempa bumi sudah dapat dipetakan. Namun mengingat adanya keberadaan sumber gempa yang cukup dekat agar kira senantiasa untuk waspada.
 
Lantas apa yang mesti dilakukan?
 
Untuk yang bermukim diwilayah lumbung padi ini musti disadari kalau kita sudah terlanjur “nebeng” hidup di kawasan seismik aktif dan yang lagi hangat - hangatnya diperbincangkan dikalangan masyarakat. Tapi, sesungguhnya gempa bumi bukan merupakan ancaman bagi masyarakat sekitar. Melainkan dampak sekunder dari gempa bumi itulah yang bisa menyebabkan kerugian, kerusakan, bahkan korban jiwa, seperti yang terlihat pada bencana Palu dan Donggala.
Yang menjadi kunci utama ialah, Mengenali lingkungan sekitar dalam upaya mengurangi risiko saat terjadi gempa bumi. Saat adanya getaran gempa kuat, upayakan untuk keluar rumah untuk menghindari reruntuhan. Tapi, kalau tidak sempat keluar rumah, cukup berlindung di bawah meja yang kuat. 
 
Memperhatikan kondisi bangunan seperti kekuatan pondasi, struktur kerangka serta dinding dan atap bangunan yang kuat dengan memperhatikan faktor amplifikasi dan percepatan tanah setempat adalah salah satu usaha yang dapat diambil dalam upaya mengurangi risiko kerusakan bangunan saat terjadi gempa bumi. Ancaman tanah longsor saat adanya getaran gempa bumi  juga perlu diperhatikan oleh penduduk yang bertempat tinggal di sekitar tebing atau lereng yang curam. Penelitian menunjukkan bahwa pada wilayah yang miring atau curam dapat terjadi longsoran dangkal, longsoran dalam, dan runtuhnya bebatuan yang disebabkan oleh getaran gempa bumi. 
 
Pemerintah daerah sebisanya melakukan pemetaan (mikrozonasi) secara menyeluruh wilayah-wilayah yang memiliki potensi kerusakan parah saat terjadi gempa bumi. Pemetaan itu bisa menjadi rekomendasi untuk tidak diberi ijin mendirikan bangunan pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi kerusakan parah saat terjadi gempa bumi.
Terlebih perencanaan adanya aktivitas siesmik diwilayah Dataran Toili menjadi salah satu perbincangan hangat disudut - sudut ruang diskusi baik itu kalangan pemuda dan para tokoh masyarakat. Karena selain dampak positif dari aktifitas siesmik ini merangkul banyaknya warga yang menggelar profesi pengangguran, namun disisi lain masyarakat setempat masih terauma dengan kejadian bencana Palu - Donggal, pasalnya mengingat wilayah ini cukup dekat dengan patahan "sesar naik Batui" membuat sebahagian orang untuk tetap bertahan wilayah Dataran Toili sebagai lahan produktif seperti berladang dan bercocok tanam dan hal itu diharapkan untuk dapat diberi rekomendasi oleh Pemerintah Daerah setempat. 
 
Penulis : Marhum Dg Backrie