Cerita Ustad Sahmun, Imam Masjid Terapung Asal Toili Yang Nyaris Tewas Akibat Bencana Palu - Donggala

Foto : Ustad Sahmun saat berada dipengungsian.[utustoria/riel]

Palu, Utustoria.com

Ustad Sahmun, yang merupakan imam masjid Terapung menjadi salah satu saksi hidup atas kejadian gempa dengan kekuatan 7,7 SR dan tsunami yang melanda Palu, Sulawesi tengah pada Jumat (28/9) lalu.

Dengan penuh lirih dan wajah yang bersedih pria yang berasal dari Desa Mentawa, Toili Barat, Kabupaten Banggai ini menceritakan kronologi bencana alam yang nyaris menewaskan dirinya.

Saat kejadian itu, dirinya sedang melaksanakan dzikir didalam masjid Terapung bersama sejumlah jama'ah lainnya.

Tanpa ada firasat apapun, gempa bumi yang sangat dahsyat dengan kekuatan 7,7 SR menggoncang masjid dan seluruh isi Kota Palu, belum ia menyelesaikan dzikirnya para jama'ah telah berteriak dan berhamburan meninggalkan masjid, hanya tinggal ia seorang yang tersisa didalam masjid.

Saat Ia menyadari kalau bangunan-bangunan yang ada disekitar masjid telah roboh, Dengan penuh waspada ia pun berusaha keluar menyelamatkan diri dari runtuhan tembok masjid yang berserakan dilantai.

Belum sempat ia keluar, tiba-tiba saja pintu masjid rubuh dan menimpanya. Meski sempat meloloskan diri, Ustad ini juga berkali - kali tertimpa runtuhan bangunan masjid.

Tidak cukup melewati reruntuhan masjid, pada saat berdiri tepat pada pintu keluar, ia manyaksikan kalau jembatan mesjid terapung telah putus akibat guncangan gempa. Namun ia tetap berupaya untuk tidak panik dan tetap percaya atas kebesaran Allah.

Dengan keyakinan yang dibaluti do'a dan ikhtiar, pria berjanggut tipis ini melangkahkan kakinya di atas sisa-sisa runtuhan jembatan masjid. “Sulit dipercaya namun akhirnya saya sudah berada di daratan,” Ungkap Ust Sahmun.

Belum menghembuskan nafas yang legah, dengan durasi waktu sekira 5 detik saja setelah berada di daratan, ia kembali menyaksikan masjid yang 3 tahun lamanya ia dipercayakan menjadi imam, ambruk dan tenggelam ke dasar lautan.

Yang lebih dramatis, Saat orang-orang berteriak bahwa akan ada tsunami, dengan tertatih Ust Sahmun mengambil motor untuk menuju ke tempat yang lebih tinggi, namun sayang kunci motornya tertinggal di dalam masjid yang telah ambruk di amuk gempa bumi.

Pada saat ia akan berlari meninggalkan motornya tiba-tiba saja ia tersadar kalau didalam masjid yang telah roboh itu masih tertinggal anak perempuannya yang berusia 9 tahun.

"Mukzizat itu nyata, dalam waktu yang sangat singkat, saat saya akan memutuskan untuk berlari, tiba-tiba ditengaj kepanikan, orang-orang melihat puteri saya sedang menangis dan Saya berlari menujunya dan langsung memeluknya. Sambil menggendong putri saya dan berupaya menuju ketinggian,"tuturnya.

Saya menyaksikan air laut naik menghancurkan semua bangunan-bangunan yang ada. Hampir kehabisan nafas, tapi akhirnya saya dan anak saya selamat dari gelombang tsunami” tambah Ustad Sahmun saat di wawancarai Utustoria dengan raut wajah yang sedih.

Saat ini, Kamis (4/10) Ustad Sahmun berada di tempat pengungsian jalan Sungai Manonda bersama warga Toili Lainnya. Mereka juga masih sangat membutuhkan uluran tangan semua pihak. “Kami masih sangat membutuhkan bantuan, terutama air minum dan peralatan bayi untuk ibu-ibu yang ada balitanya,” tutup Ust Sahmun.