120 Pemukiman Terancam Abrasi, Sejumlah Warga Tolak PT API Keruk Sungai Mekar Jaya

Salah satu warga Mekar Jaya saat menunjukan ancaman abrasi sungai ke pemukiman mereka. [Utustoria/Marhum]
Toili Barat, BANGGAI, Utustoria.com
Perencanaan pelaksanaan pemboran sumur minyak dan gas (Migas) di Desa Mekar Jaya Kecamatan Toili Barat Kabupaten Banggai diprediksi akan menuai hambatan serta berdampak negatif terhadap sejumlah perumahan warga. 
 
Pasalnya, ketika pihak Sub Kontraktor yakni PT Aliance Prima Indah (API) untuk mengerjakan RIG diarea sumur melakukan sosialisasi pada Jumat (31/8) malam hari dikantor Desa Mekar Jaya menimbulkan pro dan kontra antara warga dan pemerintah desa setempat. 
 
Informasi yang dihimpun Utustoria.com, pada pertemuan sosialisasi yang dihadiri oleh Direktur PT API, Camat Toili Barat, Pemdes Mekar Jaya dan sejumlah masyarakat itu terdapat penolakan saat Pemdes meminta pihak PT API agar dapat menggunakan ijin galian C yang berada disungai setempat, sebab diyakini jika pihak perusahaan menggeruk material sungai tersebut maka pemukiman sekira 120 KK lebih akan terancam abrasi sungai bahkan bisa berdampak pada keseluruhan perumahan warga ketika Musim penghujan karena luapan air sungai. 
 
"Kita menolak kalau pihak perusahaan mengeruk sungai, karena rumah kita terancam longsor nantinya, karena lokasi sungai dan pemukiman warga hanya berjarak kurang lebih 25 meter saja, "ujar salah satu Tokoh Masyarakat setempat saat ditemui Utustoria.com, Sabtu (1/9).
Ia menambahkan jika pihak PT API tetap memaksakan untuk mengeruk sungai Mekar Jaya, pihak perusahaan harus memenuhi terlebih dahulu permintaan masyarakat yang tinggal dipinggiran sungai untuk membuat tanggul beton sepanjang 200 meter agar terhindar dari abrasi sungai yang dapat merugikan masyarakat. 
"Ini harus dilakukan baru kita setujui. Jika tidak, pihak PT API silahkan mengambil material sungai di sungai Mantawa yang juga memiliki ijin galian C yang sah, "tutur nara sumber yang enggan disebutkan namanya. 
 
Terpisah,  Ketua BPD Mekar Jaya, Zul Herman saat dikonfirmasi membenarkan a dan ya perdebatan pada sosialisasi yang digelar oleh pihak PT API, karena adanya 2 surat ijin galian C yang ditawari ke pihak perusahaan, yakni galian C disungai desa Mekar Jaya oleh Pemdes setempat dan CV Wahyu Rizki yang terletak di sungai Mantawa. 
"Saya akan upayakan semaksimal mungkin agar ijin galian C Mekar Jaya yang digunakan karena aktivitas pemboran terletak di desa ini, "imbuhnya. 
Lanjutnya, tindakannya tersebut dianggapnya sangat tepat. Sebab, selain desa setempat memperoleh keuntungan , sungai tersebut jugar dapat dinormalisasikan. 
 
"Itu keuntungan yang bisa kita ambil dengan adanya perusahaan yang masuk didesa ini, "tambahnya. 
Ditanya soal ijin galian C yang resmi, ketua BPD ini berdalih telah mengantonginya. Namun dirinya tidak dapat menunjukan ke publik.
"Kita sudah punya ijin yang sah, tapi kita belum bisa tunjukan sekarang, nanti kalau waktunya sudah pas baru kita keluarkan,"tutupnya. (Um)