Versailles

Photo: Ilustrasi/Beritagar

Di Oklahoma, Aku menyaksikan sepasang kekasih yang berpelukan erat di tengah reruntuhan tornado.

Di Aleppo, Aku menemukan energi perlawanan dari Issa yang memeluk gigih selongsong mortir untuk membantai setiap yang akan membunuhnya.

Di bait-bait tinta Pramoedya Ananta Toer, Aku takjub pada Minke yang ikhlas keluar dari dunia kebanyakan manusia, sekalipun harus terus menelan getirnya takdir hidup.

Sementara,

Di dadamu, aku tidak pernah menyangka jika akan lahir dendam dan kerinduan yang kejam menyayat-nyayat perihnya sendiri.

Bisa jadi bahwa air mata dunia adalah rongga parumu yang sesak menelan angan yang terlampau pelan.

Kehidupan manusia tidak lebih dari gelembung balon anak-anak yang terus di tiup lalu pecah melukai mata dan bibirnya.

Aku tidak ingin kau mengajakku untuk over dosis dalam menikmati indahnya bunga-bunga yang ramai di taman Versailles.

Petik saja satu yang abadi untuk kita kecup bersama harum kelopaknya.

Seperti Muhammad yang ingin terus mengingat Sang Khalik dengan Laparnya lalu bersyukur juga memuji dengan kenyangnya.

 

Saveti, 30 Agustus 2018

Reza Fauzi